RMI: Jokowi Kualat Jika Tidak Melihat Aspirasi NU

5314
Presiden Jokowi saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahladul Ulama ke-2, di Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu (27/2).

MONITOR, Jakarta – Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU, Ridwan Darmawan mengaku kecewa terhaadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tidak mengakomodir Perwakilan Nahdlatul Ulama (NU) dalam komposisi menteri di periode kedua mendatang.

“Kami merasa kecewa dengan komposisi yang beredar hari ini, apalagi kita menurut informasi yang beredar Menteri Agama (Menag) bukan dari NU, malah dari kalangan militer,” ujar Ridwan kepada media di Jakarta, Selasa (22/10).

Seharusnya, sambung Ridwan, kontribusi warga NU dan para Masyayikh NU dalam memenangkan Jokowi-Kiai Ma’ruf dalam Pemilu 2019 lalu sangat besar. Karenanya, menurut dia, sudah seharusnya pos menteri agama diperuntukkan kader NU.

“Kita sama-sama ketahui, masyayikh dan para tokoh NU turun gunung untuk memenangkan Pak Jokowi. Pak Jokowi mestinya takdzim dengan beliau-beliau. Ingat Jas Hijau, jangan sekali-kali hilangkan jasa ulama,” ungkap Ridwan.

Oleh karena itu, kata Ridwan, komitmen presiden untuk memberikan posisi menteri agama kepada kader NU harus dapat direalisasikan dalam penyusunan kabinet Jokowi jilid kedua ini. Apalagi, menurut dia, banyak kader NU yang pantas menjabat sebagai menteri agama, baik yang menjadi pengurus NU maupun yang bertebaran di berbagai partai politik.

“Di NU sangat banyak pengurus dan tokoh yang berkualitas untuk mengisi pos menteri agama. Pak Jokowi bebas memilih, asal kader NU dan dekat dengan ulama, jika tidak diberikan ke NU saya yakin Presiden Jokowi bisa kualat,” tegas Ridwan.

“Pak Jokowi semestinya juga mampu melihat siapa yang berkeringat dan siapa yang tidak berkeringat dalam membantu pemenangannya kemarin pada konstelasi pemilu. Bagi nahdliyyin, kami kira menteri agama dari kalangan NU adalah harga mati. Jika tidak, ditunda saja pelantikan menterinya.” Tukas Ridwan