Budayawan Banyumas: Mahasiswa Harus Pahami Literasi Indonesia

29
Seminar Nasional

MONITOR, Banyumas – Budayawan Banyumas Ahmad Tohari mengatakan musuh bersama mahasiswa saat ini adalah melawan kemalasan untuk membaca dan menulis, lebih luasnya penguasaan tentang literasi.

“Mahasiswa Sebagai Agent of Change dalam Mewwujudkan Masyarakat Madani Berlandaskan Budaya Lokal,” kata Ahmad Tohari saat mengisi Seminar Nasional Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Miftahul Huda Rawalo Banyumas, Sabtu (19/10).

Karenanya lanjut Ahmad Tohari, mahasiswa harus memahamai dengan baik literasi budaya Indonesia yang tidak tercerabut dari akar budaya lokal. “Budaya lokal berkontribusi cukup signifikan bagi kebudayaan nasional termasuk budaya banyumasan”, lanjut Tohari.

“Kebudayaan adalah segala hal yang menyangkut cipta, rasa dan karya manusia dan bersifat dinamis. Karenanya yang terpenting dari kebudayaan adalah orientasinya– orientasi budaya Banyumas itu adalah populis atau kerakyatan”, papar pria asli Jatilwang Banyumas.

Tohari memandang urusan kerakyatan itu adalah sumbangan yang kontributif untuk bangsa. “Banyumas mempunyai andil pada pembangunan yaitu budaya kerakyatan atau populisme”, katanya;

Ruchman Basori Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI mengatakan kehadiran mahasiswa untuk menjawab masalah-masalah keagamaan dan kebangsaan sangat dinanti oleh publik.

“Mahasiswa dulu turun ke jalan sebagai bentuk kepedulian sosial-politiknya, namun hari ini di era revolusi industri 4.0 perlu menata ulang mengimplemntasikan gerakan mahasiswa”, kata Akrivis Mahasiswa ’98 ini.

Mantan Ketua I Senat Mahsiswa (SEMA) IAIN Walisongo ini memaparkan generasi mahasiswa milenial bisa berkarya dengan cara-cara yang inovatif dan menghasilkan hal yang berguna bagi masyarakat luas. “Tantangan lain generasi mahasiswa zaman now adalah memanifestasikan sifat kritisnya tidak hanya mengkritik, tetapi harus menjadi bagian dari problem solver”.

“Gerakan politik mahasiswa tidak bisa dimaknai hanya dalam satu prespektif saja, yang penting goalnya adalah memperjuangankan kemaslahatan, kesejahteraan dan keadilan rakyat”, tandas Ruchman.

Umniatul Labiba Ketua STIQ Miftahul Huda mengatakan kemampuan literasi mahasiswa di tengah persaingan global sangat penting, agar mampu menjawab masalah-masalah yang berkembang di masyarakat.

Seminar Nasional diikuti oleh kurang lebih 300 mahasiswa berasal dari internal mahasiswa STIQ Miftahl Huda Banyumas, UNU Purwokerto dan sejumlah mahasiswa lain di Banyumas serta para santri. Turut hadir Pangasuh PP. Miftahul Huda KH. Zaini Ilyas, KH. M. Habib Mahfudz, KH. Hanan Masykur, KH. Ulul Albab, Wakil Ketua STIQ Bidang Kemahasiswaan Nur Syahidin, para dosen dan civitas akademika lainnya.