Target Pertumbuhan Nilai Ekspor Lebih Rendah, Edhy Prabowo Dinilai Realistis

MONITOR, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) periode 2019 – 2024 mentargetkan pertumbuhan nilai ekspor dalam Renstra RPJMN sebesar 6%. Target angka 6% lebih rendah dari target renstra periode 2015-2019 sebesar 10%-12%. Terkait dengan hal tersebut, banyak pengamat dan netizen menganggap Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Edhy Prabowo lemah dan tidak memiliki ekspektasi tinggi.

Namun, menurut pengamat ekonomi maritim yang juga Ketua Umum Front Nelayan Indonesia (FNI), Rusdianto Samawa angka target 6% ekspor itu rasionalisasi untuk tercapai. Karena konsep penyusunan RPJMN 2019 – 2024 yang tersusun saat Susi Pudjiastuti pada bulan Juni – Juli sudah digarap dianggap tak sesuai.

“Pada masa Edhy Prabowo pola penyusunan RPJMN 2019 – 2024 dibongkar dan dilakukan penyesuaian kembali. Tentu, tujuan penyesuaian untuk mempermudah tercapai angka ekspor,” katanya kepada MONITOR. Selasa (14/1/2020).

Menurut Rusdianto, target yang dipasang pada 2015-2019 sangat berat dan tidak mudah mencapainya. Sementara realisasi 2014 – 2019 saja angka ekspor KKP sangat anjlok.

Indikator anjlok ada beberapa yakni: 1). pelarangan 17 alat tangkap nelayan yang membuat hasil tangkapan menurun, tertuang dalam Permen 71 tahun 2016: 2). pelarangan kapal angkut ikan hidup dan pembatasan Gross Ton Kapal, tertuang dalam Permen 32 tahun 2014: 3). Perizinan kapal nelayan harus menempuh waktu 1 – 3 tahun dalam pengurusan izin melaut.

“Ketiga, indikator itu merupakan penyebab gagal target kenaikan ekspor era Susi Pudjiastuti. Masih banyak lagi penyebab lainnya, sekitar ada 17 regulasi yang paling membuat ekonomi ekspor perikanan era Susi Pudjiastuti ambruk,” tegasnya.

Akan tetapi, lanjut Rusdianto pada periode Edhy Prabowo yang tertuang dalam RPJMN 2019 – 2024 mentarget 6% dengan indikator rasionalisasi, yakni: 1). deregulasi seluruh 17 Peraturan Menteri yang bermasalah era Susi Pudjiastuti: 2). mendorong efektifitas perizinan yang permudah, sudah dirubah ke sistem SILAT: 3). penambahan armada dan modernisasi alat tangkap nelayan diberbagai Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) untuk tingkatkan hasil tangkapan sehingga harapan sejumlah perbaikan di bidang perikanan mampu menggenjot pertumbuhan ekspor.

“Kita review kembali kinerja ekspor produk perikanan Indonesia Januari – November 2017 lalu sebesar US$ 4,09 miliar dengan volume ekspor 979.910 ton atau naik 8,12% dibandingkan periode yang sama tahun 2016 lalu sebesar US$ 3,78 miliar. Jika dilihat tren 5 tahun ini naik 1,71% per bulan dengan kenaikan volume 1,63% per bulan. Kendati pertumbuhan ekspor perikanan bisa lebih tinggi dari kecenderung rata-rata pertumbuhan nilai ekpor dunia yang berkisar di angka 3%-4%,” ungkapmya.

Rusdianto menambahkan data Badan Karantian Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (NKIPM) tahun 2018 bahwa performa ekspor perikanan tercatat mengalami peningkatan sebesar 24% dari Rp32,649 triliun pada semester I/2018 menjadi Rp40,574 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Secara rinci, volume ekspor perikanan pada semester I/2018 adalah 39,335 juta ekor ikan konsumsi hidup, 379.986 ton ikan konsumsi non hidup, 2,006 miliar ekor komoditas non konsumsi hidup dan 16.467,44 ton ekspor komoditi non-konsumsi non-hidup,” ujarnya.

Adapun performa pada semester I 2019 untuk masing-masing komoditas dengan urutan yang sama adalah 40,697 juta ekor, 505.801,03 ton, 2,987 miliar ekor, dan 90.240,68 ton. Adapun, tahun 2020, KKP tingkat nilai ekspor perikanan tangkap mencapai US$5,5 miliar dari estimasi realisasi tahun lalu US$4,861 miliar.

Sementara, ekspor hasil perikanan budidaya perdana periode Januari tahun 2020 oleh PT Suri Tani Pemuka dan PT Iroga Sidat Indonesia senilai Rp13,3 miliar. Sejumlah produk yang diekspor seperti olahan ikan sidat, fillet dan loin, ikan tilapia serta pakan udang ke sejumlah negara seperti Jepang, Amerika, Filipina dan Timor Leste.

“Proses ekspor mulai 2017 hingga 2020 diatas dapat disimpulkan bahwa Edhy Prabowo sudah menunjukkan tingkat keberhasilannya untuk mencapai angka 6% tersebut. Padahal, saat ini kondisi neraca perdagangan nasional sedang defisit karena tantangan global. Sehingga patut diapresiasi langkah ekspor di awal tahun 2020 di tengah lesunya produk ekspor oleh Menteri KKP Edhy Prabowo,” ungkap Rusdianto.

Salah satu komoditas meningkat seperti nilai ekspor ikan sidat ke Jepang senilai Rp6,1 miliar, produk ikan pilapia senilai Rp3,4 miliar ke Amerika, Rp3,5 miliar ke Filipina serta pakan udang Rp300 juta ke Timor Leste. Tentu, ekspor pemerintah ke 14 negara diempat benua seperti Amerika, Eropa, Afrika dan Asia menambah devisa negara.

Tentu target ekspor perikanan nasioanal tahun 2020 sebesar US 6,47 miliar dolar per tahun. Sedangkan kurun waktu tahun 2019, target ekspor perikanan belum mencapai target dari US 5,4 miliar dolar hanya tercapai US 4,7 miliar dolar per tahun. Tentu target ekspor hasil perikanan US 6,47 miliar per tahun dimulai dari komoditas udang, tuna, rajungan, cumi-cumi, cakalang, kepiting, rumput laut, gurita, kakap, kerapu dan ikan air tawar seperti nila, sidat sebagai komoditas penyumbang ekpor terbesar baik dari sisi volume maupun nilai.

“Ini bentuk pemerintah mendorong tingkat ekspor. Apalagi ditengah neraca perdagangan mengalami defisit, tentu ekspor yang dilakukan Menteri Edhy Prabowo Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bisa menambal kelemahan ekonomi sala satu sektor,” pungkasnya.