Habib Umar Bin Hafidz: Diskriminasi Non Muslim di Negara Mayoritas Muslim Tidak Dibenarkan

12441
Habib Umar memberikan ceramah

MONITOR, Jakarta – Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW) bersama Universitas Negeri Jakarta, Majelis Al Muwasholah Baina Ulama Almuslimin dan Majelis Jalsah Ad-duat mengadakan Forum Pertemuan para Da’i, Akademisi dan Tokoh Nasional dengan tema “Sinergi Cinta untuk Membangun Kemaslahatan Umat”.

Acara ini dilaksanakan di gedung UTC kampus Amengadakan Forum Pertemuan para Da’i, Akademisi dan Tokoh Nasional dengan tema “Sinergi Cinta untuk Membangun Kemaslahatan Umat”. Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rawamangun Jakarta Timur.

Hadir dalam acara tersebut
AlHabib Umar bin Hafidz dari Yaman,
Syiekh Dr. Osama AlAzhari dari Mesir
Habib Prof Said Aqiel Hussein AlMunawwar,
Habib Ahmad bin Salim Jindan, Rektor UNJ diwakili oleh Dr. Dianta Sebayang, dan Hery Haryanto Azumi Sekjen Majelis Dzikir Hubbul Wathon.

Habib Umar bin Hafidz dalam pidatonya yang diterjemahkan oleh Habib Ahmad Salim Jindan menyampaikan, umat Islam harus mencintai saudara sebangsanya baik muslim maupun non muslim (ahlil ahdi wad dzimmi). Kecintaan sesama Muslim harus selalu dijaga. Sesama Muslim tidak boleh menyakiti dan memprovokasi sehingga terjadi konflik yang mengakibatkan kematian atau korban nyawa. Apalagi itu disebabkan oleh justifikasi/fatwa agama atau pikiran.

“Pemahaman agama yang benar akan menyebabkan sikap yang benar terhadap masyarakat dan negaranya,” ungkap Habib Umar.

Selain itu Habib Umar berwasiat agar umat Islam meneladani akhlak Rasulullah SAW. Akhlak Rosululloh tetap mulia terhadap musuh-musuh yang berusaha membunuh dan mematikan perjuangan Islam. Bahkan Nabi Muhammad SAW mendoakan musuh-musuhnya agar mendapatkan petunjuk dari Alloh SWT.

“Kedzaliman di manapun tidak dibenarkan. Termasuk kezaliman dan diskriminasi terhadap umat non muslim di negara mayoritas Muslim,” tambah Habib Umar.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Majelis Dzikir Hubbul Wathon Hery Haryanto Azumi dalam sambutannya menyampaikan perlunya Gerakan Nahdlotul Qulub di seluruh dunia agar umat Islam fokus kepada gerakan perbaikan moralitas dan mental.

Menurut Hery moralitas dan akhlak Islam harus menerangi dunia yang tengah mengalami krisis ini. Dan itu dapat dicapai dengan perbaikan hati dan moral secara terus menerus. Umat Islam harus bersikap pro-aktif dalam dialog dan kerjasama antar peradaban (ta’aruf al-hadharat) pada setiap tingkatan dan wilayah masing-masing.

“Dialog dan kerjasama adalah kunci peradaban yang lebih baik, dengan itu akan tercipta kedamaian dan kerukunan universal yang menjadi tujuan bersama,” tambah Hery.

Sedangkan Syeikh Dr. Usama AlAzhari dari Mesir menyampaikan perlunya gerakan moral untuk mencintai tanah air di manapun umat Islam berada. Hal itu beriringan dengan perbaikan kualitas sumber daya umat Islam. Sehingga umat Islam mampu memberikan kontribusi terhadap peradaban manusia.

“Tanah Air adalah salah satu aspek penting yang harus dijaga dan dipertahankan oleh umat Islam. Kita semua berjuang agar tidak ada perang dan kelaparan di muka bumi ini,” kata Syeikh Azhari.

Acara ini dihadiri puluhan habaib dari Majelis Al-Muwasholah, Majelis Dzikir Hubbul Wathon serta sekitar 500 undangan yang terdiri dari tokoh-tokoh nasional, Akademisi, para Da’i dan para ustad se-Jabodetabek.