Aksi Ekstrimisme Mengalami Pergeseran, Banyak Wanita jadi Martir Bom

Direktur The Asian Muslin Action Muslim (AMAN) Indonesia, Ruby Kholifah

MONITOR, Malang – Aksi ekstremisme meningkat secara signifikan sejak 2002 di Asia Pasifik. Filipina disebut sebagai negara yang paling terdampak di kawasan tersebut. Hal tersebut diambil dari data Indeks Terorisme Global (GTI) yang dirilis oleh Institute for Economics and Peace (IEP). Bahkan, Asia Selatan memiliki dampak tertinggi dari serangan teroris mana pun pada 2016. 

Di Indonesia, aksi ekstremisme mulai melakukan pergeseran. Banyaknya jumlah perempuan sebagai martir bom kekinian sebagai tanda jika perempuan memegang pesaranan penting dalam agenda ekstremisme. Tercatat, hingga 2019 ada 10 orang perempuan sebagai pelaku terorisme. 

Menurut Direktur The Asian Muslin Action Muslim (AMAN) Indonesia Ruby Kholifah, keadaan ini pun terjadi di wilayah Asia Pasifik lainnya. Untuk itu, AMAN Indonesia menggelar Indonesia Peacebuilder Forum 2019 mengundang 300 perwakilan yang datang dari wilayah Asia Pasifik dengan beragam latar belakang mulai dari pembuat kebijakan, organisasi non-pemerintah, Perguruan Tinggi, media, sektor swasta, Badan PBB, lembaga ASEAN hingga pemimpin agama.

”Meningkatnya jumlah wanita yang menjawab panggilan jihad sangat diduga karena narasi gender yang disebarkan oleh ISIS memiliki efek rasa diakui pada wanita yang dalam kehidupan mereka tidak pernah dianggap atau dihitung. Ketika dia mengambil peran sebagai pembom bunuh diri, dia akan disembah dalam kelompoknya sebagai pahlawan, “ tegas perempuan pemenang N-peace Award 2016 melalui rilis, Selasa (5/11/2019).

Perempuan, lanjut dia, yang hidupnya tidak pernah memutuskan untuk mereka apa yang terbaik untuk hidup mereka akan merasakan perasaan mendapatkan kekuasaan. Begitu juga dengan kontrol ketika membuat keputusan untuk berpartisipasi dalam jihad qital tanpa harus meminta restu dari orangtua atau suami.

”Untuk itu, kami percaya bahwa keterlibatan yang produktif dengan wacana tentang kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di PVE akan memberikan dasar yang lebih baik tentang akar penyebab keterlibatan perempuan dalam faktor-faktor ekstremisme,” ungkapnya

Atas semua latarbelakang hal tersebut, Indonesia Peacebuilder Forum 2019 akan dilaksanakan di Malang  26 – 28 November 2019. Agenda tersebut dilaksanakan atas kerjasama AMAN Indonesia dengan Universitas Brawijaya Malang. Acara ini rencananya menghadirkan lebih dari 15 pakar di bidang berdamaian dan ekstremisme se-Asia Pasifik, di antaranya adalah Azyumardi Azra , Amalina Abdul Nasir (Singapore) dan Melisa Johnson (Australia).

Dia menjelaskan jika agenda ini bukan kali pertama dilaksanakan. Pada 2017, AMAN bersama Action Asia melaksanakan agenda serupa dengan tema “Pencegahan Kekerasan Ekstremisme melalui Perspektif Peacebuilding” dengan menghadirkan 15 pakar di bidang berdamaian dan ekstremisme se-Asia Pasifik, di antaranya adalah Azyumardi Azra , Simon Park (UNODC) dan Amina Rasul (Filipina).