Kementan dorong Pengembangan Bawang Putih Nasional

MONITOR, Surakarta –┬áDalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan komitmennya mengembalikan kejayaan bawang putih nasional. Indonesia tercatat pernah mencapai swasembada bawang putih pada era 1994-1995. Saat itu, produksi bawang putih nasional mencapai 152 ribu ton, dan luas areal tanam 21 ribu hektar lebih.

Derasnya arus impor bawang putih khususnya dari China membuat produk lokal dari tahun ke tahun tergerus hingga tersisa hanya sekitar 2 ribu hektar atau produksi 20 ribu ton per tahun. Padahal kebutuhan nasional lebih dari 500 ribu ton setahun.

“Tragisnya lagi, keterpurukan produksi bawang putih lokal diikuti dengan minimnya riset atau penelitian ilmiah tentang bawang putih di Indonesia, hingga tertinggal lebih dari 20 tahun,” demikian disampaikan Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto, saat menyampaikan keynote speech pada Seminar Nasional II di Auditorium Pascasarjana UNS Surakarta, Sabtu (27/10). Seminar mengambil tema Membangkitkan Perilaku Kecendekiawanan dan Bela Negara Mahasiswa Pascasarjana dan diikuti ratusan peserta.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat yang akrab dipanggil Anton tersebut mengatakan, kendala utama dalam upaya membangkitkan kembali bawang putih nasional adalah ketersediaan benih, dan melatih serta memotivasi kembali petani yang sudah lama ‘tiarap’ tidak menanam bawang putih lagi. Dari sisi lahan kita sangat tersedia.

“Potensi sumberdaya lahan yang cocok untuk bawang putih sementara teridentifikasi lebih dari 725 ribu hektar yang tersebar di 51 Kabupaten. Untuk mencapai swasembada butuh areal 78 ribu hektar sampai tahun 2021,” tambah Anton.

Terkait kekurangan benih, Anton menyebut Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai upaya percepatan penyediaan benih. Menteri Pertanian Amran Sulaiman telah menerjunkan tim ke berbagai negara seperti China, Taiwan, India dan Mesir untuk mencari benih yang bisa ditanam di Indonesia. Selain mengoptimalkan produksi benih lokal, Kementan juga mengijinkan penggunaan benih impor asal Taiwan varietas GBL yang telah diuji cocok ditanam di Indonesia.

Saat disinggung apakah bawang putih lokal nantinya bisa berkompetisi dengan bawang putih impor, Prihasto menjawab optimis. “Saat ini memang biaya pokok produksi petani kita masih di kisaran Rp 11 ribuan per kilogram. Sementara di China hanya 5 ribuan rupiah. Di India malah lebih rendah lagi hanya 2 ribuan. Tapi bukan berarti produk kita menjadi tidak kompetitif. Kita punya keunggulan komparatif spesifik, salah satunya aroma yang lebih kuat”, ujar Prihasto.

“Kementan sangat menyadari pentingnya aspek kompetitif ini, dan terus mendorong agar biaya produksi bisa ditekan. Benih sebagai komponen biaya produksi terbesar terus diupayakan ditekan harganya. Akhir 2017 lalu harga benih mencapai 60 ribu – 70 ribu per kilo. Produktivitas rata-rata kita baru 8-9 ton per hektar. Kalau kita bisa tekan harga benih menjadi 30 ribu lalu produktivitas dinaikkan dari 8 ton/hektar menjadi 10 ton/hektar, maka biaya produksi bisa kita efisienkan menjadi hanya 7 ribuan per kilo. Dengan harga tersebut kita bisa lebih kompetitif nantinya”, sambung Prihasto.

Lebih lanjut Prihasto mengajak perguruan tinggi dan lembaga penelitian pertanian untuk bisa menghasilkan teknologi budidaya bawang putih yang berdayasaing. “Nyatanya, hasil penanaman varietas Tawangmangu Baru (TMB) yang ditanam di Tawangmangu Karanganyar dengan perawatan intensif mampu menghasilkan bawang putih dengan produktivitas 26 ton/hektar. Rata-rata di petani Tawangmangu bisa 16-18 ton per hektar,” kata Anton.

“Artinya Indonesia sesungguhnya bisa swasembada bawang putih kok, tergantung komitmen dan mental optimisme kita sendiri. Pepatah bijak mengatakan “If there us a will there is a way”, pungkasnya optimis.