Sri Mulyani Minta Negara OPEC Harus Lincah Kelola Dana OFID

26
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

MONITOR, Jakarta – Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati mengatakan ekonomi negara OPEC saat ini mengalami tekanan berat dengan gejolak harga minyak dan gerakan global untuk mengurangi konsumsi minyak dan gas.

Hal itu dia ungkapkan saat memimpin pertemuan para Menteri sebagai ketua Ministerial Council dari OFID (The OPEC Fund for International Development) – sebuah organisasi yang didirikan pada tahun 1975 di Algeria, mengumpulkan sumbangan negara-negara OPEC untuk membantu negara-negara berkembang dan miskin dalam mencapai tujuan pembangunan, mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kemakmuran.

Untuk itu, ia fokus mengajak para anggota membahas strategi OFID kedepan dari segi keuangan dan operasional, dengan perubahan ekonomi dunia yang sangat besar, kebutuhan pembangunan semakin meningkat.

“Dana OFID yang merupakan kontribusi negara OPEC dan dan cadangan mencapai USD7,7 milyar dengan total komitmen mencapai USD23,4 milyar dan pencairan pinjaman mencapai USD16,1 milyar untuk pembangunan bidang energi, transportasi, air bersih, proyek pertanian, kesehatan dll untuk berbagai negara di Afrika, Asia, Latin Amerika, dan Timur Tengah dan Eropa,” papar Sri Mulyani Indrawati dalam siaran persnya, Sabtu (20/7).

Kedepan, ia menjelaskan tantangan OFID adalah bagaimana tetap menjadi lembaga pembiayaan pembangunan secara global, tetap relevan, lincah dan fleksibel serta efektif.

“OFID harus berubah dan reformasi internal untuk mengubah model bisnis, cara kerja, tata kelola, transparansi dan strategi keuangan (pinjaman, hibah dan sumber pendanaan) harus diubah secara fundamental,” jelasnya.