Berkunjung ke IAIN Bone, Mentan: Sebarkan Virus Kebaikan dari Kampus

1008
Mentan Andi Amran memberikan kuliah umum di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone.

MONITOR, Bone – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan kunjungan ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone guna memberikan kuliah umum, Jumat (15/3). Kuliah umum ini bertujuan untuk memberikan motivasi kepada mahasiswa agar meraih kesuksesan di kampus hingga setelah lulus nantinya. Menteri yang juga putra Bone ini tiba di Kampus IAIN pukul 09.00 WITA dan disambut lebih dari 2000 mahasiswa.

Mengawali pembukaan kuliah umum, Rektor IAIN Bone Prof Andi Nuzul, memberikan apresiasi dan terimakasih yang luarbiasa atas kunjungan Mentan Amran. Ia mengakui baru kali ini ada Menteri yang datang di kampus IAIN Bone.

“Menteri Agama sudah beberapa kali rencana tapi cancel karena kesibukan. Hari ini tentu segenap civitas akademika IAIN Bone mendapatkan berkah yang luar biasa atas kedatangan Bapak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman,” demikian ujarnya.

Prof Andi Nuzul menyebutkan Mentan Andi Amran Sulaiman merupakan menteri pertama yang datang ke kampus hijau sejak berdiri. “Sejak 1964 IAIN Bone berdiri, ini adalah kunjungan Menteri pertama,” sebutnya.

Selain itu, Prof Andi Nuzul pun menyampaikan terima kasih kepada Mentan Amran yang telah menghubungi Dirjen Pendidikan Islam agar memberikan bantuan AC sebanyak 50 unit AC. “Kami pun berharap kedatangan Pak Mentan bisa membawa berkah dan bantuan lainnya untuk IAIN Bone,” ujarnya.

Dalam mengawali kuliah umumnya, Mentan Amran memaparkan hasil kinerja Kementan selama 4,5 tahun pemerintah Jokowi-JK yang telah mencapai meraih banyak capaian yang membanggakan. Inflasi pangan awalnya 10,57 persen menjadi 1,26 persen.

“Kalau inflasi naik, kemiskinan naik dan kalau inflasi turun jauh, petani yang merugi. Ini posisi ideal, ukuran pertumbuhan ekonomian Indonesia,” ungkap Menteri Amran.

Kemudia lanjut Amran, ekspor pangan naik 29,7 persen nilainya Rp 1.360 triliun dan investasi naik 110 persen nilainya Rp 94,2 triliun. Selain itu, kontribusi sektor pertanian meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional (PDB) naik 47,2 persen, nilainya Rp 1.375 triliun.

“Dulu waktu serah terima, ekspor pertanian Rp 400 triliun, ini angka kumulasi, jadi ada kenaikan kurang lebih Rp 100 triliun. Kemudian ada el nino terdahsyat sepanjang sejarah, tapi alhamdulillah kami bisa lewati,” sebutnya.

Menurut Amran, capaian tersebut diraih melalui langkah atau program terobosan, sehingga tidak serta merta terjadi. Di antaranya melalui perubahan kebijakan atau perubahan sistem melalui online single submission dan pengurusan izin dokumen ekspor yang disusun sesingkat mungkin.

“Dulu mengurus izin bisa butuh waktu 3 tahu, 1 tahun, 3 bulan. Tapi hari ini di Kementan tanpa pungli, kalau kami temukan kami langsung pecat, sekarang mengurus izin hanya butuh 3 jam dan tidak perlu ketemu. Hasilnya investasi naik dan berdampak pada inflasi turun sehingga sektor pertanian, penyumbang terbesar penurunan inflasi,” bebernya.

Lebih lanjut Amran mengungkapkan capaian pembangunan pertanian mampu juga meningkatkan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP). Kenaikan ini menarik karena dicapai di tengah inflasi tertekan.

“Kenapa? Karena kita mencoba memotong rantai pasok yang cukup panjang, disparitasnya 100 sampai 300 persen, ini yang kita tekan agar petani untung, pelaku usaha untung dan konsumen pun tersenyum. Kita bagi 3 semuanya harus untung. Dulu gini rasionya atau ketimpangan tinggi, sehingga kemiskinan tinggi karena ada sekelompok orang yaitu middle man yang menguasai pangan. Ini yang kita hentikan lajunya. Hasilnya mafia pangan yang masuk penjara 409 dan 782 yang proses hukum ,” ungkap dia.

Tak hanya ini, sambung Amran, capaian sektor pertanian selama 4 tahun yang menarik yakni menurunkan kemiskinan pedesaaan dari 17,74 juta orang menjadi 15,81 juta orang. Begitu pun minat mahasiswa terhadap jurusan pertanian meningkat.

“Berdasarkan data Ditjen Dikti, tahun 2018 mahasiswa pertanian meningkat 64,16 persen dibanding 2010 sehingga ini membuktikan sektor pertanian semakin menarik,” ucapnya.

Selanjutnya, Amran menuturkan Kementan telah menghasilkan teknologi jagung 2 tongkol. Juga sapi belgian blue yang merupakan hasil riset puluhan tahun. “Teknologi baru diteliti 200 tahun, sehingga saya beli ambil spermanya. Subtropis pertama di Indonesia, saya kasih nama Gator Kaca,” tuturnya.

“Mahasiswa jangan takut bertani, apapun jurusannya. Sapi kita 2 tahun 300 kilogram. Tapi ini bisa 1 sampai 2 ton, harganya 200 juta per ekor dan Rp 2 miliar per tahun. Serakang sudah lahir 400 ekor. Sekali orgasme 4 juta. Sekarang sudah tidak beli. Itu namanya cerdas,” sambung Amran.

Oleh karena itu, Amran menekankan bahwa para mahasiswa mempunyai potensi besar untuk ikut mensejahterakan masyakarat. Sebab, Indonesia merupakan negara yang kaya dan tanahnya subur sehingga dengan menanam cabai dan sayuran sekitar rumah saja dapat mensejahterakan rakyat.

“Mahasiswa kelak setelah lulus haru menjadi generasi penerus pemimpin terlebih kalian adalah mahasiswa IAIN yang berbekal agama dan akhlak yang baik. Kalian harus kerja, jangan tinggalkan ruangan ini kalau tidak sejahtera,” tegas Amran.

“Mau tau syarat menjadi sukses dan kaya? Yang pertama, jujur. Kedua, Rajin, dan ketiga, kerja keras,” pintanya.

Oleh karena itu, Amran meminta mahasiswa agar jangan meminta uang ke orang tua, karena sudah pada usia dewasa yang sudah pantas untuk mencari uang sendiri. Mahasiswa harus melatih diri dengan belajar mulai berwirausaha.

“Bisa dengan menjual kangkung, pecel. Tidak ada gengsi. Latih mental, jangan buat proposal-proposal. Orang mulia itu tangan diatas, biasakan mandiri. Setuju?,” kata Amran langsung disambut setuju para mahasiswa.

Dalam kunjungan ini, Mentan Amran memberikan bantuan ke IAIN Bone sebanyak 5 unit traktor roda dua dan bibit jagung. Hadir Bupati Bone, Andi Fahsar M Padjalangi, Direktur Alat dan Mesin Pertanian, Kementerian Pertanian, Andi Nur Alam Syah, Wakil Bupati Bone Ambo Dalle, Danrem 141 Toddoppuli Kolonel Inf Suwarno, Ketua DPRD Bone A Akbar Yahya, pimpinan Muspida Bone, serta civitas akademika IAIN Bone.