Kemenperin Genjot Potensi Industri Elektronika dan Telematika

27
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Harjanto

MONITOR, Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus tingkatkan daya saing industri elektronika dan telematika agar bisa lebih kompetitif di kancah global. Sebab, berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri elektronika merupakan salah satu sektor yang mendapat prioritas pengembangan dan menjadi sektor pionir dalam impementasi industri 4.0.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Harjanto, mengatakan bahwa kemenperin akan aktif memperkenalkan potensi-potensi yang telah dimiliki industri elektronika konsumsi dan komponen, industri teknologi informasi dan komunikasi, serta industri software dan konten.

Pihaknya terus berupaya menarik investasi dalam rangka menguatkan struktur industri elektronika di Tanah Air. Selain itu bertujuan untuk menghasilkan produk substitusi impor serta memacu agar bisa menembus pasar ekspor.

“Hal ini juga sejalan dengan kebijakan mendorong pengoptimalan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN),” terangnya.

Industri elektronika konsumsi dan komponen menjadi sektor yang terus berkembang secara konsisten dari tahun ke tahun. Aspek-aspek utama yang selalu dikembangkan oleh industri tersebut, antara lain berkaitan dengan kualitas produk yang meliputi standar keselamatan, efisiensi, dan lingkungan.

“Arah pengembangan yang saat ini menjadi perhatian di seluruh dunia adalah transformasi dari produk konvensional menjadi smart appliances,” ujarnya.

Maka itu, tujuan utama dari penerapan teknologi digital dalam peralatan elektronik adalah meningkatkan efisiensi dalam penggunaannya yang didasarkan
dengan teknologi internet of things (IoT).

Harjanto pun menyampaikan, agar produk industri elektronika dalam negeri dapat bersaing di pasar global, diperlukan kegiatan penelitian dan pengembangan, dan ditopang oleh sumber daya manusia (SDM) yang kompoeten.

“Guna mendukung hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan super deduction tax yang dapat dimanfaatkan industri yang berinisiatif untuk meningkatkan
kapabilitasnya,” jelasnya.

Sementara itu, mengenai industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK), Harjanto mengemukakan, sektor tersebut memiliki karakteristik perkembangan teknologi tercepat. Dinamika ini merupakan kesempatan yang harus dimanfaatkan oleh pelaku industri dalam negeri untuk dapat menghasilkan produk-produk IT Solution.

“Making Indonesia 4.0 yang merupakan program pemerintah untuk mendorong penerapan teknologi digital agar bisa meningkatkan efisiensi dan produktivitas, didasarkan pada penerapan teknologi IoT. Pengembangan IoT Devices tidak hanya didasarkan pada teknologi, tetapi juga kreativitas pembuatnya dalam mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh target customer-nya,” paparnya.

Dalam upaya meningkatkan kapabilitas kemampuan industri IoT dalam negeri, pemerintah juga memacu para IoT Makers untuk terus mendorong imajinasi dan kreativitas dalam menciptakan solusi IoT karya anak bangsa melalui sinergi dengan asosiasi dan industri ataupun melalui kegiatan kompetisi. Sedangkan, industri software dan konten, yang merupakan industri kreatif, saat ini sangat membutuhkan keunggulan SDM untuk dapat bersaing secara global.

Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin, R. Janu Suryanto mengungkapkan, penurunan impor produk elektronik pada tahun ini dinilai menjadi momentum yang baik untuk memperbaiki kinerja neraca perdagangan di sektor tersebut. Selain itu, pihaknya juga gencar memacu industri elektronika dalam negeri dapat memperluas akses pasarnya ke mancanegara.

“Kami terus mendorong ekspor produk elektronik lokal. Salah satu produk, berupa air purifier, hasil karya perusahaan nasional sedang dalam masa percobaan untuk ekspor ke Amerika Serikat,” ujarnya.

Selain itu, produsen mesin cuci tengah menjajaki untuk menembus pasar Nigeria. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada Januari-Agustus 2019, nilai ekspor mesin/ peralatan listrik mencapai USD5,55 miliar. Sedangkan, nilai impor mesin/peralatan listrik mencapai USD12,60 miliar atau menurun sekitar 10,97% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Lebih lanjut, Janu menegaskan, pemerintah juga fokus mendorong industri elektronik di dalam negeri agar tidak hanya terkonsentrasi pada perakitan, tetapi juga terlibat dalam lingkaran rantai pasok bernilai tambah tinggi. Langkah strategis ini diwujudkan antara lain melalui peningkatan investasi.

Janu mengemukakan, investor tersebut di antaranya dari industri semikonduktor dan komponen elektronik, industri peralatan listrik rumah tangga, industri komputer, barang elektronik, dan optik, serta industri peralatan teknik. Mereka itu, di antaranya PT Sammyung Precision Batam, PT Simatelex Manufactory Batam, PT Pegatron Technology Indonesia, dan PT Siix Electronics Indonesia.