Pasar Saham Berpotensi Menguat di Semester Dua

25
Ilustrasi IHSG (Foto: Dok Metrotvnews.com)

MONITOR, Jakarta – Pasar saham Indonesia kembali berpeluang menguat di semester dua tahun ini, setelah usai dari hiruk pikuk politik dan para pelaku pasar mendapat kepastian Presiden terpilih Joko Widodo kembali memimpin Indonesia untuk kedua kali.

Menurut Kepala Ekonom dan Makro Ekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment, Budi Hikmat, ada beberapa faktor di semester dua yang bisa mendongkrak kenaikan pasar saham.

Pertama, sentimen positif dari Bank Sentral Amerika Federal Reserve (The Fed) yang memberi sinyal kuat untuk menurunkan suku bunga pada akhir Juli ini. 

Dari segi valuasi, bursa saham Indonesia masih lebih murah dibandingkan bursa saham beberapa negara di Asia, sehingga memikat investor asing untuk kembali berinvestasi di Indonesia.

Di samping itu, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga BI 7 days reverse repo sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen pada bulan ini. Sehingga, suku bunga deposito cenderung turun, diantisipasi dengan bunga obligasi.

Sementara, faktor earnings atau pendapatan perusahaan masih belum memberi hasil maksimal karena daya beli masyarakat belum membaik. Ia memperkirakan earnings korporasi pada tahun ini akan berkisar antara 8-10%.

“Adapun, sektor-sektor yang menarik untuk dicermati dengan kondisi membaiknya pasar saham adalah sektor perbankan, konsumen, dan properti. Sementara, sektor yang harus diwaspadai adalah sektor komoditas, baik itu batubara, minyak sawit (CPO) sebagai dampak dari pelambatan ekonomi yang terjadi di Cina,” kata Budi melalui pernyataan resmi, Rabu (24/7).