Kelengkeng Merah dikembangkan di Pekalongan Lampung Timur

28
Kelengkeng merah Lampung doc : kementan

MONITOR, Lampung – Kelengkeng merah atau sering disebut Ruby Longan merupakan varietas tanaman buah kelengkeng varietas yang paling terbaru dan sangat unik. Kecantikan warna buahnya membuat kita betah hanya untuk duduk memandangnya. Bayangkan saja, bukan cuma kulit buahnya yang berwarna merah, tapi daunnya, pucuknya, batangnya bahkan sampai bijinya pun berwarna merah.

Kelengkeng ini sangat mencuri perhatian Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi, saat melakukan kunjungan ke penangkar bibit hortikultura di Desa Tulus Rejo, Kecamatan Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur, Jum’at (12/04) didampingi Kabid Hortikultura Dinas TPH Provinsi Lampung, Muverdi.

“Keunikan kelengkeng merah ini adalah ukuran buahnya nyaris lebih besar daripada jenis yang lainnya. Untuk urusan rasa, tidak perlu diragukan lagi, kelengkeng merah ini rasanya sangat manis. Tolong kembangkan terus disini, sehingga akan banyak diminati”, pesan Suwandi.

Wilayah ini merupakan daerah yang diberi anugerah kondisi alam memadai untuk usaha sektor pertanian. Kondisi tanah yang subur, sarana irigasi yang memadai dan akses jalan penghubung antar beberapa kabupaten membuat kecamatan di perbatasan tersebut dikenal sebagai sentra pembibitan tanaman berbagai jenis.

Beberapa petani dan penangkar pembibitan pun berkembang pesat baik dari skala rumahan hingga usaha yang sudah membentuk badan usaha dan dikelola dengan serius sebagai sumber utama penghasilan warga.

Yang menarik teknik perbanyakan bibit yang digunakan adalah teknik sambung susu. Beberapa orang yang masih awam pasti bingung saat mendengar salah satu cara perbanyakan tanaman dengan nama teknik sambung susu.

Teknik sambung susu merupakan salah satu cara memperbanyak tanaman yang bisa dibilang akan menghasilkan pohon yang cepat berbuah, bila proses yang dilakukan tepat. Teknik ini dinamakan sambung susu karena pada saat memperbanyak tanaman bagian batang atas disambungkan dengan cara seperti “digendongkan” atau “disusukan” ke batang bawahnya.

Penangkar buah, Kris, menerangkan tentang teknis sambung susu ini. “Ini bibit manggis umur 8 bulan di sayat untuk batang bawah, disambungkan dengan pohon manggis kaligesing yang umurnya 7 tahun“, terangnya.

”Satu kali proses penyambungan dari satu pohon bisa mendapatkan 300-500 bibit, tergantung jumlah cabangnya. Sambungan dibungkus plastik, disimpan selama 3 bulan”, tambah Kris.

Pemilik lahan dan penangkar buah, Lilis, menggunakan teknik sambung susu untuk memperbanyak tanaman buah miliknya seperti jeruk, mangga arumanis, kiojay, chokanan, manggis, rambutan, durian, sawo, alpukat dan pastinya kelengkeng.

Berawal dari membeli bibit asal Vietnam 2 tahun yang lalu, kini Lilis telah memiliki sekitar 3000 pohon kelengkeng merah yang dijual seharga 100 ribu per pohon, dan juga bermacam tanaman buah lainnya.

”Jadi ini teknik yang sederhana dan lebih praktis. Hasil awal berbuah, bukan untuk dijual tapi diperbanyak. Tanaman ini harus kena sinar matahari langsung, kelebihannya tidak perlu menggunakan booster (pupuk perangsang buah), pendek sudah berbuah, buahnya menarik dan besar-besar”, tambah ibu 2 anak ini.

“Alhamdulillah saya merintis usaha dengan suami. Mempekerjakan pemuda di sini, dan menerima siswa magang selama 3 bulan, mereka tidak pernah berhenti kesini bergantian untuk belajar”, ungkapnya.

Dia menambahkan, karena sifatnya masih baru sehingga baru dipasarkan ke Lampung, Jambi, palembang, Bangka Belitung dan Aceh. “Harapan saya kelengkeng ini bisa disertifikasi agar lebih berkembang”, pintanya.

Dengan segala keunggulannya, kelengkeng merah ini akan menjadi primadona pecinta tanaman buah dan pastinya akan membuat kita semakin jatuh cinta padanya.