Sekjen Kementerian ESDM Ungkap Parameter Keberhasilan Reformasi Birokrasi

16
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial (dok: Humas ESDM)

MONITOR, Jakarta – Salah satu tolak ukur keberhasilan reformasi birokrasi adalah perubahan etos kerja dan pola pikir Aparatur Sipil Negara (ASN). Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial dalam pengarahan Reformasi Birokrasi di lingkungan Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM di Gedung Chairul Saleh Kementerian ESDM Jakarta, Kamis (25/4).

“Saya mengajak semua ASN yang ada di sini untuk berniat meningkatkan budaya kerja dari hal-hal yang simpel, seperti menghadiri rapat tepat waktu atau melayani tamu dengan optimal. Ini salah satu kunci perubahan budaya kerja,” ujar Ego Syahrial.

Ia menjelaskan reformasi birokrasi dijadikan sebagai tonggak perubahan dalam memperbaiki organisasi maupun individu. Untuk itu, Ego mendorong semua pimpinan terjun langsung menjadi contoh (role model) bagi organisasi dan pegawai yang dipimpinnya.

“Hendaknya, para Kepala Biro dan Kepala Pusat di lingkungan Setjen jadi role model,” harap Ego.

Para pimpinan, lanjut Ego, semestinya memberikan contoh sederhana dalam menjalankan reformasi birokrasi, seperti tidak menunda pekerjaan, melaksanakan tugas dengan perlakuaan sama dan tanpa menerima pemberian ataupun kemudahan fasilitas.

Sejatinya, reformasi birokrasi dimaksudkan untuk menyederhakan rantai birokrasi agar berjalan secara optimal, efisien dan efektif. Maka dari itu, Ego manganjurkan ke depan para pegawai di lingkungan Kementerian ESDM menggunakan sistem elektronik (e-kinerja) dalam memonitoring semua pekerjaan.

“Saya harapkan kami dapat menjadi yang terdepan dalam implementasi e-kinerja di lingkungan Kementerian ESDM,” kata Ego.

Sebagaimana diketahui, reformasi birokrasi dimaksudkan untuk perbaikan dan peningkatan tata kelola pemerintahan yang bersih dan akuntabel di bidang keuangan, kepegawaian, hukum, perencanaan, keorganisasian, pelayanan publik hingga keterbukaan informasi.