ULASAN

Capres Cawapres Berebut Suara di Pasar Tradisional

MONITOR – Blusukan ke pasar tradisional menjadi agenda favorit bagi capres nomor urut 01 Joko Widodo dan cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno. Keduanya tak lelah menyambangi para pedagang di sejumlah pasar tradisional, yang didominasi kalangan emak-emak. Bedanya, Jokowi seringkali memborong dagangan pedagang, sementara Sandi hanya menyerap aspirasi mereka.

Sejak dua bulan terakhir, pasar memang menjadi sasaran empuk bagi kedua kandidat tersebut untuk berkampanye. Keduanya terlihat saling bersaing memperebutkan suara rakyat kalangan menengah kebawah. Terlebih, isu ekonomi kini menjadi sorot perhatian publik.

Sandi, dengan gayanya yang khas, kerap menanyakan kepada masyarakat yang berkunjung ke pasar terkait harga bahan pangan pokok. Seperti, tahu, tempe, telur, daging dan kebutuhan lainnya. Seolah tak mau kalah, Jokowi pun bertandang ke pasar untuk menanyakan harga terkini yang dirasakan masyarakat di lapisan bawah. Hasilnya? Jokowi justru mendapati pengakuan masyarakat bahwa harga kebutuhan pangan pokok relatif stabil, meski beberapa ada yang naik.

Fenomena ini terjadi berulang kali. Sempat jengkel, Jokowi saat melakukan kunjungan ke Lampung pada Sabtu, 24 November 2018 lalu akhirnya menyindir bahwa ada orang kaya yang tidak pernah ke pasar, namun menyebut harga-harga kebutuhan saat ini mahal.

Tak asal bicara dan menuduh. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mencoba mewawancarai beberapa pedagang dan pembeli terkait harga-harga bahan makanan di pasar yang disebut mahal-mahal.

“Jangan lagi ada yang masuk ke pasar, enggak beli apa-apa, keluar pasar lalu bilang mahal-mahal. Orang enggak pernah ke pasar juga, tiba-tiba nongol di pasar, keluar-keluar bilang harga mahal,” kata Jokowi.

“Enggak mungkin orang super kaya, tiba-tiba ada datang ke pasar, enggak biasalah. Apalagi datang ke pasar, enggak beli apa-apa, tahu-tahu ini mahal, ini mahal,” sambungnya.

Pernyataan Jokowi pun disambut Sandi. Menurut Sandi, statemennya selama ini terlontar atas keluhan pedagang dan pembeli yang diserapnya. Misalnya, kata Sandi, keluhan di Pasar Besar Malang. Konglomerat berdarah Gorontalo ini mendapati pengakuan masyarakat bahwa harga jual dan harga naik 20-30 persen. Kenaikan itu sudah di luar batas kewajaran.

Sementara tudingan Jokowi soal orang kaya tidak pernah ke pasar, hanya ditanggapi santai. Sandi mengatakan, sejak tiga tahun dirinya menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), ratusan pasar telah dikunjunginya. Organisasi yang dinaungi Sandi, adalah mitra pemerintah yang selalu mengkritisi dan memantau peredaran harga di pasar.

Lantas, siapakah kandidat yang bakal meraup suara tinggi dari pedagang pasar dan para pembeli. Jokowi ataukah Sandi?

Recent Posts

Hadapi Kemarau 2026, Kementan Genjot Percepatan Semai, Olah Lahan dan Tanam Padi

MONITOR, Sukabumi - Kementerian Pertanian (Kementan) secara masif meluncurkan Gerakan Percepatan Semai, Olah Lahan, dan…

4 jam yang lalu

17 Jemaah Haji Jombang Mendapatkan Bantuan dari UEA

MONITOR, Jombang — Kementerian Haji dan Umrah terus mengawal fase kepulangan jemaah haji Indonesia hingga…

8 jam yang lalu

Puan: Pemulihan Pascagempa Sulteng Harus Berorientasi pada Pemulihan Kehidupan Warga

MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan keprihatinan atas musibah gempa bumi besar…

10 jam yang lalu

Jasa Marga Intensifkan Preservasi Rutin Jalan Tol untuk Tingkatkan Kelancaran, Keamanan dan Kenyamanan Perjalanan

MONITOR, Jakarta - Mengantisipasi lonjakan pengguna jalan pada periode libur sekolah, PT Jasa Marga (Persero)…

1 hari yang lalu

Empat Kali Penyelundupan Narkoba Digagalkan, Legislator Minta APH Bongkar Sindikat di Lapas

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI Abdullah menyoroti upaya petugas yang berhasil menggagalkan…

1 hari yang lalu

Kementerian UMKM Perkuat Promosi Wastra Kalimantan Timur

MONITOR, Balikpapan – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus mendorong perluasan pasar bagi…

1 hari yang lalu