Fahri Hamzah: Jokowi Harus Tinggalkan Inner Circle Feodalisme

547
Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah (dok: Rangga Monitor)

MONITOR, Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah meyakini Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam periode keduanya, tidak akan mampu untuk keluar dari convert zone (zona nyaman) yang selama ini dilihat masyarakat. 
Seperti selama periode pertama memerintah, mantan gubernur DKI itu tidak bekerja optimal karena dikelilingi sistem feodalisme.

“Jadi sekarang, angan melakukan pembahasan mengenai Pilpres, itu sudah selesai. Saat ini yang perlu dipertegas ialah soal apakah Pak Jokowi mampu keluar dari inner circle feodalisme yang sudah dianggap nyaman, padahal itu menjebak beliau,” kata Fahri kepada wartawan, di Komplek Parlemen, Senayan, Rabu (21/8).

Penyataan yang disampaikan dirinya itu, sambung Fahri bukan soal suka atau tidak suka, tapi lebih mengarah pada memberikan masukan agar Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi ke II ini dapat lebih baik dan maju.

Bahkan, imbuhnya, Jokowi sendiri harusnya sadar bahwa sambutan positif dan pujian terhadapnya itu hanya sekedar topeng palsu saja.

“Kalau tidak percaya, saya saksi feodalisme yang disingkirkan karena pimpinan kalah berargumen, lalu orang-orang datang menjilat pimpinan dengan mencari pembenaran bahwa, orang ini (saya) layak disingkirkan dengan segala cara karena tidak sopan pada pimpinan,” paparnya.

“Nah, disinilah maksud kami memberikan masukan agar Presiden terpilih kita paham situsi realitanya,” ungkap Fahri.

Memang Fahri mengakui bahwa budaya di Indonesia masih kental dengan feodalisme-nya. Bahkan ketika agama membawa pembebasan, para tokoh agama justru membentengi diri dengan ‘kesucian’ agar terus berjarak dengan kejujuran. Pimpinan dan yang dipertua tidak pernah boleh menerima kritik dan argumen terbuka.

“Sekali lagi bukan soal satu orang atau seorang pemimpin. Ini soal sistem yang dilumuri lemak feodalisme yang berkarat. Orang-orang dalam posisi atas dari sistem ini menciptakan aturan dan citarasa yang kadang tak terbaca secara kasat mata. Kita hanya merasa bahwa kejujuran tak diterima,” terang salah satu inisiator Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) itu.

Fahri pun menyakini jika pemaparan yang disampaikannya akan menjadi salah satu tantangan ke depan bagibmenteri yang terpilih, agar dalam memberikan laporan yang aktual bukan hanya membuat bapak senang.

“Saya kira ini yang menjadi tantangan ke depan bagi menteri yang terpilih. Tujuannya agar mereka bekerja maksimal bukan hanya sekedar laporan,” pungkas dia.