Pengamat: SPM Trans Jawa Harus “Out Of The Box” Dari SPM Biasa

Ruas Tol Trans Jawa (Dok. Jasa Marga)

MONITOR, Jakarta – Sejak diresmikan pada 20 Desember 2018 lalu, tersambungnya Tol Trans Jawa dari Merak hingga Grati terus menjadi perhatian publik, hal itu mengingat menurut para pengamat, untuk pertama kalinya Indonesia memiliki jalan tol dengan panjang 994 km.

Panjangnya Tol Trans Jawa juga harus disertai penambahan Standar Pelayanan Minimal (SPM), demikian diungkapkan oleh Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagyo. Menurutnya, secara umum masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan jalan tol sepanjang Tol Trans Jawa, maka hal-hal diluar jangkauan SPM pun perlu diperhatikan.

“Orang Indonesia itu kan baru sekali ini punya jalan tol panjang, mereka kebanyakan belum paham betul cara menyetir di tol dengan aman. Operator jalan tol harus ekstra hati-hati untuk memberikan rambu bagi keselamatan mereka (pengguna jalan tol)” ungkap Agus di Jakarta, Jumat (22/2).

Agus Pambagyo mencontohkan, hal-hal diluar jangkauan SPM yang harus diperhatikan diantaranya rambu-rambu peringatan terkait durasi mengemudi di jalan tol, peringatan tentang tekanan ban dan peringatan untuk beristirahat. Hal itu penting diperhatikan lantaran menurutnya, suhu ban dengan metal belt memerlukan pendinginan di tengah suhu jalan yang bisa mencapai 40 derajat celcius.

“Untuk jalan tol panjang dengan suhu udara 40-an, cukup rawan (pecah ban-red). Karena untuk kedaraan standar dunia itu dua jam anda harus beristirahat. Selain istirahat untuk tubuh kita mengemudi, istirahat untuk kendaraan juga. Nah itu harus ada peringatan,” tuturnya.

Selain soal peringatan keselamatan, ia juga menyoroti masalah over speed, menurutnya operator jalan tol harus bekerja sama dengan pihak terkait dalam mempertegas penindakan over speed di Tol Trans Jawa. Menurutnya, kondisi Tol Trans Jawa yang cukup panjang dan masih dijumpainya beberapa ruas yang bergelombang, penting untuk memperhatikan masalah over speed.

“Saya khawatir terkait over speed masih disepelekan, dan ini berbahaya bagi sisi pengguna. Yang bisa dilakukan oleh operator setidaknya memberikan rambu-rambu baik yang statis maupun yang digital. Ini kan (Tol Trans Jawa) masih sepi, biasanya kalau sepi kecelakaannya tunggal, nah kalau nanti sudah ramai, ini yang berbahaya. Jadi harus out of the box dari SPM yang biasa dipakai untuk jalan tol di Indonesia” tandasnya.

Untuk rest area, Agus Pambagyo mengungkapkan, saat ini standar keberadaan rest area masih berada di pinggir ruas jalan tol, padahal, kata dia, untuk mengantisipasi membludaknya pengguna jalan tol saat libur lebaran, rest area juga bisa dibangun di area yang juga tersedia akses keluar maupun masuk jalan tol.

“Rest area kita standarnya kan di pinggir jalan, padahal kan tidak harus, karena ketika kita punya tradisi mudik lebaran, itu kan bisa meluap ke pinggir jalan, nah ada baiknya selain lahan parkir yang luas ada akses masuk atau keluar,” ungkapnya.

Selain itu, terkait dengan ketersediaan rambu-rambu lalulintas di sepanjang Jalan Tol Trans Jawa, diakui Agus, pengelola sudah lumayan cukup memasang rambu. Terutama ditempat-tempat tertentu yang dinilai rawan terjadinya aksiden atau kecelakaan.

“Untuk rambu-rambu saya lihat lengkap dan sesuai SPM” imbuh Agus