PARLEMEN

Mahyudin Sebut Rendahnya Pendidikan dan Kemiskinan Bagai ‘Saudara Kandung’

MONITOR, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI Mahyudin menyoroti terkait kondisi rendahnya tingkat pendidikan dan kemiskinan yang saat ini masih menjadi permasalahan bagi bangsa dan negara.

Tolak ukurnya, sambung dia, jika masyarakat pendidikannya sudah baik dan sudah tidak miskin, maka tidak akan terdengar lagi rakyat Indonesia menjadi pekerja kasar di negara orang bahkan sampai mendapatkan perlakuan tidak layak. Juga tidak akan terdengar lagi ‘kawin kontrak’ atau ‘pengantin pesanan’ karena desakan ekonomi.

“Soal-soal seperti ini memang sangat mengkhawatirkan kita semua. Maka dari itu saya pribadi dan sebagai pimpinan MPR juga sebagai wakil rakyat sangat mendukung berbagai upaya antara lain karya-karya tulis yang mengangkat masalah yang nyata terjadi di masyarakat seperti kemiskinan dan terbatasnya rakyat menikmati pendidikan yang berkualitas,” kata Mahyudin, dalam diskusi ‘Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat’ membahas buku berjudul ‘Pengantin Pesanan’ karya Mya Ye, di Ruang Presentasi, Perpustakaan Setjen MPR RI, Gedung Nusantara IV, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Kamis (15/11).

Ia menjelaskan, permasalahan seputar pendidikan dan kemiskinan bagai ‘saudara kandung’ merujuk pada buku ‘Pengantin Pesanan’ karya Mya Ye. Potret buram yang dialami sebagian rakyat Indonesia terpapar baik secara jelas dan tersirat di buku tersebut.

“Awalnya saya tidak paham apa yang mau disampaikan dalam buku tersebut. Tetapi, setelah saya membacanya, buku ini ternyata sarat akan pesan moral, sosial, kesetaraan gender dan terutama sekali pergulatan moral yang berawal dari isu kemiskinan yang memang masih terjadi di tengah masyarakat kita,” terangnya.

“Kisah dalam buku tersebut menceritakan seorang perempuan keturunan, berlatar daerah Singkawang karena kemiskinannya dan berpendidikan minim, tak ada pilihan memperbaiki kehidupan kecuali menjadi pengantin pesanan sebagai satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan,” tambah politikus Golkar itu.

Oleh karena itu, Mahyudin menegaskan, fenomena pengantin pesanan memang bukanlah budaya daerah tersebut, melainkan fenomena yang muncul karena kemiskinan dan kurangnya pendidikan dan fenomena-fenomena tersebut juga ada di daerah-daerah lain, bahkan terjadi juga di negara-negara berkembang lainnya.

Sebab masalah kemiskinan dan minimnya pendidikan adalah masalah besar dan sangat dilematis buat negara-negara berkembang.

“Keterkaitan antara pendidikan dan kemiskinan sangatlah besar, sebab pendidikan yang baik akan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan,” ujarnya.

“Pendidikan juga menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat manusia dan semua itu penting untuk menggapai masa depan,” sebut dia.

Pada intinya adalah, lanjut Mahyudin, rakyat Indonesia harus bersemangat untuk terus melakukan berbagai upaya mencerdaskan bangsa dan terus memperjuangkan keadilan dalam memperoleh pendidikan dan terutama pemerintah harus berada di garda terdepan untuk mewujudkan itu semua.

Dalam kesempatan yang sama, penulis Pengantin Pesanan, Mya Ye memaparkan kejadian penganti pesanan yang marak terjadi di daerah Singkawang, Kalimantan Barat, beberapa tahun lalu menginspirasi dirinya untuk menuangakanya dalam sebuah novel.

Dibeberkan Mey Yen bahwa proses kreatif novel Pengantin Pesanan yang ditulisnya, merupakan sebuah perjalanan yang sangat panjang. Tepatnya dimulai dari tahun 1011, ketika dirinya ke Singkawang.

“Di sana saya berkenalan dengan banyak orang dan menemukan hal-hal baru yang sangat menarik. Penemuan menarik ini berbuah ‘investigasi’ lanjutan seputar kehidupan pengantin pesanan. Investigasi yang menurut saya sangat sulit karena kisah ini seperti tertutup bagi orang luar,” pungkasnya.

Recent Posts

Kementerian UMKM dan BPOM Percepat Akses Perizinan UMK Pangan Olahan

MONITOR, Jakarta - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama Badan Pengawas Obat dan…

1 jam yang lalu

HUT ke-79 Kemnaker Jadi Momentum Perkuat Vokasi dan Transformasi Green Office

MONITOR, Jakarta — Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjadi momentum memperkuat transformasi…

2 jam yang lalu

Milenial dan Gen Z Dominasi Pemilih 2029, Komisi II DPR Dorong Regulasi Pemilu Berbasis Digital Termasuk Soal AI

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi II DPR RI, Muhammad Khozin menyoroti data terbaru dari Komisi…

4 jam yang lalu

Gus Hery Puncaki Polling Caketum PBNU Versi NU Online, Jadi Kuda Hitam Muktamar ke-35?

MONITOR, Jakarta - Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35…

5 jam yang lalu

Legislator Geram Pakan Satwa KBS Dikorupsi: Hak Hewan Saja Diambil, Keji dan Tak Punya Hati Nurani

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan geram dengan praktik kasus korupsi…

5 jam yang lalu

Kementerian UMKM dan APSKI Perkuat Ekosistem Kewirausahaan Perguruan Tinggi

MONITOR, Kuta — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran perguruan…

11 jam yang lalu