Indonesia Sebagai Poros Maritim, DPD RI Dukung Kerja Sama Jalur Sutra

25

MONITOR, Jakarta – Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono mengatakan visi Indonesia sebagai poros dunia tidak terlepas dari basis maritim. Tentunya visi Indonesia ini berhubungan dengan misi negara China untuk membuat jalur sutra.

Hal itu tertuang dalam peluncuran ‘Silk Road Community Building Initiative in Indonesia & Indonesia-China NGOs Dialogue. 


“Dalam konteks ini maka perpaduan antara visi dan poros maritim dunia bisa terjalin. Karena itu, banyak hal yang bisa kita kerjasamakan baik dengan China dan internasional,” kata Nono, di Hotel Mulia, Jakarta, Jumat (21/6).


“Tentu dengan landasan atas dasar saling percaya satu sama lain. Serta menghormati kedulatan dan keutuhan masing-masing negara,” tambahnya.


Menurut Nono, Indonesia yang sedang dalam transisi besar bila dilihat dari perdagangan dunia, setidaknya kurang lebih 70 persen negara di Asia Pasifik, sebagian besar melalui transportasi laut atau maritim. 


“Maka dari itu, Indonesia yang sangat strategis berdasarkan hukum laut harus menjaga keamanan dan stabilitas kedaulatan laut kita,” ujar dia.


Ia juga menambahkan, jika kerjasama ini juga sangat penting, dimana Indonesia dan China sama-sama memiliki kawasan luas. Sehingga, Indonesia harus belajar dengan China dalam mempertahankan kedaulatannya.

“Kita juga harus belajar dengan China dalam mempertahankan kedaulatan lautnya,” ulas Senator asal Maluku tersebut.


Di sisi lain, Nono menjelaskan saat ini kondisi ekonomi China lebih baik dari negara-negara di Asia. Fakta-fakta tersebut harusnya menyakinkan Indonesia perlu pendekatan baru untuk mensejahterahkan rakyat dan menentaskan kemiskinan. 


“Itulah sebabnya ikatan bilateral kedua negara tidak harus goverment to goverment. Model hubungan bilateral kedua negara perlu juga people to people agar kedua negara bisa lebih dalam ikatan emosinalnya,” sebut dia.


Selain itu, potensi kerja sama Indonesia dan Tiongkok melalui pendekatan people to people bisa menjadi trigger. Seperti strategi untuk menggurangi kemiskinan di China dalam menciptakan lapangan kerja yang masif dan berkelanjutan. 


“Tiongkok membangun pembangunan dimulai dari desa pada sektor pertanian dan pengembangan UMKM-nya,” ujar Nono. 


Nono menilai bahwa Indonesia juga perlu merubah persepsi pengembangan UMKM agar tidak kalah saing dengan Tiongkok. Bahkan UMKM di Tiongkok bisa menciptakan onderdil pesawat terbang dan mobil. 


“Di Indonesia hanya baru di bidang garmen atau cemilan  dan lainnya. Tentu saja kita kalah saing dengan Tiongkok. Maka harus ada kemaum dari segenap kompenen bangsa untuk mengubah persepsi ini, Indonesia pasti bisa ,” pungkasnya.