Geliat Mahasiswa Pasca Pesta Demokrasi

Mahasiswa FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta Rizqi Saragih (dok: ist)

Oleh: Rizqi Saragih*

“Dalam perang anda hanya bisa dibunuh sekali, tetapi di dalam dunia politik bisa berkali-kali” –Winston Churchill.

Politik bukan sekadar partai. Dalam politik ada kompetisi, pertarungan atau fighting, dan harus ada pihak yang kalah dan menang. Pada perspektif ini, panggung politik adalah arena kontestasi, dimana para kontestan saling beradu dan berlaga layaknya pertandingan. Institusi politik inklusif terbuka dan plural, elite penguasa dibatasi mekanisme checks and balances, rule of law pun hadir melindungi segenap warga Negara. Cirinya, ada jaminan hak milik dan patent.

Political science merupakan cabang ilmu sosial, ia telah menjadi kajian tersendiri, dimana politik ditelaah perspektif keilmuan. Kajian ilmu politik dilakukan dengan metodologi keilmuan dan subtema-subtema yang bermacam-macam dari aspek teoritik hingga pemikiran. Sementara, politik bisa juga dikatakan sebagai seni kemungkinan, singkatnya, meringkaskan pengertian bahwa apa yang tidak mungkin bisa, menjadi mungkin karena terkonsepsionalis pada diplomasi, negosiasi, koalisi, serta kampanye.

Usai menyaksikan pesta Demokrasi terbesar di Indonesia pada April 2019 lalu, mahasiswa selayaknya mampu hadir berperan dalam pengawasan, pengabdian, dan memberi dampak positif terhadap bangsa dan negara. Dalam sejarahnya di dunia politik, mahasiswa terbukti mampu menjadi pelopor dalam sejarah Bangsa. Misalnya, di era orde baru, kelompok mahasiswa berperan sebagai penggagas perubahan, melumpuhkan kediktatoran sebuah rezim dan membawa Indonesia ke dalam suatu era yang saat ini sedang bergulir, yakni era reformasi. Hal ini menunjukkan, pendidikan politik baik formal maupun informal sangat penting bagi mahasiswa.

Dalam proses pembelajaran politik, mahasiswa tak melulu harus terjun ke partai politik tertentu seperti halnya politikus. Namun, mereka bisa mengekplorasi bakat politik melalui ruang organisasi. Harus diakui, kualitas mahasiswa yang aktif berorganisasi akan lebih unggul dibandingkan mereka yang tidak mengikuti organisasi, sebab mereka akan mendapatkan tempaan ilmu baru di luar bangku perkuliahan pada umumnya. Lalu seperti apakah sikap para Mahasiswa dalam terlaksananya demokrasi yang kemarin berhasil mengegerkan publik?

Sebagai generasi penerus bangsa, mahasiswa sudah semestinya berpikir secara kritis dan bertindak secara konkret demi perubahan bangsa kearah yang lebih baik. Kampus sebagai tempat diibaratkan sebagai sebuah miniatur Negara, yang didalamnya terdapat sistem pemerintahannya masing masing. Layaknya BEM, DPM, dan UKM  sebagai pusat kegiatan bagi para mahasiswa untuk berorganisasi di kampus, secara tidak langsung telah menerapkan nilai nilai politik didalamnya yaitu berupa demokrasi.

Melalui wadah ini, mahasiswa harusnya berperan lebih aktif dan kritis terhadap persoalan-persoalan yang ada ditengah masyarakat. Lebih jauh, mahasiswa dapat menyalurkan aspirasi dan opininya mengenai situasi yang terjadi di kampusnya, baik internal maupun eksternal. Lewat organisasi juga, tingkat kepedulian dan kepekaan mahasiswa terhadap kondisi lingkungan dan persoalan-persoalan di sekitarnya lebih dipertajam, ini yang berkesinambungan dengan kondisi sosial dan politik kita saat ini.

Kontrol moral juga penting menjadi tugas semua elemen sosial kemasyarakatan, termasuk mahasiswa. Mereka diharapkan mampu bertindak sebagai control moral untuk menganalisis kondisi sosial yang terjadi ditengah masyarakat. Analisis yang digunakan tidak serta merta terjadi begitu saja tetapi tentunya melalui beberapa mekanisme yang ditandai munculnya kesadaran pribadi, kesadaran etis, sehingga menimbulkan kesadaran kolektif yang terjadi dalam sistem sosial secara keseluruhan.

Peran mahasiswa dalam kaitannya dengan iron stock adalah menanggung nilai etis sebagai penyandang predikat “mahasiswa” secara bahasa maha yang artinya tinggi dan siswa adalah terpelajar. Sudah menjadi kebenaran absolut bagi yang menyandang predikat mahasiwa.

Mendapat status sebagai mahasiswa pada tahun politik seperti sekarang ini, dapat menjadikan kita sebagai santapan bagi para elite politik. Situasi “menambah uang jajan” akan menghadapkan kita sebagai mahasiswa dengan pilihan maukah kita berbagai tawaran pekerjaan mulai dari lembaga survey, partai pengusung, bahkan tim sukses pasangan calon. Dunia kampus seharusnya merupakan dunia yang membebaskan diri sendiri atau bahkan berkumpul dengan orang-orang yang sepemahaman dengan kita. Paham-paham yang kemudian di idealkan ini akan turut mempengaruhi seorang dalam menentukan sebuah gerakan tidak terkecuali sosok yang diharapkan menjadi “agent of change” di lingkungan sekitar dalam menghadapi tahun pesta demokrasi.

Di tahun politik ini, sudah seharusnya mahasiswa kembali mempertanyakan idealisme dari sebuah gerakan. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya partisipasi politik partisan khususnya di kalangan para pejabat lembaga kemahasiswaan. Menjadi elit mahasiswa yang punya kuasa dalam menentukan arah kebijakan kampus serta memiliki pengaruh yang cukup diperhitungkan di tataran sesama, tentu dapat menjadi modal utama untuk dipertimbangkan dalam mendulang suara bagi kalangan tertentu yang terlibat dalam kontestasi politik.

Selanjutnya sebagai Moral Force, yakni mahasiswa harus menjadi sumber kekuatan moral ditengah masyarakat. Terlebih, menghadapi tahun politik yang penuh dengan intrik dan praktik kampanye yang tidak mencerdaskan rakyat, harusnya mahasiswa dapat bersikap dan mengambil keputusan. Misalnya, membantu masyarakat untuk memahami kepentingan dan mendapatkanh hak yang sebagaimana harusnya mampu dilakukan oleh mahasiswa dalam memberikan pendidikan politik yang manusiawi di dalam lingkungan masyarakat.

Oleh karena itu, di tahun politik ini, mahasiswa sebaiknya memilah terlebih dahulu berbagai informasi yang ada. Termasuk informasi yang beredar di media sosial. Informasi yang didapatkan setiap menit maupun detik sebaiknya terlebih dahulu melalui berbagai kajian yang mendalam untuk menarik sebuah kesimpulan. Kontribusi mahasiswa di tahun politik saat ini hendaknya mengambil tindakan yang betul-betul melalui pengkajian mendalam terlebih dahulu untuk menarik suatu kesimpulan.

Sebagai seorang mahasiswa yang berlatar belakang ilmu sosial dan ilmu potik, misal idealnya ikut andil dalam ajang lima tahunan ini. Ada bebrapa peran yang bisa dilakukan sebagai seorang akademisi sejati. Pertama, semua sepakat bahwa Pemilu dan Pilkada telah menjadi wadah aspirasi politik warga negara, khususnya mahasiswa. Namun pada praktoknya, ada banyak kecurangan-kecurangan yang terjadi di tengah pesta demokrasi ini.

Maka oleh karena itu, mahasiswa bisa mengambil peran dalam Pilkada untuk mensistemasi dalam mengorganisir para pemilih untuk menjadi cerdas, dan memberikan pengetahuan berupa pemahaman melek politik, bukan untuk terjun langsung tetapi sebagai influencer yang cerdas untuk perpolitikan di Indonesia.

Mahasiswa sebagai generasi pemimpin bangsa yang akan datang selayaknya sudah harus berpikir kritis dan bertindak secara nyata demi perubahan bangsa kearah yang lebih baik, mengingat mahasiswa sebagai Agent of Change. Kata-kata itulah yang mendasari potensi kuat untuk mahasiswa berperan lebih aktif serta kritis terhadap persoalan-persoalan yang ada.

Mahasiswa sebagai agen perubahan bangsa harus mengambil sikap dan bergerak cepat dalam merespon keadaan ligkungannya, bukan hanya lingkungan saja tetapi keadaan negara juga. Selain mendapatkan hak pendidikan yang layak, mahasiswa juga berhak dalam menyuarakan pendapatnya, umumnya seluruh warga negara. Berpikir sebelum bertindak, mengenali dan mengetahui semua calon kandidat sebelum memilih. Tentunya tidak mudah terbuai dengan tarian politik di panggung demokrasi, terlebih sekarang banyak yang menggunakan kedok tertentu untuk mengambil perhatian massa, layaknya hoax yang sering sekali terjadi dan tersebar dimana-mana.

Suara mahasiswa menjadi bagian dari suatu aspirasi masyarakat yang gerah di kala pemilu menyapa. Soe Hok Gie telah mengajarkan kita sebagai mahasiswa harus memiliki pendirian yang teguh dan kokoh melawan arus. Hidup ini ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus, namun saya memilih untu menjadi manusia yang merdeka, berpikir kritis dan menolak untuk menjadi mahasiswa yang kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Tidak sekedar pandai berbicara dalam teori namun mampu memberikan perubahan yang nyata bagi bangsa. Karena rakyat tidak butuh nilai, rakyat hanya membutuhkan gebrakan yang nyata untuk suatu perubahan yang lebih berharkat dan bermartabat.

Mengingat setelah kemarin dengan maraknya pesta demokrasi yang ada di negara Indonesia maka bisa kita lihat kembali bahwa mahasiswa merupakan social and political controller, yang yakni bisa memberikan peran sebagai pengawas kegiatan demokrasi di tengah masyarakat serta mahasiswa juga menjadi the guardian of value.

Dan setelah pesta demokrasi terlaksana, mahasiswa sampai saat ini masih melakukan responden dam monitoring khusus untuk tetap memilah milih pergerakan pemimpinnya, terlepas dari apapun persoalan bangsan dan negara saat ini. Sebagai social control tidak menutup kemungkinan bahwa kami tetap berada di posisi rakyat untuk mensejahterakan bangsa dan demi kemaslahatan bersama. Melihat keadaan sosial politik di Indonesia yang semakin miris, tentunya diperlukan suatu perubahan. Perubahan yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia. Dan dalam hal ini peran pemudalah yang sangat dibutuhkan, khususnya peran mahasiswa. Karena mahasiswa merupakan aktor dalam pembangunan dan perubahan. Oleh karenanya untuk menumbuhkembangkan itu diperlukan suatu peran mahasiswa dalam sosial politik, untuk sama-sama bergerak dalam satu tujuan yaitu membuat Indonesia maju, membuat perubahan bangsa ini menjadi baik dan lebih baik lagi.

Selain menuntut ilmu di kampus, tugas mahasiswa memang mengingatkan bila pemerintah tak pro rakyat. Hanya saja, persoalannya jadi sedikit ruwet bila demo berlangsung di tahun politik berlangsung seperti kemarin. Saat ini, banyak masyarakat yang berpandangan bahwa semua hal yang berkaitan dengan dunia politik itu tidak baik. Politik dikonotasikan sebagai penipuan, kebohongan, akal-akalan, permusuhan, atau hal-hal yang semuanya itu bisa berakibat buruk. Masyarakat menganggap bahwa semua orang yang masuk dalam dunia politik itu akan menjadi kotor, jauh dari kebaikan dan akan bertindak tidak sesuai dengan peri kemanusiaan. Meskipun sebenarnya tidak semua tentang politik itu buruk, tetapi pemikiran mereka sudah terlanjur bengkok, sehingga sulit untuk dirubah. Mereka akan selalu mengatakan bahwa semua hal yang berkaitan dengan politik itu harus dijauhi. Itulah yang mengakibatkan terjadinya penurunan dan ambruknya kepercayaan masyarakat mengenai politik.

Masyarakat dinilai sudah tidak percaya lagi pada politik. Semakin sering mengikuti berita politik, kepercayaan masyarakat pada kehidupan politik semakin ambruk. Direktur Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai, intensitas masyarakat dalam mengikuti berita politik turut mempengaruhi buruknya perspektif masyarakat terhadap politik. Jadi dapat dikatakan bahwa mengikuti berita politik ini adalah salah satu faktor penyebab dari buruknya pandangan masyarakat mengenai dunia perpolitikan itu sendiri.

Tidak hanya berdasarkan informasi yang disebarkan melalui surat kabar atau televisi, tetapi juga melalui media online atau jejaring sosial, 72 persen responden menyimpulkan bahwa politisi cenderung berbicara tentang kebaikan dirinya. Selain itu, masyarakat pesimistis bahwa politisi akan memenuhi janji politiknya, dan menuding politisi sebagai sekumpulan orang yang mengejar keuntungan pribadi. Merujuk pada hal ini, seharusnya kita sebagai masyarakat harus bisa memahami dan memberikan tenggang waktu bagi para politisi untuk memenuhi semua janji-janjinya. Sebaiknya kita yang menjadi pengiring mereka dalam rangka mewujudkan apa yang pernah Ia janjikan, mewujudkan apa yang pernah menjadi keinginan dan cita-cita bersama. Selain itu, perlu kita ketahui bahwa dalam dunia ini tidak ada sesuatu yang instan, untuk berubah ke ranah yang lebih baik tentunya juga pasti membutuhkan waktu.

Dan lagi-lagi sebagai penyandang ststus sebagai Mahasiswa, tentu harus membenahi, meluruskan pemikiran masyarakat tentang hal tersebut. Mahasiswa juga harus berpikir lebih kritis dan mampu memberikan solusi yang baik untuk menyikapi hal semacam ini. Kita tidak boleh memandang dunia perpolitikan itu hanya dari sisi buruknya saja dan berpikiran bahwa dunia politik itu kurang baik atau kotor. Karena kotor atau bersihnya politik itu tergantung pada oknum-oknum yang ada di dalamnya. Jika oknum-oknumnya berlaku baik, maka politik itu juga akan baik, pun sebaliknya jika oknum yang ada di dalamnya berlaku tidak baik maka secara otomatis politik itu akan ikut menjadi tidak baik pula.

Hemat penulis, politik bukanlah hal yang harus kita jauhi, tetapi sebaiknya kita sikapi dengan pemikiran yang lebih jernih dan lebih dewasa. Kita tidak boleh memandang politik hanya dari satu sisi, karena semua yang ada di dunia ini memiliki dua sisi yang berbeda, ada baik dan ada buruk. Oleh karena itulah lagi dan lagi mahasiswa harus bisa menyikapi hal-hal yang kiranya kurang berkenan tentang apa yang sebaiknya dilakukan dengan respondensasi yang sangat cepat dan tepat.

*Penulis merupakan Mahasiswa FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta