Setara Institute Tolak Kekerasan dan Rasisme Terhadap Masyarakat Papua

23
Direktur Eksekutif SETARA Institute, Ismail Hasani (dok: medcom)

MONITOR, Jakarta – Tindak kekerasan persekusi dan rasis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang menuai kritik dari Direktur Eksekutif SETARA Institute, Ismail Hasani. Ia mengecam tindakan kekerasan terhadap warga negara yang menyampaikan aspirasi dan ekspresi politik.

Pengajar Hukum Tata Negara UIN Jakarta ini menilai, selama ini pelanggengan rasialisme dan stigmatisasi menjadi akar rantai kekerasan yang berulang kali dialami oleh masyarakat Papua, baik secara struktural, kultural, maupun langsung.

“SETARA Institute menentang dehumanisasi terhadap masyarakat Papua yang hadir akibat pelanggengan rasialisme dan stigmatisasi,” ujar Ismail Hasani, Senin (19/8).

Ia menjelaskan pengakuan atas hak yang melekat pada mereka sebagai manusia berada di titik rawan dan rapuh sebagaimana ditunjukkan dengan frekuensi insiden kekerasan terhadap masyarakat Papua yang tinggi sehingga melanggar kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat, hak atas rasa aman, dan hak berpindah. Bahkan, menurutnya pelanggaran HAM dan kebebasan masyarakat Papua menjadi catatan buruk berkelanjutan karena kegagalan negara mencari solusi berkeadilan di Papua.

Terkait kerusuhan yang terjadi di Surabaya, pihaknya meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian menindak tegas oknum aparat yang bersikap represif terhadap para mahasiswa.

“Kami mendesak Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian menindak tegas aparat yang bersikap represif terhadap mahasiswa Papua sebagai preseden pengurangan tindakan represif sekaligus memastikan kebijakan ketidakberulangan,” ujarnya mendesak.