Era Industri 4.0, IPW: Ironis Jika Polri Malah Asyik Melebarkan Organisasinya

Irjen Listyo Sigit melakukan serah terima jabatan sebagai Kabareskrim Polri (dok: Antara)

MONITOR, Jakarta – Ind Police Watch (IPW), memberikan catatan akhir tahunnya untuk institusi kepolisian khususnya dalam menghadapi era milenium saat ini yang ditandai dengan revolusi industri 4.0.

Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, menyebutkan di era milenium seperti saat ini, organisasi sepeti kepolisian harus bisa merubah struktur organisasinya dengan mengikuti perubahan jaman yang begitu pesat dengan masuknya era digital.

Neta juga berharap Presiden Jokowi mendorong Kapolri Idham Azis agar segera mengarahkan kepolisian Indonesia menuju Polri 4.0, sehingga Polri tidak asyik sendiri melebarkan organisasinya dengan euforia penambahan jenderal disana-sini, sehingga jumlah jenderal Polri membludak seperti sekarang ini.

“IPW pun menilai, langkah Presiden Jokowi menghapus sejumlah eselon di departemen seharusnya diikuti juga dijajaran kepolisian. Bagi IPW sangat ironis jika presiden akan menghapus sejumlah eselon di departemen, sementara Polri asyik melebarkan organisasinya, seperti menjadikan Brimob dan Humas dipimpin jenderal bintang tiga dan penambahan Kapolresta dipimpin Kombes,” kata Neta melalui keterangan tertulisnya. Minggu (22/12/2019).

Menurut Neta, saat ini polri sudah tak perlu lagi mengedepankan banyaknya jumlah personel. Sudah saatnya polri mengedepankan technologi (IT).

“Kalau Polri masih mengedepankan jumlah personil, tentunya sudah ketinggalan zaman dan menjadi beban berkepanjangan bagi organisasi. Rasio 1:750 milik Polri yang mengacu pada rasio PBB sudah tidak rasional lagi. Negara negara maju dan modern tidak lagi memakai rasio tersebut,” terangnya.

Neta menambahkan disejumlah negara berkembang dan maju, justru jumlah polisi dikurangi secara signifikan dan kekurangan personil ditutupi dengan IT, sehingga CCTV menjadi mata kepolisian dimana mana.

“Dengan CCTV dimana-mana, polisi modern bisa bereaksi cepat dan 15 menit tiba di TKP. Teknologi menjadi andalan kepolisian dalam melindungi masyarakat,” tegasnya.

Dengan berkembangnya konsep Polisi 4.0, kepolisian di negara-negara maju tidak lagi menggeber rekruitmen polisi secara besar besaran.

Dibeberkan Neta, saat ini polri setiap tahunnya kurang lebih merekrut 9.500 anggota baru, yang 300 di antaranya untuk Akpol. Akibatnya, terjadi penumpukan personil kepolisian. Jumlah Kombes yang menganggur kian banyak.

“Belum lagi jumlah AKBP yg menganggur lebih dari tiga kali lipat. Akibat hal ini saat lengser sebagai Kapolri, Tito Karnavian minta maaf akibat banyaknya jumlah Kombes nganggur. Demua terjadi karena polri belum mengubah konsepnya sebagai polisi modern,” ungkap Neta.

“Dikita kata-kata modern hanya dijadikan retorika dan belum dilaksanakan secara benar dan serius. Kesadaran untuk mengembangkan Polri 4.0 belum tercipta. Akibatnya, organisasi Polri kian tambun dan sulit bergerak serta tidak lincah dalam melindungi masyarakat,” tandasnya.

Dalam kondisi ini, jalan pintas pun diambil para elit Polri. Banyaknya jumlah Kombes disikapi dengan penambahan sejumlah struktur baru, dengan pangkat Brigjen, Irjen hingga Komjen. Selain itu, para jenderal Polri didorong bertugas ke luar institusi kepolisian. Sehingga jenderal polisi kian banyak dan ada dimana mana. Indonesia pun seakan menjadi negara polisi.

Di sisi lain anggaran Polri yang terus bertambah setiap tahun tersedot untuk tunjangan dan fasilitas para jenderal yang terus bertambah jumlahnya.

“Situasi buruk di Polri ini harus disudahi. Reformasi Polri harus dikembalikan kekhittahnya agar melahirkan Polri yang efisien, efektif, profesional, modern, dan terpercaya. Bukan Reformasi Polri yang melahirkan jenderal dimana mana,”terangnya.

Sebab itu, melahirkan Polri 4.0, Presiden Jokowi sebagai Panglima Tertinggi Polri harus segera mendorong Kapolri Idham Azis melahirkan Polri modern.

Selain itu untuk menyikapi kelebihan Kombes dan AKBP, penerimaan Akpol perlu dimoratorium dua atau tiga tahun ke depan. Lalu ditawarkan pensiun dini kepada para Kombes yang sudah “mentok”.

“Setelah itu organisasi Polri dirampingkan dan kinerja kepolisian ditata ulang menuju polisi yang efisien, efektif, Profesional, modern dan terpercaya, dengan IT dan CCTV dimana-mana sebagai pengganti polisi manusia,” katanya.

Sebab, lanjut Neta makin banyaknya polisi manusia di lapangan persoalan bukannya cepat selesai tapi makin banyak persoalan baru dan rumit, yang membuat konsep profesional, modern dan terpercaya Polri diragukan banyak pihak.

“Untuk itu di tahun 2020, Polri perlu serius menata organisasinya, mengevaluasi SDM dan alutsistanya untuk kemudian dibuat grand desain menuju polisi modern yang Polri 4.0. Sehingga Polri Promoter benar adanya dan bukan sekadar promoter yang diplesetkan menjadi promosi orang orang tertentu,” pungkasnya.