Sabtu, 24 Juli, 2021

Optimalkan Intensif Pajak, Ketua DPR RI Harap Makin Banyak Perusahaan Nasional Go Public

MONITOR, Jakarta – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) berharap makin banyak perusahaan nasional yang melakukan go public (penawaran saham kepada publik). 


Menurut dia, semakin banyak perusahaan yang bisa go public di Bursa Efek, tentu akan semakin memberikan keuntungan bagi perekonomian nasional.


“Bagi perusahaan sendiri bisa mendapat keuntungan tambahan modal dari masyarakat guna mengembangkan kegiatan unit usahanya, disamping bisa meningkatkan nilai ekuitas perusahaan itu sendiri,” kata Bamsoet, Selasa (25/6).


Ia juga mengatakan, makin banyaknya perusahaan yang melantai di bursa efek dapat menikmati juga berbagai insentif pajak yang diberikan pemerintah. Tentunya, merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2013 tentang Penurunan Tarif Pajak Penghasilan Bagi Wajib Pajak Badan Dalam Negeri Yang Berbentuk Perseroan Terbuka.

- Advertisement -


“Pasal 2 ayat (1) PP No. 56 Tahun 2015 menyebutkan bahwa Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk Perseroan Terbuka dapat memperoleh penurunan tarif Pajak Penghasilan sebesar 5 persen lebih rendah dari tarif Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan dalam negeri,” terangnya.


“PP tersebut menjadi bukti nyata betapa Presiden Joko Widodo terus berupaya memajukan pengusaha nasional agar mencatatkan sahamnya di bursa efek,” ucap dia.


Oleh karena itu, politikus Golkar itu menyarankan agar para pengusaha tidak menyiayiakan kesempatan tersebut.

“Selain mendapat keringanan pajak, perusahaan juga bisa mempertahankan kelangsungan usahanya. Citra dan image perusahaan juga menjadi lebih bergengsi dibanding yang belum melantai di bursa efek,” paparnya.


Selain itu, Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini berharap berbagai perusahaan yang telah mencatatkan dirinya di bursa efek bisa berkontribusi dalam peningkatan ekspor Indonesia.


Semakin membengkaknya defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal I tahun 2019 menjadi 2,6 persen dari produk domestik bruto, menuntut dia, perlu adanya diversifikasi ekspor yang tidak hanya mengandalkan minyak kelapa sawit dan batubara sebagai sektor unggulan. 


“Sebagai sebuah bangsa, kita harus saling bahu membahu. Antara pemerintah sebagai eksekutif, DPR RI sebagai legislatif, maupun kalangan swasta sebagai bagian dari civil society, semua harus memberikan yang terbaik di bidangnya masing-masing,” pungkas Bamsoet.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER