Dorong Pertumbuhan Berkualitas, Rokhmin Dahuri: Bangun Ekonomi Maritim

Ekonomi maritim menawarkan segudang potensi

170
Prof. Rokhmin Dahuri saat menjadi pembicara kunci Workshop Nasional “Ekonomi Maritim Indonesia” yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Kemaritiman (Kemenko Maritim) di The Papandayan Hotel Bandung, Selasa (30/4/2019).

MONITOR, Bandung – Pakar Ekonomi Maritim yang juga Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Prof. Rokhmin Dahuri mengatakan untuk meningkatkan daya saing, pertumbuhan ekonomi berkualitas, dan mewujudkan kesejahteraan, Indonesia dapat mengoptimalkan pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan sekaligus mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Demikian disampaikan Prof. Rokhmin Dahuri saat menjadi pembicara kunci Workshop Nasional “Ekonomi Maritim Indonesia” yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Kemaritiman (Kemenko Maritim) di The Papandayan Hotel Bandung, Selasa (30/4/2019).

“Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau, yang tiga perempat wilayahnya berupa laut; ekonomi maritim menawarkan segudang potensi, bukan saja untuk mengatasi permasalahan kekinian. Tetapi, juga untuk menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berkualitas dan inklusif secara berkelanjutan. Ekonomi maritim adalah semua aktivitas ekonomi yang berlangsung di wilayah pesisir dan lautan, dan di daratan lahan atas yang menggunakan bahan baku dari wilayah pesisir dan lautan,” ujranya.

Mantan menteri kelautan dan perikanan era kabinet gotong royong itu menambahkan bahwa potensi total nilai ekonomi dari kesebelas sektor tersebut sebesar 1,5 trilyun dolar AS/tahun atau 1,5 kali PDB, dengan potensi lapangan kerja sekitar 45 juta orang atau 35% total angkatan kerja.

“Dengan mengoptimalkan potensi tersebut, terjawab sudah persoalan pertumbuhan ekonomi bangsa kita yang saat ini pertumbuhannya hanya berkutat diangka 5 persen, dan ini sebenarnya yang ingin dicita-citakan pemerintahan Pak Jokowi melalui visi Indonesia sebagai poros maritim dunia,” tegasnya.

Sebagai ilustrasi, Prof Rokhmin yang juga menggambarkan betapa raksasanya ekonomi maritim Indonesia salah satunya adalah 3 juta ha lahan pesisir yang cocok untuk budidaya tambak udang Vaname. “Bila kita mampu mengembangkan usaha 500.000 ha tambak udang Vaname dengan produktivitas rata-rata 40 ton/ha/tahun (moderat), maka bisa dihasilkan 20 juta ton atau 20 milyar kg udang setiap tahunnya,” ungkapnya.

Menurut Duta Besar Kehormatan Jeju Island Korea itu, dengan harga udang saat ini 5 dolar AS/kg, maka nilai ekonomi langsungnya sebesar 100 milyar dolar AS/tahun atau sekitar 10% PDB saat ini. Keuntungan bersihnya rata-rata Rp 10 juta/ha/bulan. “Artinya, jika mulai tahun depan sampai 2024 kita buka usaha 100.000 tambak udang Vaname setiap tahunnya, maka dari udang ini saja bisa menyumbangkan 2 persen pertumbuhan ekonomi per tahun. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi sebesar 7% per tahun bagi maritim Indonesia adalah keniscayaan,” tandasnya.

Sementara, lanjut Prof Rokhmin kesempatan kerja langsung (on farm) yang bisa diciptakan dari 500.000 ha tambak udang ini sekitar 2 juta orang, dan tidak langsung (off farm) sekitar 1,5 juta orang. “Padahal, banyak sekali komoditas budidaya laut lainnya dengan nilai ekonomi sangat tinggi, seperti udang windu, ikan bandeng, nila salin, kerapu, kakap, bawal bintang, kepiting, lobster, gonggong, abalone, teripang, kerang mutiara, dan rumput laut,” katanya.

Sebagai informasi, workshop ekonomi maritim tersebut diikuti oleh sekitar 100 peserta dari berbagai Kementerian dan Lembaga, Dosen Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, Pengusaha, Perwakilan Organisasi Masyarakat (Ormas).