PEMERINTAHAN

Inas Zubir: Apa Betul Mafia Migas Hambat Pembangunan Kilang Minyak Indonesia ?

MONITOR, Jakarta – Politikus Hanura Inas N Zubir mengaku heran dengan pernyataan Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi yang mengatakan cara mafia Migas membuat Indonesia tidak bisa lepas dari impor minyak memang dengan menghalangi pembangunan kilang.

Bahkan, Fahmy mencurigai adanya kesengajaan untuk membuat rencana agar sejumlah investasi pembangunan kilang di Indonesia tidak berjalan mulus. Dengan tujuan, agar Indonesia gagal memiliki kilang minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Saya sangat heran dengan pernyataan Fahmy Radhi-red, yang mengatakan bahwa cara mafia Migas membuat Indonesia tidak bisa lepas dari impor minyak memang dengan menghalangi pembangunan kilang,” kata Inas dalam keterangan tertulisnya, Selasa (31/12) malam.

Inas melanjutkan, jika pernyataan tersebut sangat berbahaya, lantaran dapat membentuk pendapat dipublik bahwa dengan dibangunnya kilang minyak, maka Indonesia berhenti impor.

“Pernyataan tersebut sangat sesat, karena masyarakat akan berpendapat bahwa dengan dibangun-nya kilang minyak maka Indonesia dipastikan akan berhenti import minyak!”tegasnya.

Inas mengungkapkan bahwa lifting nasional minyak mentah Indonesia untuk tahun 2019 hanya 775 ribu barel per hari, dan diperkirakan tidak akan mencapai target. 

Padahal, sambung dia, konsumsi domestik sekarang ini sudah mencapai 1.55 juta barel per hari, sehingga shortage-nya bisa lebih dari 775 ribu barel per hari.

Sehingga, imbuh dia, kekurangan tersebut akan ditutupi dengan impor minyak mentah misalnya untuk tahun 2019 kurang lebih 350 ribu barel per hari dan juga BBM kurang lebih 325 ribu perharinya.

“Ada yang tidak diperhitungkan oleh Fahmy Radhi adalah jika kilang minyak selesai semuanya dibangun maka memang betul impor BBM akan berkurang sama sekali atau bahkan tidak ada sama sekali,”ujarnya.

“Tetapi untuk feeding kilang yang baru maka impor minyak mentah akan bertambah besar karena kemampuan lifting nasional yang masih jauh dari kebutuhan nasional,”pungkas mantan wakil ketua komisi VI tersebut.

Recent Posts

BM PAN Konsolidasikan Pengurus 2026–2031, Slamet Ariyadi Serukan Satu Komando

MONITOR, Jakarta - Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) menggelar Meet and Greet Pengurus…

3 menit yang lalu

Kekerasan OPM Tewaskan Sopir Angkutan Masyarakat, TNI Perkuat Pengamanan Dan Kejar Pelaku

MONITOR, Jakarta - Kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali melakukan aksi kekerasan terhadap masyarakat…

2 jam yang lalu

Kementerian UMKM Dampingi Usaha Menengah Menuju IPO melalui RISE TO IPO 2026

MONITOR, Jakarta – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus mendorong usaha menengah untuk…

2 jam yang lalu

Prof Rokhmin Dahuri Tinjau Industri Perikanan Modern China, Dorong Penguatan Ekonomi Biru Indonesia

MONITOR, QINGDAO, CHINA - Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin…

5 jam yang lalu

Wamenaker Tekankan Kompetensi SDM dalam Pengelolaan Risiko Microbanking

MONITOR, Jakarta – Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menegaskan pentingnya kompetensi sumber daya manusia…

7 jam yang lalu

Belajar dari Nursyahwa, Hafizhah 30 Juz Disabilitas Netra Peserta MTQ Nasional, Dekat dengan Al-Qur’an Sejak Usia 7 Tahun

MONITOR - Bagi Nursyahwa Syakila, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan. Sejak usia 7 tahun, ayat-ayat Al-Qur’an…

15 jam yang lalu