INDUSTRI

Indonesia Manfaatkan IA-CEPA untuk Tingkatkan Ekspor Industri Manufaktur Nasional

MONITOR, Jakarta – Industri manufaktur nasional memiliki peluang besar untuk lebih meningkatkan nilai ekspornya ke Negeri Kanguru. Kesempatan ini seiring telah ditandatanginya Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Kami sangat menyambut baik kerja sama ekonomi yang komprehensif ini, karena menjadi momentum untuk sama-sama memacu pertumbuhan ekonomi yang saling menguntungkan bagi kedua negara, kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat menghadiri penandatanganan IA-CEPA di Jakarta, Senin (4/3).

IA-CEPA diteken oleh Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita dan Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia Simon Birmingham. Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menyaksikan proses penandatanganan tersebut.

Ekspor Indonesia akan meningkat ke Australia, karena komitmen negara kanguru untuk mengeliminasi bea masuk impor untuk seluruh pos tarifnya menjadi 0 persen. Beberapa produk Indonesia yang berpotensi untuk ditingkatkan ekspornya, antara lain produk otomotif (khususnya mobil listrik dan hybrid), kayu dan turunannya termasuk furnitur, tekstil dan produk tekstil, ban, alat komunikasi, obat-obatan, permesinan, serta peralatan elektronika.

IA CEPA memberikan persyaratan QVC (kualifikasi konten lokal) yang lebih mudah untuk kendaraan listrik dan hybrid asal Indonesia, sehingga industri otomotif Indonesia dapat mengekspor kendaraan listrik dan hybrid ke Australia tanpa harus membangun seluruh teknologi dan fasilitas produksi dari nol. Diharapkan kendaraan listrik dan hybrid menjadi andalan ekspor RI masa depan.

Bagi Indonesia, ekspor produk manufaktur yang tengah kita pacu adalah textile, clothing dan footwear. Selama ini, komoditas ekspor unggulan Indonesia ke Negara Kanguru tersebut, antara lain furnitur, produk karet dan kimia olahan, makanan dan minuman, tekstil, serta elektronika.

Airlangga menyampaikan, pihaknya masih berkeinginan untuk dapat meningkatkan ekspor ke Asutralia berupa kendaraan dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) baik itu yang mesin menggunakan bahan bakar maupun elektrik. Karena industri otomotif di sana tutup semua. Ini menjadi peluang bagi kita, ujarnya.

Lebih lanjut, sektor industri manufaktur Indonesia juga dapat mengakses bahan baku dasar atau penolong produksi yang lebih murah dan berkualitas untuk kemudian diekspor ke negara lainnnya.

Keuntungan IA-CEPA bagi Indonesia, di antaranya preferensi ketentuan asal barang yang lebih baik, peningkatan standar profesi Indonesia yang akan dimulai dengan mutual recognition di sektor engineering, serta kepastian dan jaminan hukum bagi perusahaan Australia untuk berinvestasi di Indonesia

“Dalam jangka menengah, proyek kerja sama dalam kerangka IA-CEPA memprioritasikan pembangunan kapasitas sumber daya manusia Indonesia melalui program pendidikan vokasi, kemudian pelaksanaan kegiatan promosi dan inovasi untuk meningkatkan standar dan daya saing, serta pemberdayaan industri baik skala besar, berbasis teknologi tinggi, maupun yang kecil dan menengah termasuk pengembangan sektor kreatif dan e-commerce,” papar Menperin.

Australia merupakan salah satu mitra dagang penting dan potensial bagi Indonesia. Selain itu, Australia merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-17 dan negara sumber impor non-migas ke-8 bagi Indonesia.

Total perdagangan bilateral pada tahun 2018 sebesar USD 8,6 miliar. Ekspor Indonesia tercatat bernilai USD 2,8 milliar. Adapun komoditas impor Indonesia dari Australia, mayoritas merupakan bahan baku atau bahan penolong industri, seperti gandum, batubara, bijih besi, alumunium, seng, gula mentah, susu dan krim yang diolah untuk menghasilkan produk jadi dengan nilai tambah tinggi.

Produk ekspor utama Indonesia ke Australia pada tahun 2018, di antaranya petroleum sebesar USD636,7 juta, kayu dan furnitur USD214,9 juta, panel LCD, LED, dan panel display lainnya USD100,7 juta, alas kaki USD96,9 juta, dan ban USD61,7 juta.

Investasi Australia di Indonesia tahun 2018 mencapai USD597,4 juta dengan 635 proyek terdiri lebih dari 400 perusahaan Australia yang beroperasi di berbagai sektor seperti pertambangan, pertanian, infrastruktur, keuangan, kesehatan, makanan, minuman dan transportasi.

Recent Posts

Kementerian UMKM Apresiasi KSP Guna Prima Dana, Dinilai Jadi Contoh Koperasi Penyalur KUR Nasional

MONITOR, Badung - Wakil Menteri UMKM, Helvi Yuni Moraza melakukan kunjungan kerja ke Koperasi Simpan…

46 menit yang lalu

Akad Massal KUR 1.000 UMKM Kreatif Bali, Pemerintah Perluas Akses Pembiayaan dan Digitalisasi

MONITOR, Bali – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat…

2 jam yang lalu

Jelang Puncak Haji 2026, Kemenhaj Ingatkan Jemaah Hemat Energi dan Tertib Ihram Sejak Embarkasi

MONITOR, Jakarta — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia mengingatkan seluruh jemaah haji Indonesia untuk…

3 jam yang lalu

Soroti Penggunaan Ruang Ketua DPRD Kabupaten Serang, FAMS Desak Fokus pada Masalah Rakyat

MONITOR, Serang — Forum Aktivis Muda Serang (FAMS) mempertanyakan penggunaan ruang Ketua DPRD Kabupaten Serang yang…

3 jam yang lalu

Kemenag Perkuat Strategi Komunikasi Pesantren Ramah Anak dan Bebas Kekerasan

MONITOR, Jakarta — Kementerian Agama RI melalui Direktorat Pesantren Ditjen Pendidikan Islam menyelenggarakan kegiatan Strategi…

3 jam yang lalu

Mitigasi El Nino, Kementan Masifkan Pendampingan Swasembada Pangan Berkelanjutan di Sukabumi

MONITOR, Sukabumi - Kementerian Pertanian (Kementan) terus memasifkan langkah strategis dan pendampingan lapangan guna memitigasi…

18 jam yang lalu