Sampah Listrik Jakarta Dibeli PLN

25
Direktur Utama PT Jakarta Propertindo Dwi Wahyu Daryoto di Balaikota DKI (dok: ist)

MONITOR, Jakarta – Sampah seharga 11,88 Sen dollar Amerika per kWh milik Pemprov DKI Jakarta dibeli Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sampah listrik tersebut berasal dari pengelolaan sampah di Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter.

ITF Sunter mampu mengubah sampah menjadi energi listrik 35MW dari material 2.200 ton sampah per hari. Kesepakatan Jual Beli Listrik ITF Sunter atau power purchase agreement (PPA) itu ditandatangani bersama PT PLN (Persero) dan PT Jakarta Solusi Lestari (PT JSL) pada Rabu (16/10) di Balaikota DKI Jakarta.

Direktur Utama PT Jakarta Propertindo Dwi Wahyu Daryoto mengapresiasi dukungan PT PLN dan Kementerian ESDM dalam upaya pembangunan ITF Sunter. Sebagaimana telah diketahui, daya tampung TPST Bantargebang akan mencapai batas maksimal pada 2021. Tanpa adanya kerja sama lintas sektor, penanganan sampah akan terus berjalan di tempat.

“Dengan ditandatanganinya PPA ini, proses distribusi listrik ITF Sunter akan menjadi kewenangan dari PT PLN. Fasilitas ini nantinya akan terhubung dengan Gardu Induk Kemayoran melalui jalur transmisi 150 kV sepanjang 2,2 km,” kata Dwi di balaikota DKI Jakarta, Rabu (16/10).

Dwi menjelaskan, PPA ITF Sunter senilai US$11,88 sen per kWh dari fasilitas yang dibangun setelah negosiasi antar pihak dan sumber pendanaan dirampungkan. Pekerjaan konstruksi dimulai dengan land clearing pada Juni 2019. Dilanjutkan dengan pekerjaan awal konstruksi sipil, pile loading test dan land development.

Pada fase ini, kata Dwi, Jakpro mendapat fasilitas pembiayaan dari Bank DKI sehingga proses pekerjaan berjalan sesuai rencana.

“Kami mengapresiasi PT PLN serta dukungan Kementerian ESDM dalam upaya mewujudkan pembangunan ITF Sunter. Pelaksanaan tugas ini untuk wujudkan wajah baru Jakarta yang bersih dan bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan,” ungkapnya.

ITF Sunter mulai beroperasi pada 2022

Dengan PKS dan PPA ini, Jakpro mewujudkan cara pandang baru bahwa sampah bukanlah material tidak berguna, melainkan material yang dapat bermanfaat.

“Kami berterima kasih atas kerja sama lintas sektor yang baik. Penanganan sampah adalah tugas bersama yang harus diselesaikan secara terpadu demi keberlanjutan alam dan membantu bumi lestari,” ujarnya.

Plt Direktur Utama PT PLN (Persero) Sripeni Inten Cahyani menuturkan, pada prinsipnya, PT PLN menyambut baik sumber energi listrik alternatif, termasuk sampah.

“Penetapan harga yang disepakati mempertimbangkan banyak komponen, misalnya jumlah keluaran listrik rata-rata yang dihasilkan dan standardisasi harga listrik,” ungkapnya.

Mandat pelaksanaan proyek ITF Sunter diberikan kepada PT JSL sebagai perusahaan patungan PT Jakarta Propertindo dan Fortum, perusahaan publik Finlandia.

Direktur Utama PT JSL, Faisal Muzakki menyebutkan bahwa progres pembangunan ITF saat ini sudah sampai dalam tahap penyelesaian izin dan studi kelayakan. Dia berharap agar tahap kontruksi dapat dimulai setelah negosiasi antar pihak dan sumber pendanaan dirampungkan.

“Kami menyambut baik penandatanganan PPA hari ini sebagai tonggak sejarah penting dalam tahap persiapan,”ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Andono Warih mengatakan, ITF Sunter merupakan Kegiatan Strategis Daerah (KSD) yang ditetapkan Gubernur Anies Baswedan. Fasilitas ini merupakan solusi pengolahan sampah di dalam kota.

“Berteknologi ramah lingkungan dan bertujuan untuk mengurangi beban TPST Bantargebang,” ungkapnya

ITF Sunter, lanjut Andono, merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang terbesar di Indonesia dengan teknologi yang handal dan sudah terbukti di banyak negara maju.

“ITF Sunter adalah wajah baru pengelolaan sampah Ibukota. Ini impian Jakarta sejak belasan tahun yang lalu,” katanya.

Andono mengungkapkan, ITF Sunter berkapasitas pengolahan sampah sebesar 2.200 ton/hari. Jenis teknologi yang diterapkan adalah waste to energy dengan kapasitas menghasilkan listrik mencapai 35 MWh dan mampu mereduksi 80-90 persen dari bobot sampah yang masuk.

Standar baku mutu emisi gas buang yang digunakan mengacu standar Euro 5 yang lebih baik dari standar yang ditetapkan oleh pemerintah melalui PerMenLHK No 70 Tahun 2016 tentang baku mutu emisi usaha dan/atau kegiatan pengolahan sampah secara termal.

Andono menjamin, emisi gas buang ITF Sunter tidak berbahaya, karena ITF Sunter akan dilengkapi teknologi Flue Gas Treatment (FGT) yang berfungsi memfilter partikel berbahaya dan menekan gas buang dari hasil pembakaran sampah.

Setelah ditandatanganinya dua perjanjian ini, ITF Sunter segera dibangun dan akan dioperasikan oleh Badan Usaha Milik Daerah, PT. Jakarta Propertindo (Jakpro) melalui anak perusahaannya, PT. JSL. Anak perusahaan tersebut merupakan patungan antara Jakpro dengan Fortum, perusahaan asal Finlandia.

Masa pembangunan ITF Sunter direncanakan memakan waktu tiga tahun dan selanjutnya dioperasikan oleh PT. Jakarta Solusi Lestari selama 25 tahun dengan skema Build Operate Transfer (BOT). Kemudian aset tersebut akan diserahkan ke Pemprov DKI Jakarta.