Circular Economy dan Industri 4.0 untuk Pembangunan Kawasan SAMOTA NTB

1013
Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Kawasan SAMOTA (teluk Saleh pulau Moyo dan Tambora) di Mataram, NTB, Kamis (22/11/2018).

MONITOR, Mataram – Pakar Ekonomi Kelautan dan Guru Besar Fakultas Perikanan IPB, Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan strategi terobosan pembangunan Kawasan Teluk Saleh, Pulau Moyo dan Tambora atau SAMOTA di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui pendekatan Circular Economy dan Industry 4.0.

“Aplikasi Circular Economy dan Teknologi Berbasis Industri 4.0 diyakini mampu menjadikan kawasan SAMOTA sebagai pusat daya saing, pertumbuhan ekonomi yang inklusif (berkualitas), dan kemakmuran baru bagi Provinsi NTB pada khususnya, dan NKRI pada umumnya secara adil dan berkelanjutan (sustainable),” katanya saat menjadi keynote speech “Strategi Terobosan Pembangunan Berkelanjutan dan Berkatahanan Perubahan Iklim” pada Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Kawasan SAMOTA (teluk Saleh pulau Moyo dan Tambora), Provinsi NTB di Hotel Lombok Raya, Mataram yang diselenggarakan oleh Bappeda Provinsi NTB, Kamis (22/11/2018).

Circular Economy sendiri menurut Duta Besar Kehormatan Jeju Island Korea Selatan itu adalah konsep inovatif dan revolusioner yang menentang proses manufaktur dan konsumsi tradisional. Keberhasilan penerapan konsep circular economy dapat membantu pembuatan produk dan layanan menggunakan inovasi yang membantu memaksimalkan efisiensi penggunaan sumber daya. Circular Economy memperpanjang masa pakai produk, penggunaan kembali dan daur ulang untuk mengubah limbah menjadi produk dan kekayaan yang bermanfaat.

“Ini adalah sistem ekonomi yang tidak menghasilkan limbah dan tanpa emisi; namun menghasilkan lebih banyak barang dan jasa, menciptakan lebih banyak kesempatan kerja, menyumbang modal sosial, dan tidak memerlukan biaya yang lebih tinggi. Paradigma ekonomi melingkar akan membangun ekonomi rendah karbon, hemat sumber daya, dan kompetitif di abad ke-21,” terang Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu.

Rokhmin Dahuri membeberkan saat ini pembangunan kawasan SAMOTA dihadapkan pada berbagai isu dan tantangan diantaranya Konektivitas dan Aksesibilitas yang tidak merata, Infrastruktur wilayah masih buruk, Pelayanan dasar yang tidak merata, Masih maraknya praktik ilegal khususnya IUU Fishing, Terbatasnya SDM unggul, Pemanfaatan SDA lokal belum optimal, Sektor industri dan jasapada umumnya tradisionaldan kurang produktif, Anggaran pembangunan terbatas, Suku bunga masih tinggi dan persyaratan susah (sulit), Regional leakages, Global Climate Change dan Bencana Alam lainnya, dan Kebijakan politik-ekonomikurang kondusif.

Atas dasar berbagai permasalahan diatas, Rokhmin Dahuri merekomendasikan berbagai Kebijakan dan Pembangunan Kawasan SAMOTA yaitu :

  1. Penyusunan (penyempurnaan) dan implementasi RTRW kawasan SAMOTAberbasis Perubahan Iklim dan Bencana Alam lain: (1) minimal 30% total luas wilayahnya untuk kawasan lindung berupa hutan lindung, RTH, kawasan bencana, situs budaya, sempadan pantai (set back zone), dll; (2) 70% wilayah sisanya untuk kawasan pembangunan (seperti industri manufaktur, industri kreatif, pariwisata, perikanan, pertanian, pelabuhan, perkantoran, pemukiman, dan kota); dan (3) jaringan transportasi, drainasi dan irigasi, listrik, telkom, internet, air bersih, pengelolaan limbah (waste management), dll.
  2. Revitalisasi sektor-sektor ekonomi yang ada (existing) supaya lebih produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, ramah lingkungan (low carbon dan less waste), dan berkelanjutan (sustainable).
  3. Pengembangan sektor-sektor dan kawasan-kawasan ekonomi baru yang produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, ramah lingkungan, dan sustainable.
  4. Revitalisasi dan pengembangan sektor-sektor ekonomi pada butir-2 dan 3 diatas harus menerapkan: (1) economy of scale; (2) integrated supply-chain management system (hulu – hilir secara terpadu); (3) hilirisasi sektor SDA; (4) teknologi mutakhir di setiap rantai suplai (Industri 4.0 ); dan (5) ramah lingkungan (sustainable).
  5. Tata kota: layout, landscape, taman kota, gedung, dan bangunan lain mesti dibuat low carbon, bersih, sehat, indah, asri, nyaman, dan amanàSehingga menjadi tempat tinggal yang menyenangkan dan membahagiakan.
  6. Pengembangan dan penggunaan renewable energy (angin, tenaga air, matahari, bioenergy, ocean energy, dan geothermal) untuk semua sektor pembangunan (B-20).
  7. Revitalisasi dan pembangunan infrastruktur baru untuk mendukung pembangunan ekonomi dan industri serta aktivitas manusia lainnya berbasis.
  8. Manajemen transportasi: angkutan umum (bus), terminal, halte, dan gunakan energi bersih.
  9. Smart building: efisien energi, gunakan energi bersih (solar, angin, biofuel, fuel cell, dll), tempat parkir undergound, dll.
  10. Pengembangan dan penggunaansejumlah pendekatan dan teknik mitigasi dan adaptasi terhadap Global Climate Change, tsunami, banjir, dan bencana alam lainnya.
  11. Pastikan bahwa semua kegiatan ekonomi, industri, dan bisnis, keuntungannya sebagian besar untuk kemajuan dan kesejahteraan warga Kawasan SAMOTAdan Provinsi NTB dengan cara: (1) capacity building dan pemberian aset ekonomi produktif (modal/kredit perbankan, infrastruktur, teknologi, pasar, dan informasi) kepada masyarakat lokal agar mampu membangun desa dan berbisnis yang menguntungkan (contoh Semaul Undong, Korsel); (2) perusda/BUMD; dan (3) pola kemitraan korporasi besar (nasional atau asing) dengan masyarakat lokal dan pemerintah (BUMD) yang saling menguntungkan untuk investasi berskala besar dan modern yang ramah sosbud dan lingkungan dengan pola KEK (Kawasan Ekonomi Khusus), Kawasan Industri, atau “Big Push Development Model” lainnya.
  12. Iklim investasi dan kemudahan berbisnis yang kondusif: (1) perizinan yang mudah, cepat, dan murah; (2) konsistensi kebijakan; (3) kepastian hukum, (4) ketenagakerjaan yang produktif, beretos kerja unggul, dan berakhlak mulia; (5) pajak dan retribusi yang kompetitif, dll.
  13. Pembangunan SDM berkualitas yang mampu mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan dan berketahanan iklimmelalui program DIKLATLUH (Pendidikan, Pelatihan, dan Penyuluhan) yang benar, tepat, dan berkelanjutan àrevitalisasi dan pembangunan BLK sesuai potensi dan kondisi lokal, sekolah vokasi dan politeknik.
  14. Penguatan dan pengembangan lembaga serta aktivitas R & D supaya mampu menghasilkan inovasi teknologi dan non-teknologi untuk mendukung kegiatan pembangunan, investasi, dan bisnis yang produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, berketahanan iklim, dan berkelanjutan.
  15. Kebijakan politik-ekonomi yang kondusif.

Adapun untuk program pembangunan prioritas Kawasan SOMATA berdasarkan potensi yang dimilki, Rokhmin Dahuri yang juga Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia itu menekankan pada lima potensi meliputi Perikanan Tangkap, Perikanan Budidaya, Industri Pengolahan Hasil Perikanan, Industri Bioteknologi Kelautan, dan Pariwista Bahari.

“Dengan mengimplementasikan StrategiPercepatan Pengembangan Investasi BerbasisKelautan seperti diatas, Insha Allah pada 2025 Kawasan SAMOTA menjadi Kawasanyang maju, sejahtera, berdaya saing, dan mandiri serta pada 2030 Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia,” pungkasnya.