Istilah ‘Budek-Buta’ Ma’ruf Amin jadi Bola Panas

Wakil Presiden RI KH Ma'ruf Amin (foto: Liputan6)

MONITOR – Publik tengah ramai mempersoalkan istilah nyentrik yang diucapkan cawapres pendamping Jokowi, KH. Ma’ruf Amin, belakangan ini. Dalam suatu kesempatan, Ketua Umum MUI itu mengatakan prestasi kinerja pemerintahan Jokowi dalam periode ini cukup terlihat. Akan tetapi, prestasi itu dikatakan Ma’ruf tidak akan terlihat nyata bagi orang-orang yang ‘budek-buta’.

“Orang sehat bisa dapat melihat jelas prestasi yang ditorehkan oleh Pak Jokowi, kecuali orang budek saja tidak mau mendengar informasi dan kecuali orang buta saja tidak bisa melihat realitas kenyataan,” kata Ma’ruf Amin saat sambutan deklarasi Barisan Nusantara, di Jalan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11) kemarin.

Budek, dalam bahasa Jawa, mengandung makna tidak mampu mendengar alias tuli. Pada konteks ini, Ma’ruf ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang sengaja tidak mau melihat dan mendengar kebenaran, maka ia ibaratkan seperti orang yang budek dan buta.

Sayangnya, pernyataan Ma’ruf oleh sejumlah kalangan diangap menghina para penyandang disabilitas atau golongan yang kurang mampu. Ma’ruf pun heran, padahal jelas-jelas pernyataannya itu termuat dalam ayat Al-quran.

“Artinya orang yang tak mendengar, orang yang tak mau melihat, yang tak mau mengungkapkan kebenaran itu namanya bisu, budek, buta. Jadi itu bahasa ‘kalau’ ya. Saya tak menuduh orang, atau siapa-siapa. Saya heran, kenapa jadi ada yang tersinggung. Tak menuduh dia kok,” ujar Ma’ruf.

Hal senada juga diungkapkan Sekjen PSI Raja Juli Antoni. Toni, demikian sapaannya, menganggap bahwa istilah ‘budek-buta’ yang dilontarkan Ma’ruf Amin bukanlah mengandung unsur menyinggung fisik kalangan disabilitas.

“Kyai Ma’ruf adalah ulama besar. Ulama yang sudah ‘mapan’ secara spiritual dan emosional. Jadi tidak ada kemarahan dalam nada bicaranya ketika mengatakan ‘budek dan buta’,” ujar Toni membela pernyataan Ma’ruf.

Dalam bahasa AL-quran, dikatakan Toni bahwa istilah ‘budek-buta’ itu dipakai untuk mendeskripsikan orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran mesti sudah berulang-ulang kali sudah didakwahkan. “Dalam Surat Al-Baqarah ayat 18 Allah berfirman: Mereka pekak, bisu, buta maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),” jelasnya.

Toni juga menegaskan, bahwa istilah tersebut tak laik dipersoalkan sebab sejatinya Ma’ruf Amin ingin berbicara soal konteks sosial dan politik. Pada ayat itu, jika dikaitkan dengan konteks Indonesia, Toni menggambarkannya bahwa ada orang-orang yang tidak menerima fakta keberhasilan pembangunan yang dilakukan Pak Jokowi. Bahkan mereka memanipulasi data hanya untuk mencerca dan mendelegitimasi pemerintah.