Senin, 20 September, 2021

Ikhtiar Pemerintah bangun Lumbung Pangan Dunia 2045

MONITOR, Barito Kuala – Ada banyak stand pameran berjejer rapi di lokasi Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 yang diselenggarakan di desa Jejangkit Muara, Kec. Jejangkit, Kab. Barito Kuala. Stan-stan ini diisi oleh sejumlah instansi, baik pemerintah maupun swasta.

Terhitung, ada sebanyak 19 macam instansi pertanian dan pangan yang membuka stan. Beberapa yang dipamerkan meliputi berbagai alat-alat pertanian, hasil panen, toko tani, bibit, ternak ikan, bagan produksi panen dan banyak lainnya.

Sementara di lokasi pembukaan HPS , panitia secara apik menyiapkan susunan buah nanas dan jeruk raksasa yang tersusun dari 3000 jeruk dan 4200 nanas. Bahkan, konsep tarian untuk menyambut peserta HPS 2018 mengusung konsep penghapusan kelaparan.

Susunan buah nanas raksasa di sekitar lokasi pembukaan HPS ke-38

- Advertisement -

Konsep ini sesuai dengan tema World Food Day tahun 2018 yang digagas oleh organisasi pangan dan pertanian dunia yakni “Our Actions are Our Future, A Zero Hunger World by 2030 is Possible”. Dalam hal ini, pemerintah pun bertekad menjadikan lahan rawa sebagai penjamin ketersediaan pangan masa depan, ditengah pesatnya pertumbuhan penduduk dan menyusutnya lahan pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahkan optimis, lahan rawa adalah masa depan pangan bangsa Indonesia khususnya di masa paceklik. Dengan terobosan baru ini, Amran yakin Indonesia mampu menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2045.

“Optimalisasi lahan rawa adalah bagian dari komitmen pemerintahan Jokowi-JK untuk menjaga kebutuhan pangan kita dengan meningkatkan produktivitas pertanian. Bahkan, untuk visi yang lebih besar yakni lumbung pangan dunia di 2045,” ujar Amran.

Hamparan lahan rawa yang siap menjadi lahan produktif panen

Optimisme Amran ini bukan tanpa alasan. Dari data Kementan, luas lahan rawa di Indonesia diperkirakan mencapai 34,1 juta hektare yang terdiri dari sekitar 20 juta hektare lahan rawa pasang surut, dan lebih dari 13 juta hektare lahan rawa lebak. Lahan ini tersebar rersebar di 18 provinsi, atau 300 kabupaten/kota. Dari jumlah itu, 9,52 juta hektare diantaranya bisa dikembangkan untuk pertanian.

Pembukaan lahan rawa ini dilengkapi dengan pembangunan irigasi dan penerapan mekanisasi pertanian modern. Sejumlah tantangan seperti menjaga level air dilakukan dengan pompanisasi, begitu juga pengapuran untuk mengatasi kadar asam yang tinggi, dan beberapa intervensi untuk percepatan pembusukan jerami.

KRPL DKPP Barito Kuala

Optimalisasi lahan rawa juga tidak terlepas dari penggunaan varietas unggul baru (VUB) padi yang adaptif untuk rawa, dipadukan dengan teknologi budidaya yang tepat. Sebanyak 35 varietas padi unggul adaptif lahan rawa pasang surut dan rawa lebak dengan berbagai sifat keunggulan termasuk yang banyak dikembangkan antara lain inbrida padi rawa (Inpara) yaitu Inpara 2, Inpara 3, Inpara 8 dan Inpara 9, dan padi sawah irigasi/tadah hujan yang juga ditanam varietas adalah Inpari 32, Inpari 40 dan Inpari 42 Agritan.

“Peringatan HPS ke-38 tak boleh sekedar seremonial, tetapi harus menjadi momentum penting untuk perkenalkan kepada dunia akan kemajuan teknologi pertanian, terutama keberhasilan Indonesia memanfaatkan lahan rawa pertanian produktif,” tegas Amran.

Sebagai upaya mendukung pembukaan lahan, pihak Kementerian Pertanian juga membangun sistem irigasi, pintu air, dan mekanisasi pertanian terutama diantaranya eskavator sebanyak 40 unit.

Kementerian Pertanian juga memberikan sarana prasarana pertanian seperti alsintan

Kepercayaan pemerintah menetapkan Kalimantan Selatan sebagai tempat penyelenggara HPS sekaligus lokasi percontohan pengembangan lahan rawa ini disikapi Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor, secara serius dengan melaksanakan pembangunan infrastruktur termasuk penambahan jaringan listrik dan sarana penerangan di wilayah Jejangkit Muara.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER