Kementan Dorong Peningkatan Produksi Padi dengan Benih Varietas Unggul

61

MONITOR, Jakarta – Penggunaan benih varietas unggul bersertifikat menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produksi padi. Akan tetapi, yang menjadi masalah saat ini yaitu dalam penyediaannya. Yakni belum dapat memenuhi sasaran 6 tepat diantaranya terkait varietas, mutu, jumlah, waktu, lokasi, dan harga.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melaksanakan Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan Berbasis Korporasi dengan fokus utama kegiatan produksi benih padi bersertifikat.

Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Takdir Mulyadi mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya sebatas meberikan bantuan kepada kelompok tani saja namun tindak lanjutnya secara aktif terus didampingi oleh pemerintah dan memberikan peluang menjalin kemitraan dengan swasta.

“Pengembangan perbenihan berbasis korporasi adalah bentuk pengembangan dari nawacita desa mandiri benih yang pernah dicanangkan Pemerintah. Tujuannya sekarang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri namun dapat juga bermintra dengan produsen benih. Dengan skala ekonomi yang luas, tentunya akan lebih memberikan manfaat yang lebih,” kata Takdir.

Takdir menjelaskan, salah satu wilayah yang menjadi percontohan untuk kegiatan ini berlokasi di Provinsi NTB. Dampak positifnya, melalui kegiatan ini Provinsi Nusa Tenggara Barat mampu menghasilkan benih padi bersertifikat dengan varietas Inpari 30, Inpari 32, Inpari 33 dan Situbagendit sebanyak 6.000 ton di areal seluas 1.500 ha yang terdiri dari 1.300 ha padi sawah dan 200 ha padi gogo.

“Salah satu pelaksana kegiatan ini adalah Kelompok Penangkar Benih (KPB) Lestari yang yang berlokasi di Desa Monjok, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan luas areal 50 ha, untuk Padi Sawah varietas Inpari 32. Tahun 2018, KPB ini telah mampu menghasilkan benih sebanyak 101,6 ton,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sahnim, berharap kegiatan tersebut bisa meningkatkan kapasitas kelompok penangkar benih padi, selain itu juga meringankan biaya produksi serta kepastian pemasaran hasil produksi benih.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap penyediaan benih bersertifikasi di wilayah sendiri mampu menjadikan petani lebih mandiri, melalui kegiatan penangkaran benih padi bersertifikat berbasis korporasi merupakan keuntungan bagi petani penangkar dalam pemasaran benih hasil produksi kelompoknya,” imbuhnya.

Pada kegiatan ini, produsen benih bertanggung jawab menjamin teropkupnya benih dari penangkaran mitranya. Dengan adanya kerjasama, salah satunya dengan PT Pertani, anggota KPB kami merasa sangat menguntungkan karena disamping mampu menyediakan kebutuhan benih untuk kelompok mereka sendiri juga dapat dijual ke PT Pertani, pungkas Sahnim