Menelisik Kepribadian Seseorang dari Media Sosial

1018

Oleh:

Sigit Apriyanto, S.Pd.,M.Pd

Dalam kehidupan komunitas, media memainkan peranan penting dan memiliki efek berbeda pada masyarakat. Jejaring sosial di situs web telah berkembang pesat dalam dekade terakhir.

Pada Januari 2005, survei situs jejaring sosial telah mencapai 115 juta anggota dan terus bertambah hingga saat ini. Saat membuat profil media sosial, pengguna menarasikan tentang dirinya dan yang ada di dalamnya, pembaruan status, foto, dan lainnya, sehingga kepribadian dapat diamati melalui media sosial.

Twitter adalah salah satu media sosial yang digunakan di banyak negara untuk mengekspresikan perasaan, kegiatan dan ditulis dalam satu atau dua kalimat singkat.

Informasi yang terkandung di media sosial dapat diproses dan digunakan untuk memprediksi kepribadian pengguna, yang terdiri dari kata-kata sosial, emosi positif, dan emosi negatif. Dalam ranah yang lebih spesifik, politik misalnya, informasi kepribadian dapat digunakan sebagai dasar penilaian publik dalam sistem pemerintahan.

Tentunya, dalam memperolehnya diperlukan adanya sistem prediksi kepribadian untuk menghubungkan antara media sosial dengan kepribadian seseorang.

Di dunia psikologi, banyak tes yang bisa digunakan untuk melakukan tes kepribadian seseorang. Tentunya tidak hanya berhenti dalam tahapan tes saja, melainkan perlu analisis keilmuan secara mendalam lagi. Dimensi kepribadian dapat dilakukan dengan menggunakan metode komunal.

Salah satu metode adalah pertanyaan kuesioner yang mencakup karakteristik skala dari yang paling setuju sampai yang paling tidak setuju. Tetapi metode ini memiliki kelemahan karena hasil prediksi kuesioner yang kurang valid.

Software Terbarukan

Sistem prediksi kepribadian berbasis perangkat lunak telah dikembangkan oleh beberapa peneliti sampai sekarang dan telah diterapkan pada beberapa aspek kehidupan melalui media sosial (seperti Facebook, Twitter, dan Instagram).

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengulas tentang software LIWC (Linguistic Inquiry and Word Count). LIWC (sering diucapkan ‘Luke’) adalah software penghitungan kata yang dikembangkan oleh psikolog sosial James Pennebaker dan timnya di University of Texas.

Linguistic Inquiry dan Word Count (LIWC) adalah perangkat lunak penghitungan kata yang biasa digunakan untuk analisis teks kuantitatif dalam ilmu sosial, linguistik, dan kedokteran. Meskipun LIWC mampu mengukur fitur dalam teks yang memungkinkan klasifikasi dan prediksi teks untuk hasil perilaku, lebih terutama lagi dapat digunakan untuk mengidentifikasi fitur kata informatif tentang keadaan psikologis penulis atau penuturnya.

LIWC pada awalnya dikembangkan untuk mengatasi masalah analisis konten dalam psikologi eksperimental.
Sebuah “tantangan” untuk Peneliti Muda
Indonesia sudah tiba masanya untuk tumbuh berkembang menjadi negara maju, lebih khusus untuk para akademisi.

Penulis menyadari bahwa tidaklah mudah membuat pemahaman baru disaat sekelompok orang masih terjebak dalam kondisi pemikiran klasikal. Enggan keluar dari “Comfort Zone”.

Melihat negara sebelah, Malaysia, pemerintah benar-benar mendampingi, mendukung baik moril dan materil untuk kemajuan teknologi, science, khususnya SDM itu sendiri. Tidak heran, jika kualitas peneliti di sana lebih maju. Hal ini dilihat dari kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah (termasuk produknya) yang sangat banyak dan terindeks.

Hal ini menjadi PR untuk kita semua. Penulis dalam hal ini juga sebagai mahasiswa doktoral Linguistik Forensik di Malaysia, merasa ikut bertanggung jawab atas dinamika yang ada di lingkungan akademis.

Sudah tiba masanya kita bangkit untuk kehidupan dan pendidikan yang lebih maju dan bermartabat. Salam hangat.

 

*) Penulis adalah kandidat doktor forensik linguistik, Under Faculty of Applied Science and Technology, University Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), Dosen Pendidikan dan Sastra Inggris UM Lampung, dan Anggota Komunitas Linguistik Forensik Indonesia (KLFI).