JABAR-BANTEN

Jahe Garut Berpotensi Ekspor

MONITOR, Garut – Jahe termasuk komoditas hortikultura bernilai ekonomi cukup tinggi sebab memiliki banyak manfaat. Mulai sebagai bahan baku pembuatan minuman penghangat, bumbu dapur, penambah rasa atau penyedap makanan hingga bahan baku herbal.

Jahe merupakan salah satu jenis tanaman obat unggulan Kabupaten Garut. Salah satu kelompok tani yang telah membudidayakan tanaman jahe terutama jahe gajah terdapat di Desa Pasanggrahan, Kecamatan Cilawu tepatnya di Kelompok Tani Pasir Damang.

“Desa Pasanggrahan, Kecamatan Cilawu merupakan sentra jahe yang berada di bawah kaki gunung Cikuray, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya,” ucap Dani, penyuluh pertanian Kecamatan Cilawu.

Luas lahan yang ditanami jahe selalu menunjukan peningkatan seiring minat para petani yang makin tinggi karena lebih menguntungkan. “Sebagian besar budidaya jahe ditanam dengan sistem tumpangsari jagung, jahe dan kacang tanah, padahal masih terbuka luas untuk menambah luasan tanam,” lanjut Dani.

Pintu gerbang ekspor jahe melalui Sub Terminal Agrobisnis (STA) Bayongbong. Biasanya para pelaku eksportir tidak langsung melakukan pengiriman, terlebih dulu dibersihkan, dijemur, disortir, ditimbang, serta dikemas sebelum dikirim ke luar negeri agar kualitas jahe tetap terjamin.

Peluang untuk ekspor masih terbuka luas, permintaan jahe saat ini terutama berdatangan dari sejumlah negara. Di antaranya Bangladesh, Pakistan, Belanda dan Brunei Darussalam. “Pembeli luar negeri lebih tertarik jahe dari Garut bila dibandingkan jahe dari Vietnam dan Thailand. Ini disebabkan kandungan minyak atsiri, pati dan serat jahe Garut lebih baik,” ungkap Khaerul Zakaria, Manajer Pengelola STA Bayongbang.

Rimpang jahe yang akan diekspor ini dihimpun dari sentra-sentra produksi seperti kecamatan Wanaraja, Cilawu, Bayongbong, Caringin, Pameungpeuk, Bungbulang dan Kecamatan Pasirwangi.

“Aktivitas ekspor jahe Garut, untuk sementara di tahun 2018 tidak ada. Ini karena minimnya pasokan jahe dari Garut, sementara persyaratan pembeli luar negeri mewajibkan 1.000 ton per tahun. Sebelumnya tahun 2016 dapat mengekspor jahe sebanyak 1.000 ton dan tahun 2017 sebanyak 1.500 ton,” lanjut Khaerul. “Saat ini harga jahe di tingkat pasar lokal Garut berkisar Rp 20 – 25 ribu per kilogram, sayangnya sudah masuk jahe dari Vietnam dan Thailand.”

Salah satu tantangan dalam merespon permintaan untuk ekspor jahe adalah masih terbatasnya kawasan jahe di Garut. Menurut Data BPS Garut 2017 kawasan jahe di wilayah ini mencapai 508 Ha.

Recent Posts

Tingkatkan Tata Kelola Zakat, Menag Dorong Audit Syariah Nasional

MONITOR, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya penguatan tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas…

12 menit yang lalu

Indonesia Perkuat Standar Kesehatan Hewan di Tengah Pembatasan Impor Unggas Saudi

MONITOR, Jakarta — Kementerian Pertanian menyatakan kebijakan pembatasan impor unggas dan telur oleh Otoritas Pangan…

39 menit yang lalu

Kemenperin Dorong Industri Perhiasan Go Global Lewat JIJF 2026

MONITOR, Jakarta - Industri perhiasan dalam negeri memiliki potensi besar untuk bersaing di kancah global.…

2 jam yang lalu

Fakta Ilmiah Eritrosit; Triliunan Sel Darah Merah Bekerja Tanpa Henti dalam Tubuh

MONITOR, Rangkasbitung - Eritrosit atau sel darah merah selama ini dikenal dalam dunia medis sebagai…

3 jam yang lalu

Kemenag dan British Council Cetak Sejarah, Latih Guru Madrasah se-RI

MONITOR, Jakarta - Program Continuing Professional Development (CPD) untuk penguatan kapasitas guru secara berkelanjutan dan…

6 jam yang lalu

Bersama Hotman Paris, DPR Dalami Tuntutan Mati ABK Fandi Ramadhan

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI Martin Daniel Tumbelaka menyoroti tuntutan hukuman mati…

13 jam yang lalu