Sosok Fahri Hamzah Si ‘Singa Parlemen’ Di Mata Koleganya

MONITOR, Jakarta – Politikus PKS Mahfudz Siddik mengungkapkan bahwa sosok Fahri Hamzah tidak hanya dikenal sebagai tokoh kontroversial saja. Tetapi juga, sebagai sebagai seorang panglima perang.

Begitu penilaian Mahfudz dalam acara Diskusi dan Peluncuran Buku bertema “Gelora Kata-Kata” karya Fahri Hamzah di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (29/8). 

Bagi Mahfudz sikap Fahri yang sangat vokal membela nasib rakyat, selain memang berasal dari provinsi yang berada diperingkat kesejahteraan ketiga terbawah dari wilayah Indonesia lainnya, juga tidak bisa dilepaskan siapa sosok yang membentuk karakter pria yang memiliki julukan ‘Singa Parlemen’ itu.

Bahkan, jika dikaitkan dengan kultur politik, ia menjelaskan kalau sahabatnya itu bukan orang Jawa, tapi asli Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Nama Hamzah adalah nama ayahnya. Oleh masyarakat NTB dan dari sejarah keislaman, sosok Hamzah identik dengan Panglima Perang. Jangan kan orang, setan saja takut (berhadapan),” seloroh Mahfudz yang disambut tawa para peserta diskusi.

Tidak hanya itu, Mahfudz juga membeberkan kalau karakter Fahri Hamzah yang konsisten memperjuangkan nasib rakyat tidak bisa dilepaskan dari dua tokoh yang menjadi gurunya yang berasal dari  Sulawesi dan Jawa.

“Gurunya dari Sulawesi adalah Anismata (mantan Presiden PKS), dan yang dari Jawa, Adi Sasono. Kedua tokoh ini lah yang mempengaruhi pola pikir Fahri Hamzah dalam melihat persoalan terhadap rakyat,” paparnya.

Mahfudz juga memuji langkah Fahri Hamzah yang kerap menuangkan segala idenya ke dalam buku. Sepengetahuannya, begitu akan direposisi dari Komisi III DPR ke Komisi VI DPR, Fahri membuat buku, begitu juga sebelum direposisi dari Komisi VI menjadi Wakil Ketua DPR, hal yang sama juga  dilakukannya.

“Bahkan sebelum berakhir masa jabatannya sebagai Wakil Ketua DPR, Fahri pun masih sempat membuat buku Gelora Kata-Kata,” sebut mantan Ketua Komisi I DPR RI itu. 

Menurut dia, meski buku itu hanya berisikan cuitan Fahri Hamzah di twitter, namun bagi Mahfudz, setiap buku yang dibuat sahabatnya itu bukan buku sembarangan.

“Sebab yang membuat buku juga bukan orang sembarangan. Fahri Hamzah yang saya kenal adalah tipe orang yang serius dan memiliki ide brilian yang dituangkan dalam sebuah buku,” ujar dia.

Tak sungkan, Mahfudz pada kesempatan itu mengakui kalau dirinya tidak bisa menyaingi kemampuan ‘urat syaraf’ Fahri Hamzah, terutama dalam menuangkan ide dan gagasannya ke media sosial, utamanya twitter.

“Harus saya akui kalau urat syaraf saya kalah dengan Fahri Hamzah dalam menggunakan media sosial sekelas twitter,” pungkas mantan Ketua F-PKS DPR RI itu lagi.