Ditengah Cuaca Ekstrim, Petani di Sejumlah Daerah Panen Raya Jagung

Ilustrasi areal sawah tanam jagung

MONITOR, Jakarta – Sejumlah petani di Indonesia tak putus asa untuk menanam jagung, meski bulan Oktober lalu curah hujan masih rendah. Beberapa wilayah seperti di Sulut, Sumut, Jatim, Gorontalo dan Jateng justru masih aktif tanam jagung rata-rata sekitaran 200 ribu hektar.

Hasilnya, beberapa daerah justru menuai panen pada masa ini. Petugas Pelayanan Informasi Pasar dari di Kabupaten Bireun Provinsi Aceh, Deny, mengatakan kekhawatiran petani tentang kenaikan harga jual jagung karena stok langka justru tidak terbukti.

“Nyatanya dari laporan petugas informasi pasar yang berada di kabupaten masih menunjukkan rata-rata harga jagung di kisaran Rp 4.000 dengan kadar air 17% atau jagung yang sudah dikeringkan manual dengan sinar matahari selama 3-4 hari,” ujar Deny.

Ia mengatakan, harga jual jagung dari petani sebesar Rp. 4.100,- dengan kadar air 16%, harga jual jagung ini dinilai berada pada kisaran yang wajar dan tidak menunjukkan adanya kelangkaan jagung yang berarti di pasaran.

“Saat ini Bireun sedang masuk masa panen raya jagung dengan luas panen sebesar 6.000 hektar,” terangnya.

Contohnya di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara misalnya. Salah seorang petugas PIP Kabupaten Karo, Berty, melaporkan harga jual jagung tingkat petani sebesar Rp. 3.900,- dengan kadar air antara 25-30% atau jagung pipilan panen dan belum dikeringkan. Adapun jumlah lahan di Kabupaten Karo sudah siap panen seluas 9.000 hektar. Jumlah luas panen ini merupakan terbesar kedua pada masa tanam ketiga pada tahun 2019.

Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi membenarkan bahwa harga jagung masih stabil. Hal itu bisa dilihat dari harga jagung di tingkat petani masih aman berada dibawah harga Rp4.600.

“Saya kira masyarakat tidak perlu khawatir karena ketersediaan jagung di lapangan masih bisa mencukupi kebutuhan jagung di Indonesia,” ujar Suwandi.

Seperti yang disampaikan Mentan Syahrul Yasin Limpo meskipun cuaca ekstrem mempengaruhi pertanian, namun begitu tidak signifikan mengganggu produksi. Bahkan Kementan telah melakukan langkah antisipatif dan responsif. Suwandi pun meyakinkan untuk mengamankan produksi, apalagi saat ini sudah memasuki musim tanam maka Kementan mulai mengejar tanam bulan Januari ini.

“Kita kumpulkan semua Dinas Pertanian Kabupaten untuk bergerak bersama mulai kejar tanam bulan ini,” ujarnya.

Terkait laporan harga, dikatakan Suwandi laporan yang ada saat ini sifatnya realtime karena tiap hari diinput lewat aplikasi harga tani. “Jadi kami ada petugas di 245 kabupaten yang tiap hari melaporkan harga komoditas tanaman pangan,” ujarnya.

Menurut Suwandi langkah ini sebagai upaya monitoring Kementan terhadap fluktuasi harga di lapangan. “Kalau kita tahu secara riil bisa sebagai langkah untuk mengantisipasi gejolak harga,” sebutnya.