Kubu Prabowo Kritik Kenaikan BBM, Hanura : Jangan Ngoceh Kalau Gak Paham

MONITOR, Jakarta – Juru bicara tim pemenangan Prabowo-Sandi Dahnil Anzar Simanjuntak mengkritik kebijakan pemerintah terkait naiknya harga BBM non subsidi jenis pertamax dan lain-lain. Senada dengan Dahnil, wakil ketua DPR RI yang juga politikus partai gerindra, Fadli Zon bahkan menilai kenaikan harganya tinggi sekali.

Menanggapi kritikan kubu Prabowo tersebut, ketua Fraksi Hanura DPR-RI, Inas N Zubair mengatakan jika kritik tersebut tidak mendasar alias dangkal. Inas bahkan meminta kubu oposisi tidak asal bicara jika tidak memahami persoalan secara utuh.

“Jubir Prabowo Sandi ngoceh kalu harga Petramax gak berfihak kepada masyarakat, apalagi Fadli Zon bilang, naik-nya tinggi sekali, apa bener tuh? atau hanya kumur-kumur doang?,” kata Inas dalam keterangan tertulis yang diterima MONITOR, Kamis (11/10).

Inas menegaskan, Jubir Prabowo Sandi dan Fadli Zon tidak faham jika Pertamina dalam menghitung harga BBM berdasarkan rata-rata 3 bulan terakhir, dan rata-rata harga MOPS Mogas 92/Petramax pada periode Ags 2018–Okt 2018 sebesar USD. 88.67 per barel.

“Kalau rata-rata kurs dollar Ags 2018-Okt 2018 Rp. 14,800.-, maka rata-rata harga pokok Petramax di bulan Okt 2018 adalah 88.67 X Rp. 14,800.- / 159 = Rp. 8,254.-,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Inas ada PPN 10% dan PBBKB 5% dari harga pokok tersebut, maka diperoleh angka Rp. 1,238.- serta biaya distribusi plus penyimpanan adalah Rp. 830,- per liter, maka harga keekonomian premium pada bulan Oktober 2018 seharusnya adalah Rp. 10.322.- per liter,

“Tapi ini belum termasuk margin Pertamina lho! jadi naiknya Petramax menjadi Rp. 10,400.- adalah wajar dong? mosok demi pencitraan lalu Tim Prabowo Sandi mau bikin Pertamina bangkrut? Edan tenannn!,” tandasnya.

“Jadi, jangan ketinggian menghayal pengen jadi Presiden, kalau perkembangan ekonomi dunia aja gak tau,” pungkas Inas.