Soleimani Tewas Terbunuh, Zuhairi Misrawi: Api Revolusi Iran Makin Kuat

Pejuang Iran menuntut kematian dari sang komandan Qassem Soleimani (dok: Reuters)

MONITOR, Jakarta – Pembantaian militer Iran dan terbunuhnya sang komandan militer utamanya, Mayor Jenderal Qassem Soleimani, dalam perang melawan Amerika membuat dukungan terus mengalir. Dukungan dari kelompok-kelompok dan aliansi yang dipimpin Iran di Timur Tengah pun bereaksi.

Tak hanya itu, gerakan perlawanan juga turut digaungkan oleh sejumlah negara kawasan mulai dari Yaman, Palestina, Libanon, Irak, dan Suriah untuk membela Iran.

Intelektual Muda Nahdlatul Ulama Zuhairi Misrawi menyebut kondisi Iran sekarang justru semakin kuat dan solid. Ia menilai, Iran berhasil membangun kekuatan di dalam negeri dan mengerahkan gerakan perlawanan di tengah embargo ekonomi.

“Belum lagi dukungan Rusia, China, Turki, dan Qatar,” kata Zuhairi Misrawi, Selasa (7/1).

Tragedi pembantaian yang dilakukan Amerika terhadap Iran, bagi Alumnus Universitas al-Azhar Kairo ini, justru memperkuat api revolusi Iran yang sudah lama bergema sejak tahun 1979 ini. Apalagi ditambah kematian sang komandan.

“Kemartiran Qassim Sulaiman dan para syuhada, menurut saya, justru memperkuat api revolusi Iran,” terang dia.

Ketua Pengurus Pusat Baitul Muslimin ini menilai, kekuatan Iran saat ini justru semakin lengkap dengan dukungan dari warga negara dan persenjataan yang lengkap. Ia meyakini, Iran akan memberikan balasan yang setimpal kepada militer AS, namun tidak untuk memusuhi warga negaranya.

“Iran tidak akan memusuhi warga AS. Iran hanya akan memberikan pembalasan yang setimpal terhadap elite dan militer AS karena mereka telah melampaui “garis merah” dengan menewaskan sosok pejuang Qassim Sulaiman,” jelasnya.

“Satu lagi, keyakinan pada Imam Mahdi yang akan menyertai langkah mereka. Doa-doa warga Iran itu puitis dan menggetarkan,” imbuhnya.