Guru Besar IPB Berbagi Ilmu Bersama Universiti Malaysia Terengganu soal Potensi Kelautan

MONITOR, Terengganu, Malaysia – Pakar Kemaritiman yang juga Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Prof. Rokhmin Dahuri memenuhi undangan kehormatan dari Universiti Malaysia Terengganu dalam rangka diskusi dan berbagi gagasan mengenai pemanfaatan potensi kelautan Indonesia-Malaysia pada 21-23 Agustus 2019.

Pada kesempatan tersebut, Rokhmin Dahuri yang juga Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu memberikan penghormatan yang tinggi kepada Malaysia, dan berharap Indonesia mampu mencontoh segala yang baik yang datang darimana saja, terutama Malaysia.

Dengan gayanya yang khas, terbuka, ringan dan penuh data, Rokhmin Dahuri juga memberikan inspirasi kepada civitas akademika universitas yang mengkhususkan diri dalam kajian dan pengembangan kelautan di Malaysia tersebut terutama kepada para mahasiswa, agar mereka memiliki cita-cita yang tinggi, melebihi batasan-batasan yang mereka miliki.

“Tapi jangan lupa belajar yang maksimal. Bekerja yang keras. Serta meminta pertolongan kepada Allah. Saya anak nelayan, tapi hari ini dengan pertolongan Allah saya diberi kesempatan untuk memberikan manfaat yang besar kepada bangsa saya, negara saya, bahkan dunia. Maka jangan pernah berkecil hati apapun status sosial yang kita miliki,” ujar mantan menteri kelautan dan perikanan tersebut.

Laut, menurut Rokhmin Dahuri punya kesempatan dan juga kekuatan untuk menjadi back bone bagi negara-negara seperti Indonesia dan Malaysia. Mulai dari hasil lautnya, baik hasil tangkap ataupun budidaya, insdustri pariwisata, lalu lintas perdagangan, bahkan termasuk industri kreatif yang bisa diolah darinya, mampu menghasilkan banyak sekali peluang dan sumber kesejahteraan. Bahkan secara kasar, Rokhmin Dahuri menghitung, laut Indonesia bisa dan mampu menyerap 40 juta tenaga kerja Indonesia.

“Meski demikian, masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan Indonesia untuk sampai pada tahap kesejahteraan yang lahir dari lautan yang dimilikinya,” ungkapnya.

Rokhmin Dahuri mengaku sangat mengapresiasi keberadaan Universiti Malaysia Terengganu yang menjadi satu-satunya universitas di Malaysia yang memiliki disiplin ilmu mempelajari segala sumber daya kelautan Malaysia.

“Di universitas ini dididik intelektual muda yang akan melahirkan tenaga-tenaga penggerak di bidang kelautan dan perikanan. Mereka mengelola sumber daya laut dan segala biodiversity yang dimilikinya. Mereka akan mengembangkan tenaga alternatif yang bersumber dari lautan. Bahkan para akademisi ini mendapatkan tugas dari negara untuk mewujudkan lini baru ekonomi yang berbasis kelautan di Malaysia,” tandasnya.

Salah satu yang akan didorong agar lebih maksimal adalah pertumbuhan jumlah wirausahawan yang ada di Malaysia. Di negeri saudara itu, jumlah wirausahawan yang ada sekitar 5% dari jumlah penduduknya. Sementara enterprenuer Indonesia baru mencapai 3,1% dari jumlah penduduknya. Bank Dunia menetapkan, standar minimal sebuah negara yang baik iklim usahanya adalah negara dengan jumlah enterprenuer 7% dari jumlah penduduknya.