Program Penangkaran Benih Jagung Kementan Diklaim Tingkatkan Produksi

37

MONITOR, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) di tahun 2019 ini mulai menginisiasi kegiatan pilot project pengembangan kawasan untuk perbenihan jagung berbasis korporasi petani. Penguatan kelembagaan kawasan korporasi dilakukan melalui pengawalan, pembinaan dan pendampingan dalam teknik produksi benih jagung, bantuan sarana produksi, alsintan, infrastruktur dan akses pasar.

Salah satunya lokasi pilot project yang dikunjungi Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi bersama Direktur Perbenihan M. Takdir Mulyadi, di Desa Jatirogo, Kabupaten Tuban pada hari Sabtu kemarin (7/9/2019).

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menargetkan pelaksanakan kegiatan pilot project pengembangan kawasan jagung hibrida untuk penangkaran benih berbasis korporasi petani di Tuban untuk tahap awal seluas 89,6 ha dari target nasional seluas 1.175 hektar. Dari total ini, berada di tiga kabupaten yakni di Tuban 675 hektar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan 250 hektar dan Lampung Timur 250 hektar.

“Berbeda halnya korporasi jagung di Kabupaten Lebak Banten, bukan untuk penangkaran tapi untuk konsumsi seluas 1.000 hektar. Pelaksanaan Korporasi perbenihan ini akan terlaksana dengan 3 tahap selama 5 tahun,” jelasnya.

Dalam kunjungannya ini, Suwandi menyaksikan dan mengapresiasi jerih payah yang dilakukan kelompok tani Kabupaten Tuban. Menurutnya, kegiatan percontohan ini dimaksudkan untuk merangsang kelembagaan ekonomi petani agar bisa mengelola bisnis usaha tani, penangkaran benih jagung hibrida secara mandiri dan juga dapat meningkatkan produksi benih nasional secara berkelanjutan.

“Setelah ini, jika berhasil kita terapkan di beberapa kawasan lain untuk mereplikasi kegiatan perbenihan jagung hibrida berbasis korporasi petani kedepan,” ucapnya.

Pola Pengembangan Benih Jagung

Pada kunjungan ini, Bahtiar dari Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros menjelaskan teknologi paling tinggi untuk perbenihan diistilahkan dengan nama hibridisasi artinya mempertemukam 2 tetua yang berbeda. Intinya semakin jauh hubungan kekerabatan tetua, maka semakin bagus hasilnya, artinya jika tidak ada kekerabatannya maka semakin baik hasilnya.

Ketua Kelompok Tani Gembang Makmur, Sarwito mengungkapkan sebenarnya penangkar benih jagung ini awalnya tidak percaya apakah kondisi kemarau ekstrim bisa tetap berproduksi. Itulah yang selalu timbul di benak petani, namun lewat dorongan penjelasan dan pendampingan, petani justru merasa mantap.

“Apalagi pada waktu itu juga teman-teman kelompoktani memberikan dukungan. Kami langsung menyepakati siap melaksanakan program pemerintah penangkaran benih walaupun kondisi yang seperti ini,” ujarnya.

“Kalau saya bilang musim cuaca yang ekstrim, namun teman teman para penangkar benih benar-benar siap untuk melaksanakan dengan kondisi lapangan seperti ini Pak,” tambah Sarwito

Perlu diketahui kebutuhan benih jagung di Tuban meningkat signifikan setiap tahunnya. Provitas jagung hibrida tahun 2017 mengalami kenaikan dari 5,39 ton per hektar menjadi 5,58 ton per hektar pada tahun 2018.

Untuk itu, Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Takdir Mulyadi berharap dengan dilaksanakan percepatan gerakan tanam perbenihan jagung hibrida berbasis korporasi, Provinsi Jawa Timur nantinya dapat memenuhi kebutuhan benih jagung hibrida untuk wilayahnya (insitu) dan bisa memangkas biaya produksi serta meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani.

“Luas jagung korporasi di Tuban saat ini sudah tertanam 89,6 hektar dari target 675 hektar. Varietasnya semua petani memakai Nasa 29, untuk panennya rencana di bulan Oktober dan November ini, ujar” Takdir.

Takdir menyebutkan analisa usahatani penangkaran benih jagung hibrida lebih menguntungkan, jika dibandingkan dengan jagung hibrida konsumsi. Faktanya, dengan biaya produksi calon benih Rp 7,2 juta per hektar akan diperoleh hasil 5 ton per hektar.

“Harga jual calon benih Rp 6.000 per hektar sehingga perkiraan pendapatan Rp 22,8 juta per hektar,” sebut dia.

Ia menambahkam sedangkan untuk benih konsumsi dengan biaya produksi Rp 8,2 juta per hektar akan diperoleh hasil 7 ton per hektar. Harga jual jagung konsumsi Rp 3.000 per hektar sehingga perkiraan pendapatan sekitar Rp 12,8 juta perhektar, sehingga ada selisih pendapatan perbenihan Rp 10 juta per hektar lebih tinggi.

“Harapan ke depan, Kabupaten Tuban dapat memenuhi ketersediaan benih jagung hibrida di wilayah Jawa dan sekitarnya secara mandiri dan berkesinambungan mulai dari hulu sampai hilir yang dikelola dalam bentuk kelembagaan koperasi petani,” tutur dia.