Jumat, 24 September, 2021

Gunung Krakatau “Batuk” 423 Kali, Warga Diimbau Jauhi Pantai

MONITOR, Jakarta – Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, Gunung Krakatau mengalami erupsi lebih dari 400 kali dengan tinggi asap dari puncak mencapai 1.500 meter.

“Teramati 423 kali letusan, Asap kelabu hingga hitam tebal tinggi 200-1.500 m di atas puncak. Teramati aliran lava pijar sudah mencapai area lautan di sisi selatan,” demikian keterangan PVMBG, Minggu 23 Desember 2018.

Data tersebut dihitung pada Sabtu (22/12) pukul 12.00-18.00 WIB. Erupsi terbesar terjadi pada Sabtu sore, 22 Desember 2018. “Telah terjadi erupsi G. Anak Krakatau, Lampung pada tanggal 22 Desember 2018 pukul 17:22 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.500 m di atas puncak (± 1.838 m di atas permukaan laut),” demikian keterangan PVMBG.

Pada periode tersebut Gunung Krakatau terlihat jelas hingga kabut pada kategori 0-III. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna kelabu dengan intensitas tipis dan tinggi 50-100 m di atas puncak kawah.

- Advertisement -

Terdengar suara dentuman dan dirasakan getaran dengan intensitas lemah hingga kuat dipos Pengamatan Gunung Api Krakatau. PVMBG menyatakan saat ini Gunung Krakatau masuk kategori level II atau waspada. “Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2km dari kawah,” imbau PVMBG.

Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan gelombang tinggi di Anyer, Banten menyebabkan sejumlah bangunan rusak. Bangunan hotel di sekitar lokasi rusak dan listrik padam.

“Kita dapat laporan ada hotel yang rusak yang dekat pantai. Kemudian beberapa kendaraan terseret mengalami kerusakan. Kita dapat info listrik padam,” katanya, Sabtu 22 Desember 2018. Saat ini pihaknya masih melakukan pendataan terkait kerusakan akibat gelombang tinggi. “Masih dilakukan pendaataan,” tegas Sutopo.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, peristiwa gelombang tinggi yang terjadi di pesisir pantai Banten bukan dipicu karena gempa. “#BMKG tidak mencatat adanya gempa yang menyebabkan tsunami malam ini. Yang terjadi di Anyer dan sekitarnya bukan tsunami karena aktivitas seismik gempa,” demikian cuit BMKG.

BMKG menyatakan ralat atas cuitan dibuat karena ada emoticon yang tak tepat dan penegasan pernyataan. “Sedikit ralat tweet sebelumnya, karena ada emoticon yang kurang pas dan ada penegasan pernyataan,” kata BMKG.

Warga pun diimbau tidak mendekat ke Pantai Anyer maupun Pantai Lampung yang posisinya berada di Selat Sunda terkait tsunami di Banten dan Lampung. Sebab pemicu tsunami masih dalam penyelidikan.

“Masyarakat diharapkan tetap tenang tapi mohon jangan berada di pantai yang pantai Selat Sunda. Jadi jangan berada di pantai Selat Sunda, baik di wilayah Lampung, Banten, Serang. Jangan kembali dulu karena pemicunya (tsunami) ini masih diduga,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat.

BMKG masih melakukan pengecekan terkait terjadinya gelombang tsunami di kawasan Anyer dan Lampung. Dalam hal ini BMKG menduga tsunami terjadi akibat air pasang bersamaan dengan gelombang tinggi. Dwikorita mengatakan, tsunami yang terjadi di dua wilayah tersebut terjadi bukan diakibatkan karena gempa tektonik.

Hasil koordinasi dengan Badan Geologi, BKMG menduga tsunami terjadi akibat longsor erupsi anak Gunung Krakatau. “Biasanya ada gempa lebih dahulu baru terjadi tsunami. Tadi kami cek tak ada gelaja sesmisitas, Jadi tak ada gejala tektoknik yang memicu tsunami, sehinggga kami butuh waktu koordinasi dengan badan geologi bahwa diduga erupsi tersebut, kemungkinan bisa langusng atau tidak langsung memicu terjadinya tsunami,” ujarnya.

“Jadi sehingga kalau sudah terang apakah benar eruspi tadi mengakibatkan longsor. kami mencurigai longsor, karena pola grafik tsunaminya ini periodenya pendek seperti yang terjadi di Palu, akibat dipicu oleh longsor,” lanjut Dwikorita.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER