Banyak Kesamaan, Kian Perkuat Kerjasama DPR-Kongres AS

Anggota Komisi I DPR RI Lena Maryana. Foto: Ist

MONITOR, Jakarta – Anggota Komisi I DPR RI Lena Maryana mengatakan terdapat banyak hal yang bisa dipelajari oleh DPR RI dari kunjungan delegasi House Democratic Partnership (HDP) Kongres Amerika Serikat (AS) ya g diketuai oleh Anggota Kongres AS David Price ke Indonesia. 

Salah satunya terkait independensi anggaran, dimana Kongres AS memiliki Congressional Budget Office yang memiliki kemandirian dalam menentukan anggarannya sendiri.

“Kedatangan mereka sekaligus memperkuat kerja sama yang selama ini sudah dilakukan oleh Kongres AS. Ini inisiatif sejak tahun 2007, kebetulan pada tahun itu, kita belajar tentang penguatan parlemen, misalnya soal independesi anggaran melalui Congressional Budget Office,” kaya Lena kepada wartawan usai pertemuan antara Komisi I DPR dengan delegasi HDP, di Komplek Parlemen, Senayan, Kamis (1/8).

Selain memiliki badan khusus terkait anggaran, sambung dia, Kongres AS juga memiliki lembaga riset khusus yaitu Congressional Research Services (CRS)yang dikatakan Lena, memiliki kesamaan dengan Badan Keahlian parlemen Indonesia. Akan tetapi, CRS dinilai lebih memberikan masukan kepada anggota-anggota parlemen tentang persoalan-persoalan yang tengah dibahas.

“Nah, di Indonesia sendiri, Badan Keahlian DPR ini kan belum begitu banyak dimanfaatkan oleh Anggota Dewan maupun oleh tenaga ahlinya. Jadi, sebenarnya sih tujuannya bagaimana anggota DPR ini benar-benar performmelaksanakan tugas dan fungsinya terutama di bidang legislasi, kemudian anggaran dan pengawasan,” imbuh politisi PPP ini.

Sementara itu, berkaitan dengan komisi I , Lena mengatakan terdapat beberapa hal yang sempat dibahas diantaranya sektor pertahanan, dimana Anggota Kongres AS David Price menegaskan bahwa AS dari sejak awal mendukung penuh sovereignity atau kedaulatan Indonesia. Sehingga Komisi I menyimpulkan munculnya gerakan separatisme di Papua tentu tidak akan didukung oleh negeri Paman Sam tersebut.

Tidak hanya itu, dalam pertemuan kedua parlemen ini, juga dibahas pula bagaimana Amerika Serikat bisa kembali destinasi utama bagi pelajar-pelajar Indonesia. Hingga saat ini, komisi I menghitung terdapat 8.000 mahasiswa Indonesia menimba ilmu di AS. Namun, Duta Besar Amerika Serikat mengatakan sekitar 9.000. 

“Kami juga meminta bahwa pengajuan visa pelajar-pelajar kita bisa diproses secara cepat dan dikabulkan. Seperti penjelasan dari Dubes, 95 persen visa memang disetujui, tapi kita enggak tahu 5 persen-nya ditolak karena apa,” ungkapnya.

Mengenai kerja sama bidang militer, Lena menyampaikan bahwa upaya memperkuat kerja sama bidang militer terus dilakukan. Sebelumnya dalam pertemuan dengan Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, Delegasi AS sempat menanyakan kesiapan Indonesia menjadi lead di kawasan ASEAN. 

“Termasuk kerja sama militer dan kerja sama kawasan, itu yang diangkat oleh kita (Komisi I,red),” pungkasnya.