Fahri Sesalkan Income per Kapita Indonesia Masih Rendah

1015
Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah (dok: Rangga Monitor)

MONITOR, Kota Binjai – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengatakan Indonesia adalah suatu bangsa yang lahir dari kegiatan berfikir sekelompok orang yang awalnya terbatas.

Tetapi lama kelamaan, justru menjadi gelombang yang menabrak lintas batas primordial yang pada akhirnya menjadi perasaan dan fikiran bersama.

“Karena Indonesia lahir dari proses berfikir, maka krisis yang paling besar di republik ini, tidak akan terjadi akibat krisis ekonomi. Kenapa? karena ekonomi di Indonesia ini masih ruler ekonomi, bahkan ekonomi berbasis sumber daya alam,” kata Fahri dalam keterangan tertulisnya dalam acara Deklarasi Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) Kota Binjai, Sumatera Utara, di Koetaradja Coffee, Sabtu (19/11),

“Saya baru menulis buku yang judulnya itu ‘Mengapa Indonesia Belum Sejahtera’, disamping kalau kita membandingkan secara statistik, memang Indonesia masuk ke dalam kategori belum sejahtera,” tambahnya.

Masih dikatakan politikus PKS itu, jika dibandingkan dengan negara-negara yang merdeka bersamaan dengan Indonesia, income per capita negara Indonesia masih terkategori rendah, hanya 3800 atau maksimal 4000 US Dollar per tahun per orang, yang jika dirupiahkan belum mencapai 50 juta per tahun per orang.

“Bahkan ada yang lebih rendah dari pada itu. Itu rata-rata, dan, kalau ada yang rata-ratanya segitu artinya ada yang 20, ada yang 10 dan seterusnya ke bawah. Sementara negara seperti Malaysia sudah belasan sekarang, Thailand sudah 8 ribu, dan bahkan Vietnam yang baru sudah 6 ribu,” terang dia.

“Kalau kita sebut China, negara itu sudah 15 ribu, Korea Selatan sudah 24 ribu. Apalagi Singapur sudah 50-an ribu, begitu juga Jepang yang pada saat kita merdeka, mereka dihujani bom atom yang menghancurkan Hirosima dan Nagasaki, mereka 40.400, sementara kita masih 3800,” bebernya.

Oleh karena itu, lanjut Fahri, dalam kategori itu memang angka secara statistik Indonesia masih rendah sekali. Tetapi, orang Indonesia sulit kalau misalnya sampai bernasib seperti Venezuela atau negara-negara Amerika Latin sekarang, yang tidak ada lagi listrik.

“Rasanya kalau kita ini, diantara sebabnya kita nggak merasa miskin itu adalah karena kemiskinan itu disedot dalam satu sistem yang luar biasa. Saya sering katakan bahwa agama yang membuat kita merasa tidak pernah miskin, karena selalu mengajarkan untuk bersyukur dan menerima keihdupan ini apa adanya,” pungkasnya.