Rokhmin Dahuri ajak Mahasiswa jadi Pengusaha sebelum Sarjana

Prof. ROkhmin Dahuri saat Menjadi Keynote Speaker acara "Bogor Entreprenur City & Himapindo" di Universitas Djuanda, Bogor, Kamis (2/5/2019). Foto: Bulust Grafi

MONITOR, Bogor – Himpunan Mahasiswa Pengusaha Muda Indonesia (Himapindo) menggelar kegiatan Bogor Entreprenur City & Himapindo Bogor Raya bekerjasama dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Djuanda di Universitas Djuanda, Bogor, Kamis (2/5/2019).

Kegiatan tersebut merupakan upaya untuk menumbuhkan motivasi serta mendorong generasi muda masa kini agar menggali potensi diri. Harapannya, para mahasiswa mampu percaya diri dan tak ragu menjadi seorang entrepreneur muda yang berani menciptakan peluang bisnis baik lokal maupun internasional.

Ketua Dewan Pengawas Himpunan Mahasiswa Pengusaha Muda Indonesia (Himapindo), Prof. Rokhmin Dahuri yang didaulat menjadi keynote speaker pada acara tersebut mendorong dan memotivasi mahasiswa agar menjadi pengusaha menciptakan peluang bisnis.

“Seorang pengusaha, selain untuk kesejahteraan dan kebahagian dirinya juga menciptakan lapangan kerja untuk orang lain. Menjadi “tangan diatas”, dan menjadi manusia terbaik di sisi Allah SWT yaitu memberi manfaat untuk sesama,” kata duta besar kehormatan Jeju Island dan Busan, Korea Selatan tersebut.

Menurut Prof Rokhmin, sebagai Muslim, teladan paling ideal sebagai pengusaha adalah Nabi Muhammad SAW yang sudah berbisnis sejak usia 18 tahun hingga sebelum diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahunan. Sebab itu, pekerjaan yang terbilang mulia adalah menjadi pengusaha sesuai tuntutan Al-quran dan hadist.

Saat ini, lanjut Prof. Rokhmin banyak generasi muda di Indonesia terlalu banyak yang terobsesi terjun di dunia politik dan pemerintahan padahal menurutnya justru banyak pejabat publik yang lahir dari seorang pengusaha. “Tengok saja, di pentas politik banyak bupati, gubernur, menteri bahkan presiden, juga anggota legislatif banyak yang berlatar belakang seorang pengusaha,”

Dia pun menekankan dan mengajak para mahasiswa untuk mulai merintis usaha kecil-kecilan sejak di bangku kuliah. Artinya, sebelum sarjana punya bisnis sendiri.

“Saya juga dulu jual beli ikan, jual ikan asin jambal roti bareng dengan orantua yang keluarga nelayan. Ciputra dulu, sebelum sukses sekarang juga dari keluarga yang tergolong miskin. Dan tak jauh beda dengan Chairul Tanjung. Nah, pengusaha-pengusaha sukses itu bisa jadi inspirasi dan motivasi, Anda sebagai mahasiswa untuk terjun ke dunia bisnis,” ajak Rokhmin.

Lebih lanjut mantan menteri kelautan ini memaparkan kondisi Indonesia yang sesunguhnya punya peluang menjadi negara manju dengan motor penggeraknya para insan wirausahawan. Pertama, jumlah penduduk kita saat ini mencapai 265 juta orang atau terbesar keempat di dunia. Dengan jumlah kelas menengah yang terus bertambah, dan dapat bonus demografi dari tahun 2020–2040 itu merupakan potensi human capital (daya saing) dan pasar domestic yang luarbia sabesar. Kedua, Indonesia kaya sumber daya alam (SDA) baik di darat maupun di laut. Ketiga, dari sisi geoekonomi dan geopolitik yang sangat strategis, dimana45?ri seluruh komoditas dan produk dengan nilaiUS$ 15 triliun per tahun dikapalkan melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).

Meski demikian, negara kita memang rawan bencana alam. Tapi potensi ancaman ini semestinya sebagai tantangan yang membentuk etos kerja unggul yakni inovatif, kreatif, dan entrepreneur, serta akhlak mulia bangsa. Hanya saja faktanya memang, sudah 73 tahun merdeka, Indonesia masih sebagai negara berpendapatan menengah bawah dengan kapasitas IPTEK kelas-3. Alias, belum menjadi negara maju, adil-makmur, dan berdaulat sesuai cita-cita Kemerdekaan RI.

Rokhmin menyebutkan, kondisi yang dihadapi Indonesia saat ini adalah pendapatan per kapita masih sebagai negara berpendapatan menengah bawah yakni sebesar US$ 3.870. “Pendapatan per kapita negara menengah-atas adalah US$ 4.086 -US$ 12.615 dan negara maju lebih dari US$ 12.166, sedangkan negara menegah bawah pendapatan per kapitanya sekitar US$ 1.036 -US$ 4.085 dan negara miskin sekitar US$ 1.035. “Indonesia masih terjebak sebagai negara menengah-bawah meski sudah 73 tahun merdeka,” kata Ketua Penasehat KADIN Bidang Kelautan dan Perikanan tersebut.