Launching Kegiatan Korporasi Usahatani di Yogyakarta

18
BKP Kementan menggelar launching kegiatan korporasi usahatani di Yogyakarta (Foto: Istimewa)

MONITOR, Yogyakarta – Kegiatan Pengembangan Korporasi Usahatani (PKU) merupakan upaya membangun ekonomi berbasis pertanian dan perdesaan untuk menyediakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan, serta memenuhi pangan bagi kelompok masyarakat miskin di wilayah rentan rawan pangan.

Demikian disampaikan Sekretaris Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan), Riwantoro saat melaunching kegiatan PKU di Bukit Menoreh Desa Pagerharjo, Kulonprogo, (Jum’at 27/9)

Dijelaskan Riwantoro, tujuan PKU untuk meningkatkan nilai tambah produk komoditas kelompok, meningkatkan pendapatan, dan membentuk lembaga usaha yang berbadan hukum.

Sedangkan hasil yang diharapkan adalah meningkatnya nilai tambah komoditas yang dibudidayakan oleh kelompok, dan meningkatnya modal usaha kelompok minimal 10% per tahun.

Menurut Riwantoro, dipilihnya lokasi launching di Yogya, karena PKU di Kulon Progo berhasil dalam pengembangan usaha dari hulu hingga hilir, sehingga diharapkan akan memacu kegiatan PKU di provinsi lain.

Kegiatan PKU yang digagas BKP pada 2019 ini berada di 13 lokasi, 13 kabupaten pada 12 provinsi, mulai dari Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta; Sulawesi Selatan, Bali, NTB dan NTT. semua PJ PKU ada disini dan bisa lihat serta adopsi perkembangan kegiatannya.

Wakil Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Yogyakarta, Sugeng Utomo mengatakan, konsep PKU di bukit menoreh Kulon Progo diharapkan menjadi daya tarik dalam pengembangan bisnis PKU. Hal ini selaras dengan arahan Gubernur Yogyakarta, dalam visi rencana jangka panjang Yogyakarta 2015-2025.

“Bapak Sri Sultan Hamengkubuwono X mengharapkan Yogyakarta menjadi pusat budidaya pertanian, pendidikan dan wisata tingkat internasional. Kegiatan PKU merupakan kegiatan budidaya dari hulu hingga hilir yang kedepan diharapkan dapat menjadi triger pengembangan usaha korporasi petani,” ujar Sugeng.

Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo menyampaikan, kegiatan PKU merupakan upaya yang selaras dengan spirit kemandirian pangan Kulonprogo

“Bela Kulonprogo, Beli Kulonprogo” jika ingin membela Kulonprogo, belilah produk-produk hasil dari Kulonprogo,” ungkap Sutedjo

Sahroji, pengurus Gapoktan Tri Manunggal menyampaikan terimakasihnya kepada BKP Kementan atas bantuan dan pendampingan yang selama ini telah diberikan. Namun ia mencatat, saat ini kelompok masih kekurangan kambing pejantan yang bagus agar bisa berkembang.

“Mohon bapak-bapak sekiranya ada solusi, kami butuh info kambing yang bagus,” pinta Sahroji.

Permintaan tersebut langsung mendapat respon dari Riwantoro. “Saya tadi lihat pejantannya kurang. Saya akan koordinasi dengan dinas peternakan terkait, kalau perlu akan saya datangkan pejantan kambing peranakan etawa unggul agar hasil kegiatan PKU disini bisa jauh lebih baik,” ujarnya.

Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan BKP Andriko Noto Susanto yang hadir dilokasi menekankan, dalam mengembangkan usaha, pemilihan komoditas yang dibudidayakan sangat menentukan keberhasilan program.

“Jadi, pilih komoditi yang potensial, mudah dikembangkan, memiliki pasar yang baik, sehingga memberikan hasil seperti diharapkan,” ujar Andriko yang juga penangung jawab PKU.

Dicontohkan Andriko, Yogyakarta selama ini dikenal sebagai daerah penghasil kambing terbaik di Indonesia, jadi kedepan kegiatan PKU ini harus dikembangkan pada peternakan kambing.

“Begitu Juga ya dengan PKU daerah lainnya,” tegas Andriko dihadapan para penanggung jawab PKU dari daerah.

Diakhir acara, Riwantoro mengatakan, “Iso nandur ngopo tuku, iso ngingu ngopo tuku (kalau bisa tanam sendiri mengapa harus beli, kalau bisa budidaya mengapa juga harus beli). ini adalah konsep kemandirian dan saya yakin kegiatan PKU akan sukses kedepan,” pungkasnya.