Kubu Oposisi Emosi Tim Petahana Juluki Orang yang sudah Wafat Sebagai Guru Korupsi

1006
Wasekjen DPP PDIP Ahmad Basarah (dok:wartabuana)

MONITOR, Jakarta – Partai Berkarya tidak terima atas pernyataan Wasekjen PDIP Ahmad Basarah, yang menyebut Presiden ke-2 RI, Soeharto, adalah guru korupsi di Indonesia.

Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso, bahkan kaget jika hal tersebut disampaikan tokoh sekaliber Mas Ahmad Basarah. Sebab menurutnya, Basarah biasanya bersikap negarawan dan juga dianggap sahabatnya sebagai Wakil Ketua MPR RI.

“Itu adalah pernyataan dan tuduhan yang keji. Saya agak kaget kalau itu disampaikan tokoh sekaliber Mas Ahmad Basarah. Pak Harto selama ini dikenal menjalani hidup yang cukup sederhana untuk ukuran presiden yang berkuasa selama 32 tahun,” ujarnya di Istana Kepresidenan, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis 29 November 2018.

Terlepas dari itu, Priyo menegaskan Soeharto belum terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Priyo pun enggan menyerang balik pernyataan Basarah dengan membuka aib Soekarno, Megawati Soekarnoputri, hingga Joko Widodo. Menurutnya, cara demikian tidaklah etis.

“Apakah dengan demikian kita nanti juga memborok-borok atau kemudian, sisi lain dari seluruh pemimpin? Bung Karno jasanya besar, saya nggak tega menyampaikan sisi-sisi sendu pada zaman pemerintahan beliau, bagaimana ada pengkhianatan PKI, bagaimana para ulama, Buya Hamka dipenjara. Apakah kita kembali ke sana? Apakah dengan demikian kita tergoda, menyorot kepemimpinan Bu Megawati?” katanya.

“Apakah saya tergoda untuk ikut meleceti pemerintahan Pak Jokowi? Selama ini saya kritik biasa-biasa saja. Tapi kalau genderang ditiupkan, apa boleh buat,” imbuh Priyo. Priyo juga belum mengetahui respons Ketum Berkarya Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto terkait pernyataan Basarah.

“Beliau sih orangnya sudah tidak mempan lagi untuk gampang kaget, gampang gumum terhadap kritikan atau tuduhan atau tudingan semacam itu. Mungkin beliau biasa-biasa saja. Dalam hati saya tidak tahu. Tapi saya ingin melihat konteksnya apa,” tuturnya.

Sementara itu, juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno, Faldo Maldini, jengkel mendengar pernyataan serangan dalam masa kampanye yang dilontarkan kubu Jokowi-Ma’ruf. Ia mengatakan, apa pun yang dikatakan timnya selalu salah di mata inkumben.

Faldo mensinyalir ada semacam dendam yang tak tuntas yang disimpan sejumlah orang dalam tim lawan terhadap Prabowo. “Jangan sampai personal things dibawa lah dalam hal semacam ini,” kata Faldo.

Faldo menganggap makin lama kampanye, serangan demi serangan terus dilancarkan. Bahkan, serangan tak hanya dilayangkan untuk capres dan cawapres, tapi juga orang-orang terdekatnya. “Mertua Pak Prabowo sudah (disindir), orang tuanya juga sudah, mantan istrinya (Titiek Soeharto) juga sudah. Nanti mungkin Bobby (kucing Prabowo) juga kena.”

Ia menyayangkan adu gagasan yang muncul baru-baru dalam masa kampanye makin tidak substansial. Soal korupsi, misalnya. Faldo membayangkan seharusnya korupsi dirembuk dengan serius. Dicari akar masalahnya hingga menghadirkan solusi pemerintahan yang bersih.

Apalagi, kata dia, baru-baru ini, rasuah kepala daerah yang diusung partai makin marak. Ia menyarankan ada pertemuan para elite partai, tim sukses, capres, dan cawapres untuk membicarakan bersama sistem yang akan diciptakan untuk pemerintahan yang bersih.

Ia mengimbau, para tim sukses meninggalkan isu-isu personal. Faldo mengklaim pembahasan-pembahasan yang hanya bersifat menyerang lawan itu sudah mulai ditinggalkan kubu Prabowo.

Sebelumnya Basarah mengatakan negara telah menetapkan pencanangan program pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dan disebutkan dalam TAP MPR Nomor 11 Tahun 1998 untuk melakukan penegakan hukum terhadap terduga pidana korupsi.

“Termasuk oleh Mantan Presiden Soeharto. Jadi, guru dari korupsi Indonesia sesuai TAP MPR Nomor 11 Tahun 98 itu mantan presiden Soeharto, dan itu adalah mantan mertuanya Pak Prabowo,” ujar Basarah di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat.