Kemendikbud Cetak SDM Unggul Melalui Pelatihan 5 In, 3 On

Advertorial

248
Guru berprestasi (Dok. Kemendikbud)

MONITOR, Jakarta – Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional yang berlangsung pada tanggal 13 – 19 Agustus 2019 di Jakarta mendapat respon positif. Itu terlihat dari total peserta yang mencapai 695 peserta terdiri dari perwakilan dari 34 provinsi.

Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2019 yang bertema “Guru dan Tenaga Kependidikan sebagai Agen Transformasi Penguatan SDM”. tersebut sejalan dengan semangat 74 tahun Indonesia merdeka, “SDM Unggul, Indonesia Maju”.

Berkaitan dengan itu, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud, Supriano menjelaskan tentang pelatihan berbasis zona demi terciptanya SDM Unggul.

“Inilah yang nanti kita dorong mengenai pelatihan berbasis zona. Ke depan pelatihan tidak hanya 1 kali pertemuan. Tetapi kita akan menggunakan pelatihan 5 In, 3 OnIn pertama dia melakukan refleksi. Refleksi ada dua sumber, yang pertama sumbernya dari individu dari itu sekolah, yang kedua dari Ujian Nasional. Ketika dia selesai In 1 dia masuk In 2. In 2 dia akan diskusi lagi apa yang harus kita lakukan perubahan, terjadi knowledge sharing, terjadi komunikasi, di sinilah terjadi kerja sama, di sinilah terjadi inovasi, kreativitas, ini guru kita dorong ke 4C,” kata Dirjen GTK, Kemendikbud, Supriano saat pembukaan Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2019 di Mercure Convention Centre Ancol, Jakarta beberapa waktu lalu.

Adapun In (In Service Learning) yakni dilaksanakan di kelompok kerja dalam zonasi, guru berkumpul dalam komunitas pembelajarannya untuk membahas dan meningkatkan kualitas pembelajaran dan penilaian berorientasi Higher Order Thinking Skills (HOTS)On (On The Job Learning) yakni hasil pertemuan di kelompok kerja dalam zonasi yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran di kelas sesuai mata pelajarannya. Supriano lalu menjelaskan lebih lanjut hingga In 5 dan On 3.

“Ketika In 2 guru akan membuat RPP. In kedua selesai, dia akan masuk ke On 1. On 1 dia mengajar di kelas. Ketika dia mengajar di kelas, dia melakukan evaluasi, perlu perbaikan, dia masuk ke In 3. Begitu In 3, dia diskusikan, dia perbaiki RPP, dia diskusi lagi sesama para guru, kemudian dia masuk lagi On 2. Begitu On 2 selesai, dia masuk lagi In 4. In 4 dia perbaiki lagi. Begitu dia masuk In 4, dia masuk lagi On 3. On 3 ini adalah perbaikan-perbaikan. Setelah On 3, yang terakhir adalah In 5. Di In 5 dia membuat best practice, berdiskusi mana metode yang baik di antara sekolah di dalam zona itu. Inilah kita geser pelatihan,” terang Supriano.

Dalam alur pembelajaran di zonasi tersebut, peran guru inti signifikan.

“Bayangkan kalau satu semester terjadi dua periode, dua siklus, berarti guru bisa melakukan 10 In, 6 On. Satu siklus membutuhkan 82 jam. Nah inilah upaya kita untuk memperbaiki proses pembelajaran ke depan. Timbul pertanyaan siapakah yang akan mengajar di zona itu? Siapakah yang akan mengajar di kelompok-kelompok itu? Itu adalah guru inti. Guru inti yang harus kita persiapkan. Siapakah calon guru inti? Calon guru inti salah satunya adalah peserta Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2019. Jadi bapak-ibu sekalian otomatis harus mempunyai kompetensi yang bagus. Dan bapak-ibu yang datang ke sini dari wajahnya merupakan orang-orang yang akan membawa perubahan pendidikan di Indonesia. Indonesia ke depan akan cerah,” ungkap Dirjen GTK Kemdikbud, Supriano.