Perut Paus Sperma yang Mati Berisi Sampah, Bukti Minimnya Kesadaran Kebersihan

1030
Paus Sperma yang ditemukan mati di Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara

MONITOR, Jakarta – Minimnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan terutama soal kebersihan, membuat permasalahan sampah seolah tiada habisnya.

Saluran air atau sungai, seringkali dijadikan tempat pembuangan sampah oleh masyarakat. Akibatnya, lingkungan tidak hanya kotor atau bau. Saat hujan turun, seringkali banyak saluran yang tersumbat sampah hingga menyebabkan banjir.

Bukan itu saja, banyaknya sampah yang terdapat dialiran kali dan sungai kemudian terbawa hingga ke laut atau pantai. Akibatnya, kehidupan mahluk hidup di laut pun terganggu karena banyaknya sampah.

Seperti terjadi baru-baru ini di Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin, 19 November 2018. Seekor paus sperma (Physeter macrocephalus) yang ditemukan terdampar di pulau itu. Ironisnya, isi perut bangkai paus berisi sampah plastik.

Selain itu, hasil identifikasi tim dari Balai Taman Nasional Wakatobi, di dalam perut bangkai paus tersebut ditemukan banyak sampah kayu dan karet.

Staf World Wildlife Fund (WWF) menemukan bangkai paus tersebut. Penemuan tersebut kemudian dilaporkan ke Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wakatobi Wilayah I Wangi-Wangir.

Kemudian tim Taman Nasional bersama WWF, dan tim dosen Akademi Komunikasi Kelautan dan Perikanan (AKKP) Wakatobi, datang ke lokasi penemuan bangkai paus sepanjang 9,5 meter dan lebar 4,37 meter itu. Saat tim datang ke lokasi, bangkai sudah mulai membusuk.

Walau penyebab kematian belum teridentifikasi secara pasti, namun temuan banyaknya sampah di perut paus tersebut seolah menjadi peringatan akan besarnya dampak negatif sampah bagi mahluk hidup.

Hasil identifikasi tim menemukan berbagai sampai di dalam perut paus tersebut. Di antaranya, yaitu gelas plastik seberat 750 gram (115 buah), plastik 140 gram (19 buah), botol plastik seberat 150 gram (4 buah), kantong plastik seberat 260 gram (25 buah).

Selain itu juga ada sampah kayu seberat 740 gram (6 potong), sandal jepit dua buah dengan berat 270 gram), karung nilon seberat 200 gram (1 potong), dan tali rafia seberat 3,2 kilogram (lebih dari 1.000 potong).

“Total sampah mencapai 5,9 kilogram” ujar Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi Heri Santoso dalam keterangannya, Senin, 19 November 2018.

Heri mengatakan, bangkai paus rencananya akan dikubur hari ini di sekitar Pantai Kolowawa, DesaKapota Utara. Menurut dia, penguburan akan dilakukan saat air pasang untuk memudahkan menarik bangkai ke darat.

“Adanya indikasi kematian disebabkan oleh asupan cemaran plastik sampah tersebut bisa saja terjadi, namun tidak dapat dipastikan karena tidak dilakukan pengamatan yang komprehensif, di antaranya disebabkan kondisi paus sudah kode 4 (pembusukan tingkat lanjut), kondisi paus yang sudah tidak utuh,” tambah Marine Species Conservation Coordinator WWF Indonesia, Dwi Suprapti, Selasa 20 November 2018.

WWF belum bisa menyimpulkan apakah sampah plastik jadi penyebab utama kematian paus tersebut. Dwi juga tak mengetahui persis kondisi sebaran sampah dalam tubuh paus itu.

“Sebab, dalam beberapa kasus, mekanisme tubuh makhluk hidup dapat mengeluarkan benda asing secara natural, asalkan jumlahnya tidak banyak, tidak menyumbat saluran pencernaan, serta tidak menginfeksi atau bahkan meracuni tubuhnya,” kata Dwi.

Senada dengan WWF, LIPI juga tak bisa menyimpulkan apakah sampah tersebut adalah penyebab utama kematian paus itu. Walau begitu, tetap saja sampah plastik tergolong benda yang tak bisa dicerna.

“Plastik itu kan susah (hancur), kalau sampah organik mungkin bisa. Berbeda misalnya dengan tanduk hewan. Walaupun keras, itu kan zat kapur, sehingga bisa dicerna. Seperti kita makan tulang ikan, tetap bisa dicerna kan?” kata Kapus Penelitian Laut Dalam LIPI Dr Ir Augy Syahailatua kepada detikcom.

Walau bukan penyebab utama di kasus ini, tapi sampah-sampah yang terbawa arus laut bukan kali ini saja ditemukan di tubuh satwa laut. Augy mengungkap, kasus serupa banyak ditemukan oleh LIPI. “Di berbagai jenis ikan, termasuk di tuna juga pernah kita temukan,” ujar Augy.

Sampah, kata Augy, bisa bersarang di pencernaan satwa seperti paus. Selain itu bisa juga tersangkut di insang tapis satwa air raksasa tersebut. “Kalau paus kan makanannya bukan binatang, tapi plankton. Jadi semua bisa masuk, termasuk sampah,” kata Augy.

Penemuan sampah dalam perut paus tetap saja sebuah tragedi, walau belum tentu penyebab utama kematiannya. Dari sini terlihat betapa tercemarnya lautan oleh ulah manusia.