Minta Prabowo Hentikan Klaim Kemenangan, PDIP Tantang BPN Buka Data

780
Deklarasi 'Kemenangan' Prabowo di Kertanegara, Kamis (18/4/2019).

MONITOR, Jakarta – Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto meminta Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto untuk menghentikan klaim kemenangan Pilpres 2019 secara sepihak. Pasalnya, menurut Hasto Prabowo tidak pernah menunjukkan bukti rekapitulasi hasil penghitungan suara riil Pemilu 2019.

“Pak Prabowo mengklaim kemenangan sepihak, tapi tidak pernah bisa menunjukkan hasil rekapitulasi penghitungan suara riil Pemilu 2019, berdasarkan data C1,” kata Hasto Kristiyanto melalui pernyataan tertulisnya, di Jakarta, Kamis (25/4/2019).

Menurut Hasto, PDI Perjuangan mendapat informasi bahwa Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno sedang melobi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) untuk mendapatkan dokumen C1.

“BPN juga tidak kompak dengan menyebutkan tempat di mana rekapitulasi suara dilakukan. Karena itu, wajar jika publik menuduh klaim kemenangan yang dilakukan Pak Prabowo hanya tindakan provokasi tanpa bukti,” tambahnya.

PDI Perjuangan tegas Hasto mengingatkan bahwa nilai kejujuran adalah indikator moral yang sederhana dalam politik. “Dengan sikap BPN yang tidak mau transparan dalam rekapitulasi suara, tidak bersedia diaudit, dan klaim sepihak kemenangan tanpa bukti, menjadi indikasi kebohongan dalam politik,” ungkapnya.

Hasto yang Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin itu menambahkan, berdasarkan realitas tersebut di atas, maka Pusat Rekapitulasi “JAMIN” yang dilakukan TKN Jokowi-Ma’ruf Amin maupun Badan Saksi Pemilu Nasional (BSPN) PDI Perjuangan mengundang perwakilan BPN untuk melihat sistem rekapitulasi yang dilakukan berdasarkan dokumen otentik C1.

“Kami undang lima personel, yakni dua dari BPN dan tiga dari pengamat politik, serta disaksikan oleh media dan perwakilan mahasiswa. Setelah itu, giliran kami yang datang ke Pusat Hitung BPN. Biar rakyat tahu, mana yang klaim dengan bukti, dan pihak mana yang memprovokasi,” tantangnya.