Pengamat ini Pesimis Jakarta Bisa Jadi Juara Umum di PON Papua 2020

Atlet panjat tebing (foto: ist)

MONITOR, Jakarta – Masyarakat Pemantau Olahraga Jakarta (MPOJ) Sofwan Sulthan, menyatakan rasa pesimisnya, kalau Jakarta bisa juara dalam ajang Pekan Olah Raga Nasional (PON) di Papua.

Rasa pesimis ini dilontarkan, Sofwan ketika melihat persiapan KONI DKI dalam menyiapkan atlit-atlitnya yang akan diberangkat ke PON.

“Saya denger KONI nya saja ngeluh hanya diberi dana hibah Rp 217 Miliar di APBD,”ujar Sofwan dalam keterangan tertulisnya, Jum’at (6/11).

Menurut Sofwan, memang berat target juara umum kalau tidak ditunjang dengan persiapan dan tunjangan anggaran yang memadai.

“Apalagi pelaksanaan PON jauh di Papua. Biaya akomodasi sudah pasti tinggi. Tiket pesawat yang paling murah bisa mencapai Rp 5-6 juta,”ujarnya.

Apalagi, DKI Jakarta diperkirakan akan memberangkatkan sekitar 1500 orang terdiri dari, atlet, pelatih dan aspel serta official kontingen.

“Kebutuhan pembinaan prestasi olahraga memang tidak murah. Biasanya, induk olahraga provinsi yakni KONI selain memberikan honor ke atlet, pelatih dan aspel serta para bibit atlet (Lapis II) juga harus melakukan Training Camp (TC) baik di dalam negeri maupun luar negeri,”jelasnya.

Sebelum TC, para atlet biasanya sudah dipusatkan pada pelatihan daerah atau pelatda. Dari hasil kajian MPOJ menyebutkan, pada PON Riau 2012, KONI DKI Jakarta mendapatkan sekitar Rp 321 miliar dan berhasil menjadi juara umum menumbangkan Jawa Timur, Jawa Barat serta Jawa Tengah.

Saat PON Jawa Barat pada 2016, KONI DKI Jakarta hanya mendapatkan Rp 200 miliar dan berada diperingkat ketiga di bawah Jawa Barat dan Jawa Timur.

“Artinya dana pembinaan atlet prestasi menjadi dominan. Apalagi kabarnya pesaing Jakarta seperti Jawa Barat dan Jawa Timur dapat dana hibah lebih besar sekitar Rp 400 miliar,” tegasnya.

Anggaran besar yang digelontorkan Jawa Barat dan Jawa Timur belum ditambah dengan anggaran hibah di KONI kabupaten dan kota.

T”Ini bahaya, kalau Jakarta hanya dapat Rp 271 miliar maka paling hebat peringkat empat di bawah Jawa Timur, Jawa Barat dan tuan rumah Papua,” ungkap aktivis olahraga Jakarta ini.

Data dari tiket online pada Kamis (5/12) menyebutkan, untuk penerbangan Jakarta ke Jayapura, Papua dengan maskapai Lion Air sekitar Rp 5,8 juta per orang. Jika naik Garuda Indonesia sekitar Rp 10 juta per orang.

“Harga ini pasti akan naik lagi ketika PON. Karena akan ada ribuan kontingen dari berbagai provinsi menuju Papua. Belum lagi biaya hotel, makan, kendaraan antar jemput atlet dan posko serta lainnya,” beber Sofwan.

Diketahui, sejak Oktober 2019, honor atlet dan pelatih serta aspel di Jakarta sudah naik. Atlet dari Rp 4,5 juta menjadi Rp 7,5 juta, pelatih dari Rp 6 juta menjadi rp 9 juta.

Lalu, asisten pelatih atau aspel dari Rp 4.750.000 menjadi Rp 7.750,000 juta. Kenaikan ini belum terhitung pajak.

Kenaikan itu belum ditambah dengan anggaran ekstra puding atau vitamin yang masing-masing atlet, pelatih dan aspel menerima Rp 1 juta per bulannya.

Sekedar diketahui, KONI DKI mengajukan anggaran Rp 387 miliar dan sudah disepakati oleh DPRD DKI Jakarta. Tapi dalam pembahasan RAPBD menjadi Rp 271 miliar.