Apresiasi Gatot Eddy jadi Wakapolri, IPW Kritik Pergantian Kapolda Metro Jaya

Ketua Presidium IPW Neta S Pane (foto; Sapto Fama/ Monitor)

MONITOR, Jakarta – Ind Police Watch (IPW) memberi apresiasi pada Kapolri Idam Azis yang mengangkat Irjen (Pol) Gatot Eddy sebagai Wakil Kepala Polri (Wakapolri). Ketua Presidium IPW, Neta S Pane mengatakan Kapolda Metro Jaya tersebut sangat pantas menjadi orang nomor dua di korps bhayangkara itu.

“Ada tiga alasan kenapa Gatot pantas menjadi Wakapolri. Pertama, dia pernah dijagokan internal polri untuk menjadi Kapolri. Kedua, prestasi di pendidikan kepolisian dia cukup menonjol. Ketika PTIK dan Sespim, Gatot selalu bersaing dgn Tito Karnavian. Tito peringkat satu dan Gatot peringkat dua. Ketiga, saat proses pilpres 2019 sbg Kapolda metro jaya Gatot “cukup berdarah darah” mengamankan ibukota yg bolak balik diterjang aksi demo yg diwarnai kerusuhan,” ujar Neta dalam keterangan tertulisnya di Jakarta. Jum’at (20/12/2019).

Menurut Neta, di era Gatot sebagai Kapolda Metro Jaya, capres 01 Jokowi berhasil menang 4 persen mengalahkan capres 02 Prabowo. “Padahal saat itu capres 02 sangat dominan dan mendominasi ibukota,” ungkapnya.

Di sisi lain, lanjut Neta hubungan Kapolri dan Gatot cukup dekat sejak lama dimana Idham memimpin Satgas Merah Putih dan Gatot memimpin Satgas Nusantara. Bagi IPW, Tito, Idam dan Gatot adalah sahabat tiga serangkai. “Mereka selalu terlihat bersama sama di saat senggang saat Tito menjadi Kapolri,” tambahnya.

Neta menambahkan, di Polda Metro Jaya, selama memimpin Gatot berhasil menjaga keamanan ibukota menjadi kondusif. Meski demikian, Neta sendiri mengkritisi pengganti Gatot yakni Kapolda NTB, Irjen (Pol) Nana Sujana.

“Saat Jokowi menjadi walikota solo, Nana saat itu menjadi Kapolresta Solo. Prestasi Nana relatif biasa dan tidak ada yg menonjol. Tampilnya Nana sbg Kapolda metro menunjukkan Jokowi semakin hendak menonjolkan “geng solo” di polri,” katanya.

“Setelah Kapolresta solo naik super ekspres menjadi Wakil Kapolda Jateng, lalu Sigit mantan Kapolresta solo menjadi Kabareskrim dan kini mantan Kapolresta solo Nana menjadi Kapolda Metro,” tegasnya.

Adapun tantangan berat yang harus dihadapi Nana di Polda Metro menurut Neta adalah kemacetan lalu lintas yang luar biasa. “Soal lalulintas ini perlu menjadi prioritas Nana. Selain itu kasus narkoba yg terus melonjak. Lalu ancaman terorisme dan aksi demo, terutama dari kelompok radikal, sehingga Nana perlu aktif melakukan pendekatan kepada para ulama dan komunitas keagamaan, seperti yg dilakukan Gatot selama ini. Sedangkan kriminal lainnya di wilayah hukum Polda metro masih tergolong wajar,” pungkas Neta.