Tantangan Pendidikan Era Industri 4.0

398
Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di sekolah

Oleh : Muhammad Dhofier

Hampir setiap tahun siswa kita menyabet penghargaan di tingkat internasional. Prestasi bergengsi sekelas olimpiade matematika, fisika, astronomi, biologi, robotik, animasi dan lain-lain langganan milik siswa Indonesia. Tapi, apakah hal itu juga merupakan prestasi guru-guru kita, keberhasilan sekolah-sekolah kita atau output dari sistem pendidikan kita?

Diperlukan kesadaran untuk mengakui secara jujur bahwa guru, sekolah dan sistem pendidikan kita belum sepenuhnya berjalan di rel yang semestinya. Penghargaan Internasional yang diraih oleh anak-anak Indonesia di pentas global itu masih sebatas prestasi individu, belum merata dimiliki oleh sebagian besar putra dan putri Indonesia.

Di luar panggung kompetisi, prestasi matematika, sains dan literasi kita cukup memprihatinkan. Sejak mengikuti tes Programme International for Student Assessment (PISA) tahun 2003 hingga 2015, kita masih setia menghuni papan bawah, selalu berada di urutan 10 besar dari bawah. Apa artinya? Dalam kurun waktu lebih dari satu dasawarsa kita berkutat di lembah yang sama, lembah kemandekan. Berdasarkan hasil tes itu, kita bisa bilang pendidikan kita jalan di tempat.

Padahal, selain pendidikan, pada jarak waktu tersebut (2003-2015) telah banyak sekali perubahan dalam bidang teknologi informasi. Bahkan, seorang kawan bercerita bahwa, belum sempat ia memiliki Blackberry sementara era itu telah dilibas tanpa ampun oleh perangkat Android. Seterusnya bukan saja alat, pekerjaan manusia pun demikian. Sejumlah pekerjaan sudah tidak membutuhkan tenaga orang.

Intinya, prestasi individu siswa kita dalam pelbagai bidang kompetisi, menurut hemat saya, itu prestasi murni dimiliki sendiri oleh siswa yang bersangkutan. Malah, kurang pantas jika sekolah mengklaim prestasi itu pengaruh atas sistem pembelajaran yang di bangun.

Di sekolah misalnya, tidak jarang guru atau sekolah numpang bangga dan kerap pula jumawa ketika siswanya berprestai, misalnya dalam OSN, O2SN, FLS2N, dll. Kalau saja mau jujur, apakah prestasi mereka itu hasil atas sistem yang diciptakan oleh sekolah yang bersangkutan? Atau semata-mata prestasi pribadi murid yang didapat dari usahanya sendiri melalui kursus atau les?

Menjawab tantangan zaman

Tahun 2018, World Economic Forum membuat kajian Future of Jobs Report. Dalam laporannya, sejumlah pekerjaan akan hilang karena diganti robot. Diprediksi juga bahwa, 65 persen pekerjaan yang akan digeluti oleh anak-anak usia SD sekarang adalah jenis pekerjaan yang hari ini belum ada namanya.

Pendidikan semestinya menjawab tantangan itu. Tidak ada jalan lain kecuali merubah secara radikal sistem pendidikan kita. Sayangnya, dalam tahun-tahun mendatang sepertinya kita masih harus berpeluh untuk bekerja keras mencari dan meraba-raba model seperti apa yang paling tepat diterapkan dalam pembelajaran. Sementara kita berpeluh, dunia berlari kencang meninggalkan kita.

Menurut beberapa pengamat pendidikan, Kurikulum 2013 sudah ketinggalan zaman. Kita didorong mengajarkan kemampuan dan kapasitas mental abad 21, padahal di banyak negara, pendidikan mereka sudah diarahkan pada kemampuan abad 31.

Dalam laporan Research on Improving Systems of Education (RISE), jika model pengajaran di Indonesia tidak banyak berubah, seperti sekarang ini, butuh ratusan tahun untuk mengejar posisi negara – negara yang bertengger di peringkat atas PISA.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Gerakan pendidikan alternatif di tingkat akar rumput sebenarnya telah banyak dilakukan oleh para aktivis, praktisi dan pemerhati pendidikan. Tapi apa daya, dinas pendidikan di sejumlah daerah justru terkesan mengambil jarak dengan mereka. Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) misalnya, mereka mengusung pendidikan yang lebih terbuka, menyenangkan dan humanis. Gerakan ini blusukan sendiri mencari dan membina sekolah yang mau berubah.

Komunitas Guru Belajar (KGB) juga demikian. Gerakan ini menginpirasi guru-guru agar lebih merdeka dengan terus menggali potensi dan pengetahuan melalui belajar tanpa kenal lelah.

Belum lagi, gerakan-gerakan literasi yang dimotori oleh taman baca masyarakat (TBM). Gerakan-gerakan semacam ini berjalan sendiri-sendiri. Beberapa memang sudah beririsan dengan kementerian pendidikan. Akan tetapi, konsep yang digelorakan oleh gerakan pendidikan akar rumput ini belum cukup diadaptasi oleh sekolah atau dinas pendidikan.

Dalam hal itu, langkah pertama bisa dimulai dengan membangun kesadaran kolektif para guru, bahwa sebagai ujung tombak pendidikan, selayaknyalah sadar akan peran strategis yang diemban. Tanpa mau dengan kesadaran sendiri belajar lagi, harapan kita sejajar dengan Vietnam saja, sepertinya hanya mimpi. Perlu diketahui, Vietnam baru mengikuti tes PISA tahun 2012 dan langsung merangsek ke ranking 20. Tahun 2015 yang lalu, Vietnam bahkan mampu menembus diurutan ke- 8.

Kedua, sekolah mesti berbenah. Sekolah harus memiliki visi dan misi yang ramah terhadap perubahan. Kurikulum yang dirancang oleh satuan pendidikan adalah kurikulum kehidupan. Jika orang mengatakan “pengalaman adalah guru yang terbaik”, maka pengalaman di sekolah seharusnya membekas kepada para alumni saat berjumpa dengan masa depannya.

Ketiga, dinas pendidikan bukanlah polisi administrasi. Institusi pemerintah ini sudah waktunya mengoreksi perannya. Dinas pendidikan haruslah menjadi sumber inspirasi gagasan agar sekolah dalam wilayah binaanya maju. Tidak ada salahnya dinas pendidikan merangkul gerakan-gerakan pendidikan alternatif lalu mengadaptasi ide yang dibangun untuk ditularkan ke sekolah-sekolah.

Alhasil, hari pendidikan yang setiap tahun kita peringati sebaiknya selalu menjadi pijakan untuk melangkah terus ke depan agar pendidikan berjalan pada rel yang sesungguhnya.

*Penulis merupakan Guru SMP AL FATH BSD