Khawatir Jakarta Tenggelam, Anies Terus Pantau Pintu Air Manggarai

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Anies saat meninjau langsung kondisi air di Pintu Air Manggarai.

MONITOR, Jakarta – Pasca banjir menerjang sejumlah wilayah di Ibukota Jakarta, Jumat pagi (26/4) kemarin, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, langsung melakukan pengecekan debit air yang masuk di pintu air Manggarai, Jakarta Selatan.

“Hari ini di Pintu Air Manggarai ketinggian air mencapai puncaknya, artinya fase puncak aliran air dari Ciliwung sudah terlewati,” ujar Anies saat meninjau langsung kondisi air di Pintu Air Manggarai.

Menurut Anies, salah satu penyebab dari volume aliran air yang berlimpah itu adalah sampah yang ikut hanyut terbawa aliran sungai hingga menggunung di Pintu Air Manggarai.

Widget Situasi Terkini COVID-19

Anies menyebut, tumpukan sampah ini mencapai 170 ton dalam kurun waktu kurang dari 24 jam saja.

“Jadi, sampah ini adalah sampah yang terbawa dr aliran Sungai Ciliwung dan di hari-hari sebelumnya tidak ada volume sampah sebesar ini. Dari info Kadis LH, volumenya beratnya 170 ton sampah dalam kurun waktu kurang dr 24 jam. Ini tim bekerja terus non-stop diangkut (sampahnya), sehingga tidak menganggu aliran air,” ungkapnya.

Tumpukan sampah di Pintu Air Manggarai.

Melihat realita tersebut, Anies menegaskan Pemprov DKI Jakarta akan terus membenahi permasalahan banjir di Jakarta, khususnya banjir yang diakibatkan kiriman air dari hulu. Sehingga, langkah yang paling tepat adalah menahan air sebanyak-banyaknya di hulu agar volume air yang mengalir ke Jakarta tak terlalu besar dan menyebabkan banjir.

“Situasi seperti ini membuat kita harus membangun lebih banyak waduk penampung air sebelum masuk Jakarta. Karena, kalau kita hanya bereskan di Jakarta tidak ada artinya. Mengapa? Karena nanti kita akan berhadapan dengan permukaan laut yang lebih tinggi daripada permukaan sungai. Justru yang harus dibereskan adalah bagaimana airnya ditahan di hulu, sehingga volume air di Jakarta terkendali,” terangnya.

Kata Anies, saat ini, Pemerintah Pusat sedang melaksanakan pembangunan dua waduk di daerah Ciawi dan Sukamahi, Kabupaten Bogor, yang ditargetkan rampung pada Bulan Desember. Meskipun demikian, Gubernur Anies tetap akan mengupayakan penyelesaian permasalahan banjir dari hulu dengan membangun kolam-kolam retensi.

“Kita perlu tambah lagi (waduk-waduk di daerah hulu), kita juga siapkan kolam retensi untuk menahan aliran air agar terkontrol saat masuk ke Jakarta,” tandasnya.

Sampai dengan pukul 18:00 WIB, banjir sudah surut di beberapa titik lokasi, seperti di Kel. Lenteng Agung RW 07, Kel. Srengseng Sawah RW 01, Kel. Cikoko RW 01 dan Kel. Pejaten Timur RW 05 s.d 08. Pasca banjir, Satgas SDA Kecamatan melakukan pembersihan lumpur di titik lokasi yang sudah surut.

Sementara itu, Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta melalui Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan dan Jakarta Timur mengirimkan bantuan logistik, makanan siap saji, dan mendirikan tenda pengungsi, serta dapur umum untuk pengungsi akibat bencana banjir 26 April 2019. BPBD pun telah mengirimkan bantuan logistik untuk pengungsi berupa air mineral, biskuit, family kit, dan matras.

Untuk diketahui, daerah terdampak banjir pada tanggal 26 April 2019 terdiri dari 26 titik Banjir yang meliputi 5 titik di wilayah Jakarta Selatan dan 21 titik di wilayah Jakarta Timur. Untuk daerah terdampak banjir di wilayah Jakarta Selatan tepatnya di Kel. Pengadegan RW 01, Kel. Rawa Jati RW 01, 03, 07, dan Kel. Kebon Baru RW 010, dengan ketinggian banjir berkisar antara 10 cm s.d 100 cm. Sedangkan daerah terdampak banjir di wilayah Jakarta Timur meliputi Kel. Cawang RW 01,02,03,05,012, Kel. Balekambang RW 05, Kel. Cililitan RW 07, Kel. Kamp.Melayu RW 04 sampai 08, dan Kel. Bidara Cina RW 04,05,06,07,011,012,014,015,016 dengan ketinggian banjir berkisar antara 10 cm s.d 230 cm.